Bintara Remaja Ditsamapta Polda Sumbar: Antara Tugas dan Harapan Generasi
Langkah-langkah mantap para Bintara Remaja (Baja) angkatan 54/58 Ditsamapta Polda Sumatera Barat memenuhi ruang Lantai III Gedung Ditsamapta
Di hadapan mereka, Ketua Lembaga Anti Narkotika (LAN) Provinsi Sumatera Barat, Firman Sikumbang, menyampaikan pesan dengan nada tegas dan penuh kepedulian. Ia menegaskan bahwa perang terhadap narkotika tidak bisa ditunda dan tidak boleh dianggap sebagai tugas sebagian pihak saja.
“Narkotika adalah ancaman serius bagi masa depan bangsa. Karena itu, setiap personel kepolisian harus menjadi garda terdepan, bukan hanya dalam penindakan, tetapi juga dalam menjaga diri, keluarga, dan lingkungan agar tetap bersih dari penyalahgunaan narkoba,” ujarnya.
Menurut Firman, pembekalan sejak dini kepada bintara remaja merupakan langkah strategis untuk menanamkan integritas, sehingga lahir aparat yang kuat secara mental, jernih dalam sikap, dan teguh memegang nilai pengabdian.
Suasana kegiatan semakin bermakna dengan kehadiran para Pejabat Utama Ditsamapta Polda Sumbar. Kasubdit Dalmas Kompol Maman Rosadi, S.H., menilai pembinaan karakter melalui edukasi bahaya narkotika menjadi fondasi penting dalam membentuk profesionalitas personel.
“Kekuatan seorang anggota bukan hanya pada kemampuan fisik dan taktik, tetapi pada integritas. Personel yang bersih dari narkoba akan mampu menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab serta menjadi teladan di tengah masyarakat,” tuturnya.
Sementara itu, pemaparan materi yang disampaikan Ketua Tim P4GN LAN Kota Padang, Dr. Desri Nora, M.Pd., memberi warna tersendiri dalam kegiatan tersebut. Dengan pendekatan edukatif dan menyentuh sisi kemanusiaan, ia menguraikan dampak narkotika tidak hanya dari sisi hukum, tetapi juga kerusakan mental, kehancuran keluarga, hingga hilangnya masa depan generasi muda.
Penyampaian yang komunikatif dan reflektif membuat para bintara remaja larut dalam suasana hening penuh perhatian. Raut wajah mereka menunjukkan pemahaman yang semakin dalam, bahwa bahaya narkotika bukan sekadar ancaman abstrak, melainkan realitas yang harus dicegah bersama. Materi tersebut menghadirkan kepuasan batin sekaligus kesadaran baru bagi para peserta.
Memasuki sesi tanya jawab, dinamika ruangan terasa hidup. Tangan-tangan muda terangkat bergantian, melontarkan pertanyaan tentang modus peredaran narkotika, langkah pencegahan, hingga peran personal dalam menjaga lingkungan tugas tetap steril.
Dialog berlangsung hangat, diselingi senyum dan tawa ringan, mencerminkan kedekatan antara narasumber dan peserta. Di balik keceriaan itu tersimpan kesungguhan, tekad untuk berdiri di garis depan melindungi masyarakat dari ancaman laten narkotika.
Pagi itu bukan sekadar agenda pembekalan. Ia menjadi ruang penanaman nilai dan titik awal perjalanan panjang pengabdian. Dari lantai tiga Gedung Ditsamapta, harapan dipantik, bahwa para bintara muda ini akan tumbuh menjadi penjaga yang bukan hanya tangguh secara fisik, tetapi juga kokoh dalam prinsip, bersih dari narkotika, dan setia pada amanah negara. (Boby)


0 Comments