Perjalanan Yunita Bersama LAN Provinsi Sumatera Barat

iklan adsense

Perjalanan Yunita Bersama LAN Provinsi Sumatera Barat

Oleh: Firman Sikumbang

KISAH NYATA


Di sebuah kampung kecil di Sumatera Barat, hiduplah seorang anak perempuan bernama Yunita (nama samaran). Sejak kecil, hidupnya tak pernah benar-benar utuh. Ayahnya harus menjalani hukuman penjara karena kasus narkotika, sebuah kenyataan pahit yang tak hanya merenggut sosok kepala keluarga, tetapi juga meruntuhkan arah hidupnya.

Sejak itu, hari-hari Yunita berubah drastis. Ia kerap terlihat berjalan tanpa tujuan, berpindah dari satu tempat ke tempat lain, seolah mencari sesuatu yang tak ia pahami. Rumah yang dulu hangat kini terasa asing. Ia tumbuh dengan luka batin, bingung, kehilangan, dan perasaan ditinggalkan.

Namun, hidup belum selesai mengujinya. Di tengah keterpurukan itu, hadir seorang perempuan sederhana, seorang ibu pedagang sayur di pasar kampungnya. Ia bukan keluarga, bukan pula kerabat. Tapi ketulusannya menjadi penopang bagi Yunita kecil yang nyaris kehilangan masa depan.

Setiap pagi, sebelum matahari meninggi, Yunita membantu di lapak sayur. Mengangkat barang, merapikan dagangan, hingga melayani pembeli. Dari aktivitas sederhana itu, ia belajar arti tanggung jawab, kerja keras, dan kepedulian.

“Ibu mungkin tak bisa memberimu segalanya, tapi Ibu ingin kamu punya masa depan,” ujar perempuan itu.

Kalimat itu menjadi titik balik. Dengan segala keterbatasan, Yunita kembali menapaki jalan yang sempat hilang. Ia kembali bersekolah, mengejar ketertinggalan sambil tetap membantu di pasar. Banyak yang meragukan, tapi Yunita memilih terus melangkah. Hingga akhirnya, ia berhasil menamatkan pendidikan SLTA sebuah pencapaian besar bagi anak yang pernah hampir kehilangan arah.

Waktu berlalu

Kini Yunita telah tumbuh menjadi perempuan tangguh dan melanjutkan pendidikan di salah satu perguruan tinggi swasta di Sumatera Barat. Masa lalunya tidak ia lupakan, melainkan ia jadikan sebagai bahan bakar untuk terus maju.

Perjalanan hidupnya kembali menemukan makna baru ketika ia mengikuti kegiatan sosialisasi P4GN yang digelar oleh Kesbangpol Provinsi Sumatera Barat.

Di sebuah aula sederhana, Yunita duduk di antara peserta lain. Di atas podium, seorang tokoh penggiat anti narkotika menyampaikan materi dengan penuh semangat. Setiap kalimat yang dilontarkan ia simak dengan saksama. Ia mencermati satu per satu, seolah setiap kata berbicara langsung kepadanya.

Ketika kisah tentang dampak narkotika terhadap generasi muda disampaikan, tentang kehilangan arah, tentang keluarga yang hancur, hati Yunita bergetar. Ia seperti melihat bayangan dirinya di masa lalu.

Namun kali ini, bukan kesedihan yang tumbuh. Melainkan tekad. Setiap kata yang ia dengar membakar semangatnya. Ia sadar, narkotika bukan lagi sesuatu yang tabu. Ancaman itu nyata, dekat, dan pernah menghancurkan hidupnya sendiri.

Di titik itulah Yunita memutuskan untuk tidak lagi hanya menjadi penonton. Ia ingin berdiri di barisan yang sama, melawan, mencegah, dan menyelamatkan generasi muda dari bahaya narkotika.

Gayung pun bersambut.

Yunita pun bergabung dengan Lembaga Anti Narkotika Provinsi Sumatera Barat. Di sana, ia menemukan bukan hanya wadah untuk berjuang, tetapi juga tempat untuk bertumbuh.

Kini, bagi Yunita, Lembaga Anti Narkotika Provinsi Sumatera Barat bukan sekadar organisasi kemasyarakatan. Ia telah menjelma menjadi sosok yang selama ini hilang dalam hidupnya, seorang ayah tempat ia bertanya, berdiskusi, dan mencari arah.

Di dalamnya, Yunita menemukan figur-figur pembimbing yang mau mendengar, yang menguatkan, dan yang mengajaknya memahami bahaya narkotika secara lebih dalam. Setiap arahan, setiap nasihat, dan setiap diskusi menjadi bekal berharga dalam langkah perjuangannya.

Ia tak lagi berjalan sendiri.

Dari seorang anak yang kehilangan arah, kini Yunita berdiri sebagai perempuan yang memiliki tujuan. Ia aktif dalam berbagai kegiatan edukasi, menyuarakan bahaya narkotika kepada pelajar dan generasi muda lainnya.

Baginya, ini bukan sekadar pengabdian. Ini adalah perjalanan pulang, menemukan kembali makna keluarga, arah hidup, dan alasan untuk terus berjuang.

Dan di setiap langkahnya, Yunita membawa satu keyakinan, bahwa dari luka yang paling dalam, bisa lahir kekuatan yang mampu menyelamatkan banyak kehidupan, bersama LAN Sumatera Barat.

iklan adsense

Post a Comment

0 Comments