KEMBALIKAN MARWAH NINIAK MAMAK DI RANAH MINANG
PADANG, PIONIR--Di ranah Minangkabau, ninik mamak bukan sekadar gelar adat. Ia adalah sandaran kaum, penjaga marwah suku, sekaligus pembimbing generasi. Dalam falsafah adat yang berakar kuat di Sumatera Barat, mamak memikul amanah besar, membina, mengayomi, dan memastikan kamanakan tumbuh dalam nilai adat dan agama.
Namun realitas hari ini memunculkan kegelisahan. Tidak sedikit suara di nagari yang menilai peran ninik mamak mulai menyempit hanya pada urusan harta pusaka. Ketika pusako tinggi dibicarakan, mamak tampil di depan. Tetapi ketika kamanakan menghadapi persoalan pendidikan, moral, pergaulan bebas, bahkan ancaman narkotika, kehadiran itu terasa samar. Fenomena ini menjadi perhatian serius berbagai tokoh masyarakat.
Ketua Forum Anak Nagari Sumatera Barat, Firman Sikumbang, secara tegas mengajak niniak mamak untuk kembali kepada fungsi sejatinya. “Jangan ma ulik anak bini saja, sementara kamanakan diabaikan. Tanggung jawab mamak bukan hanya di rumah sendiri, tetapi di dalam kaum. Jangan tunggu pusaka baru datang, lalu sibuk. Ketika kamanakan butuh bimbingan, justru kita yang harus paling depan,” tegasnya.
Menurut Firman, perubahan sosial memang tidak bisa dihindari. Urbanisasi, tekanan ekonomi, dan perkembangan teknologi membuat pola hubungan dalam kaum ikut berubah. Namun adat tidak boleh kehilangan ruhnya. Ninik mamak adalah “payuang panji kaum”, tempat berteduh saat panas, berlindung saat hujan. Jika payung itu bocor, generasi muda akan mencari perlindungan ke tempat lain yang belum tentu benar.
Ia menilai, lemahnya peran pembinaan dari ninik mamak berdampak langsung pada meningkatnya persoalan sosial di tengah masyarakat. Ketika kamanakan kehilangan figur adat yang membimbing, maka nilai malu, sopan santun, dan tanggung jawab perlahan memudar.
“Adat bukan hanya seremoni. Adat itu tanggung jawab. Kalau mamak kuat, kaum kuat. Kalau mamak lalai, kaum akan rapuh,” ujarnya lagi.
Seruan ini bukan untuk menyalahkan, melainkan untuk mengingatkan. Revitalisasi peran ninik mamak menjadi kebutuhan mendesak di ranah Minang hari ini. Duduk bersama di balai adat, kembali menghidupkan musyawarah kaum, serta aktif memantau perkembangan generasi muda adalah langkah nyata yang bisa dilakukan.
Karena pada akhirnya, harta pusaka bisa habis, tanah bisa berpindah tangan, tetapi marwah kaum dan masa depan kamanakan jauh lebih berharga. Sudah saatnya niniak mamak kembali berdiri di jalur adat, menjadi pemimpin yang membimbing, bukan sekadar pengelola warisan, tukas Firman (boby)


0 Comments