Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Fauzi Bahar, Sang “Pamberang” yang Menjelma Panglima di Tengah Gempa

Wednesday, September 30, 2026 | September 30, 2026 WIB Last Updated 2026-09-30T07:06:05Z

Fauzi Bahar, Sang “Pamberang” yang Menjelma Panglima di Tengah Gempa

Catatan Andi Meirizal



















Ada manusia yang kita kenal bukan karena banyak bicara, tetapi karena sikapnya. Ada pula pemimpin yang baru benar-benar terlihat wataknya ketika keadaan tidak lagi normal. Fauzi Bahar adalah salah satunya.

Bagi sebagian orang, sosok Fauzi Bahar mungkin dikenal sebagai figur yang keras, tegas, bahkan “pamberang”. Saya pun dahulu mengenal beliau dengan kesan yang kurang lebih sama.

Kalau ada sesuatu yang tidak sesuai dengan pikirannya, reaksinya bisa keras. Kalau ada persoalan yang dianggap menyimpang, ia tidak selalu memilih jalan berputar-putar untuk menyampaikannya.

Fauzi Bahar adalah tipe orang yang langsung. Kadang keras. Kadang meledak-ledak. Tetapi di balik karakter itu, saya kemudian menemukan sesuatu yang jauh lebih penting: keberanian mengambil tanggung jawab.

Saya melihatnya pada sebuah hari yang tidak akan pernah hilang dari ingatan masyarakat Kota Padang. 30 September 2009. Hari ketika bumi seakan kehilangan keseimbangannya.

Gempa dahsyat mengguncang Kota Padang. Bangunan bergetar. Masyarakat berhamburan. Kepanikan menyebar begitu cepat. Informasi simpang siur. Sebagian warga tidak tahu harus berbuat apa.

Dalam situasi seperti itu, karakter seorang pemimpin diuji. Bukan ketika keadaan tenang. Bukan ketika semua berjalan sesuai rencana. Tetapi ketika masyarakat sedang takut dan membutuhkan seseorang untuk berdiri paling depan. Di situlah Fauzi Bahar tampil. Bukan Bersembunyi di Balik Meja

Saya masih mengingat bagaimana Fauzi Bahar, yang ketika itu menjabat Wali Kota Padang, bergerak dari Balai Kota yang berada di kawasan Jalan M. Yamin menuju bibir pantai. Ia tidak hanya menunggu laporan. Ia ingin melihat sendiri. Ia ingin memastikan sendiri. Di tengah suasana yang mencekam, ketika masyarakat dihantui kekhawatiran akan datangnya tsunami, Fauzi Bahar berdiri dan menyampaikan keyakinannya.

“Tidak ada tsunami.”

Bagi orang yang mendengar kalimat itu dalam suasana penuh kepanikan, tentu maknanya jauh lebih besar daripada sekadar rangkaian kata. Masyarakat sedang membutuhkan ketenangan. Dan ketenangan itu harus dimulai dari pemimpinnya. Di situlah saya melihat Fauzi Bahar bukan sekadar seorang wali kota. Ia tampil sebagai komandan lapangan. Ketika Kota Panik, Ia Memilih Bergerak Dari kawasan pantai, Fauzi Bahar kemudian menuju RRI di Jalan Sudirman. Radio menjadi salah satu saluran penting untuk menjangkau masyarakat. Di sana ia berbicara langsung. Tidak menggunakan bahasa yang berbelit-belit. Tidak memperpanjang kepanikan. Pesannya jelas, masyarakat harus tetap tenang dan mengikuti arahan. Kemudian muncul pernyataan yang hingga kini masih melekat dalam ingatan saya:

“Bapak Gubernur, Bapak Kapolda, Bapak Danrem, Danlanal, Danlanud, serta seluruh Kasat Pol PP se-Sumatera Barat, pasukan saya ambil alih.”

Kalimat itu memperlihatkan karakter Fauzi Bahar yang sesungguhnya. Ketika keadaan genting, ia tidak menempatkan dirinya sebagai orang yang hanya menunggu instruksi. Ia mengambil posisi. Ia mengambil tanggung jawab. Ia memilih berada di tengah persoalan. Di situlah sisi “pamberang” Fauzi Bahar memperoleh makna yang berbeda.

Kerasnya bukan semata-mata kemarahan. Ketegasannya bukan sekadar temperamen. Dalam keadaan tertentu, sifat itu berubah menjadi keberanian untuk mengambil keputusan ketika orang lain masih diliputi keraguan.

“Pamberang” yang Ternyata Punya Nyali

Saya kemudian memahami bahwa mengenal seorang pemimpin tidak cukup dari bagaimana ia bersikap ketika keadaan normal. Karakter seorang pemimpin justru terlihat ketika keadaan berada di titik paling sulit. Fauzi Bahar mungkin bisa membuat orang tidak nyaman dengan ketegasannya.

Namun dalam situasi bencana, masyarakat justru membutuhkan sosok yang tidak mudah larut dalam kepanikan. Ada saat ketika pemimpin harus lembut. Ada saat ketika pemimpin harus merangkul. Tetapi ada pula saat ketika pemimpin harus berdiri tegak dan berkata: Ikuti saya.

Dan Fauzi Bahar memperlihatkan itu pada 30 September 2009. Keyakinan yang Bersandar pada Agama Ada sisi lain Fauzi Bahar yang juga penting di catat.

