Dalmas Kompi B BAJA 52 dan 54 Gelar Shalat Subuh Berjamaah di Masjid Nurul Ikhlas
Kegiatan Shalat Subuh berjemaah itu dipimpin langsung oleh Kapolda Sumatera Barat, Irjen Pol Dr. Drs. Gatot Tri Suryanta, M.Si., CSFA. Di barisan saf turut hadir para Danton Dalmas Ditsamapta Polda Sumbar, Ipda Arza Islami, S.H, Ipda Riki Novialdi, S.H., Ipda Rasul Hamidi, S.H, M.H, serta Ipda Adha Gautama Putra, S.Psi, M.H, bersama sekitar sembilan puluh personel yang berdiri sejajar tanpa sekat pangkat maupun jabatan. Di hadapan Allah SWT, seluruhnya menyatu dalam ketundukan yang sama.
Suasana khusyuk menyelimuti setiap gerakan dan doa. Bagi para Bhayangkara itu, subuh bukan sekadar awal hari, melainkan ruang sunyi untuk menata niat, membersihkan hati, serta menguatkan tekad dalam menjalankan amanah sebagai pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat. Di balik seragam dan disiplin yang melekat, ada kesadaran bahwa kekuatan sejati lahir dari iman dan ketaqwaan.
Kasubdit Dalmas Kompol Maman Rosadi menuturkan bahwa pelaksanaan shalat subuh berjamaah merupakan bagian penting dari pembinaan mental dan spiritual personel. Ibadah tidak hanya dipahami sebagai kewajiban, tetapi juga sebagai fondasi moral yang menuntun sikap dan perilaku dalam setiap pelaksanaan tugas.
“Melalui kebersamaan dalam ibadah, diharapkan tumbuh karakter personel yang berintegritas, berakhlak, serta mampu menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab,” ungkapnya.
Usai shalat, para personel tetap bertahan dalam keheningan masjid untuk mengikuti kuliah tujuh menit (kultum). Nasihat singkat yang disampaikan menjadi penyejuk hati sekaligus pengingat bahwa tugas kepolisian bukan hanya persoalan ketertiban dan keamanan, tetapi juga pengabdian kemanusiaan yang menuntut kesabaran, keikhlasan, dan empati.
Senada dengan itu, Direktur Samapta Polda Sumbar Kombes Pol Akmadi, S.I.K. menegaskan bahwa keseimbangan antara kekuatan fisik, kecerdasan profesional, dan kedalaman spiritual adalah kunci terbentuknya sosok polisi yang humanis. Pembinaan rohani, menurutnya, menjadi pondasi penting agar setiap tindakan personel selalu berpijak pada nilai kebenaran dan hati nurani.
Pagi perlahan beranjak terang. Cahaya matahari menembus sela pepohonan di sekitar asrama, sementara para personel mulai merapikan sajadah dan bersiap kembali ke rutinitas tugas. Namun, ada sesuatu yang tertinggal dalam diam subuh itu, sebuah ketenangan batin dan tekad yang diperbarui.
Di Masjid Nurul Ikhlas, subuh bukan hanya tentang waktu yang berlalu, melainkan tentang pengabdian yang diteguhkan. Dari saf-saf yang rapat tersusun, lahir harapan agar setiap langkah para penjaga negeri selalu dilandasi keimanan, dijaga keikhlasan, dan diarahkan pada kemaslahatan masyarakat.
Sebab pada akhirnya, pengabdian terbaik bukan hanya yang terlihat di medan tugas, tetapi juga yang tumbuh diam-diam dari hati yang tunduk kepada Tuhan. (Firman Sikumbang)


0 Comments