Di tengah suasana penuh ketidakpastian, keberaniannya tidak hanya lahir dari pengalaman dan latar belakang militernya. Ada keyakinan agama yang menjadi pegangan. Saya masih mengingat ungkapan beliau: “Tidak akan jatuh daun sehelai pun tanpa izin dari Allah.” Kalimat itu bukan sekadar ungkapan religius.

Dalam konteks bencana, ia menggambarkan cara seorang pemimpin membangun ketenangan dari dalam dirinya sebelum menularkannya kepada masyarakat.

Fauzi Bahar menunjukkan bahwa keberanian dan kepasrahan kepada Allah tidak selalu bertentangan. Manusia tetap harus bergerak, mengambil tindakan dan menjalankan tanggung jawab. Tetapi pada akhirnya, manusia menyadari bahwa ada kekuatan yang lebih besar dari dirinya.

Dari Barak Militer ke Balai Kota Latar belakang militer Fauzi Bahar juga tidak bisa dilepaskan dari karakter kepemimpinannya.

Lingkungan militer membentuk kedisiplinan, keberanian mengambil keputusan, kepatuhan terhadap struktur komando dan kesiapan menghadapi keadaan darurat. Ketika kemudian berada di pemerintahan sipil sebagai Wali Kota Padang, karakter tersebut tetap terlihat.

Ia membawa gaya kepemimpinan yang relatif lugas. Tidak terlalu banyak basa-basi. Kalau menurutnya benar, ia katakan benar. Kalau menurutnya salah, ia katakan salah. Gaya seperti itu tentu tidak selalu membuat semua orang nyaman. Tetapi justru dari situlah Fauzi Bahar memiliki karakter yang mudah dikenali. Ia bukan pemimpin yang mudah dilupakan. Pemimpin yang Hadir Ketika Kota Membutuhkan

Bagi saya, ukuran seorang pemimpin bukan hanya berapa banyak program yang pernah dibuat. Bukan pula semata-mata berapa banyak penghargaan yang diterima. Ada ukuran lain yang lebih sederhana. Di mana dia ketika masyarakat sedang membutuhkan?

Pada 30 September 2009, Fauzi Bahar berada di tengah masyarakat. Ia turun. Ia bergerak. Ia berbicara. Ia mengambil tanggung jawab. Dan yang paling penting, ia berusaha mengembalikan rasa percaya diri masyarakat ketika ketakutan sedang menguasai Kota Padang. Itulah sebabnya 30 September 2009 mengubah cara saya memandang Fauzi Bahar. Dulu saya melihat “pamberang”. Hari itu saya melihat pemimpin. Saya melihat seorang yang berani berdiri di depan ketika keadaan sedang kacau. Saya melihat seorang yang tidak memilih bersembunyi di balik jabatan.

Saya melihat seorang yang menggunakan karakter kerasnya untuk menghadapi keadaan yang juga keras. 17 Tahun Setelah Gempa Kini, 30 September 2026. Tujuh belas tahun telah berlalu. Kota Padang telah berubah. Bangunan berdiri kembali. Jalan-jalan semakin ramai. Perekonomian bergerak. Generasi berganti. Anak-anak yang ketika itu masih kecil kini telah tumbuh dewasa. 

Tetapi memori 30 September tidak boleh hilang. Sebab dari bencana itu kita belajar bahwa sebuah kota tidak hanya membutuhkan gedung yang kokoh. Kota membutuhkan manusia yang kokoh. Kota membutuhkan pemimpin yang berani mengambil tanggung jawab. Kota membutuhkan masyarakat yang saling menguatkan. Dan di antara catatan panjang perjalanan Kota Padang melewati gempa 2009, nama Fauzi Bahar bagi saya memiliki tempat tersendiri.

Bukan karena beliau tanpa kekurangan. Bukan pula karena semua orang harus melihat beliau dengan cara yang sama. Tetapi karena saya pernah melihat sendiri bagaimana seorang yang selama ini saya kenal sebagai “pamberang” justru tampil dengan keberanian seorang panglima ketika kotanya sedang diguncang bencana.

Di situlah saya menemukan sisi lain Fauzi Bahar.Keras, tetapi berani. Tegas, tetapi hadir. Pamberang, tetapi tidak gentar menghadapi keadaan. Dan mungkin memang begitulah seorang pemimpin kadang di kenang.

Bukan dari bagaimana ia berbicara ketika semuanya baik-baik saja. Tetapi dari bagaimana ia berdiri ketika semua orang sedang takut. Semoga Bapak Fauzi Bahar senantiasa di berikan kesehatan, kekuatan dan umur panjang oleh Allah SWT.

Semoga pengalaman hidup, keberanian serta nilai agama, adat dan budaya yang beliau pegang dapat terus diwariskan kepada generasi muda Kota Padang dan Sumatera Barat. Sebab generasi muda tidak hanya membutuhkan pembangunan. Mereka membutuhkan teladan. Mereka perlu melihat bahwa mencintai daerah bukan hanya dengan kata-kata.

Tetapi dengan keberanian menjaga, membela dan bertanggung jawab atas daerah yang di cintai. Dan satu kalimat yang dahulu begitu melekat dengan kepemimpinan Fauzi Bahar sebagai Wali Kota Padang, kiranya tetap hidup dalam ingatan kita:

“Padang Kota Tercinta, Kujaga dan Kubela.”

Penulis adalah Ketua DPC Gebu Minang Kecamatan Lubuk Begalung, Kota Padang.


×
Berita Terbaru Update