Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Kadis Pendidikan

Monday, September 21, 2026 | September 21, 2026 WIB Last Updated 2026-09-21T10:56:52Z

Sekolah di Garis Depan Melawan Ancaman Narkotika

Menjaga Generasi Muda Pesisir Selatan dari Ancaman Narkotika

PAINAN, History-- Bel masuk belum berbunyi. Halaman sekolah mulai dipenuhi langkah kaki. Sebagian siswa datang berkelompok, sebagian lainnya berjalan tergesa sambil merapikan seragam. Suara sapaan dan tawa kecil terdengar di antara deretan ruang kelas. Di sudut halaman, beberapa guru berdiri menyambut kedatangan anak didiknya.

Pemandangan itu sederhana. Bahkan nyaris sama dengan pagi-pagi sebelumnya.

Namun di balik seragam putih yang dikenakan para siswa, tersimpan harapan besar orang tua. Di balik buku yang mereka bawa, ada cita-cita yang sedang mereka perjuangkan. Dan di balik keceriaan mereka, ada satu tanggung jawab yang tidak boleh dilupakan: menjaga mereka dari berbagai ancaman yang dapat merusak masa depan, termasuk narkotika.

Pertanyaannya kemudian bukan lagi sekadar apakah sekolah telah memberikan pendidikan yang cukup.

Tetapi apakah sekolah sudah menjadi benteng yang cukup kuat bagi anak-anaknya?

Pertanyaan inilah yang mendapat perhatian serius Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Pesisir Selatan, Salim Muhaimin, S.Pd., M.Si.

Bagi Salim, ancaman narkotika tidak boleh menunggu sampai muncul korban. Pencegahan harus di mulai jauh sebelumnya, ketika anak masih berada di bangku sekolah, ketika karakter masih di bentuk dan ketika nilai-nilai kehidupan sedang di tanamkan.

“Jangan menunggu persoalan terjadi baru kita bergerak. Anak-anak kita harus di lindungi sejak dini. Seluruh tenaga pendidik harus mengambil bagian,” tegasnya.

Kalimat itu menjadi pengingat bahwa perang terhadap narkotika bukan hanya berada di jalan-jalan, tempat hiburan atau lingkungan masyarakat. Ia juga menyangkut ruang kelas, halaman sekolah dan hubungan sehari-hari antara guru dengan peserta didik.

Guru di Garis Depan

Sekolah memiliki pagar. Memiliki aturan. Memiliki tata tertib. Tetapi benteng sesungguhnya bukan sekadar tembok dan gerbang. Benteng itu adalah manusia yang berada di dalamnya.

Guru yang menyapa siswa setiap pagi. Wali kelas yang mengetahui perubahan sikap anak didiknya. Guru Bimbingan Konseling yang bersedia mendengarkan cerita siswa. Kepala sekolah yang memastikan lingkungan belajar tetap sehat. Bahkan tenaga kependidikan yang setiap hari berinteraksi dengan mereka.

Mereka semua memiliki peran.

Menurut Salim Muhaimin, persoalan narkotika tidak boleh hanya menjadi perhatian kepala sekolah atau guru tertentu. Seluruh tenaga pendidik dan kependidikan harus memiliki kepekaan yang sama.

Sebab, terkadang perubahan seorang anak tidak langsung terlihat sebagai sebuah persoalan besar. Anak yang biasanya ceria menjadi pendiam. Anak yang aktif mulai menarik diri. Anak yang sebelumnya terbuka tiba-tiba enggan berkomunikasi.

Di sinilah kehadiran seorang guru menjadi penting. Bukan untuk menghakimi, tetapi untuk mendekati. Bukan untuk mencurigai, tetapi untuk memahami. Bukan menunggu masalah membesar, tetapi hadir ketika tanda-tanda persoalan mulai terlihat.

Jangan Menunggu Korban

Narkotika tidak selalu datang dengan tanda yang mudah dikenali. Karena itu, pencegahan tidak boleh dilakukan hanya ketika kasus sudah terjadi.

Sosialisasi tetap penting. Tetapi ketika narasumber selesai berbicara dan meninggalkan sekolah, perjuangan tidak boleh ikut berakhir.

P4GN harus menjadi budaya.

Pesan tentang bahaya narkotika harus terus hidup dalam lingkungan pendidikan. Anak-anak perlu diberi pengetahuan, tetapi lebih dari itu, mereka harus dibangun keberaniannya untuk menolak.

Dalam konteks tersebut, penguatan Satgas Anti Narkotika di sekolah dan pelibatan pelajar sebagai Duta LAN menjadi bagian dari gagasan untuk memperluas gerakan pencegahan.

Anak Muda Jangan Hanya Jadi Objek

Ketua LAN Kabupaten Pesisir Selatan Marwan Anas, SE, M.Si melihat pelajar bukan sekadar penerima sosialisasi. Mereka harus diberi ruang untuk menjadi bagian dari gerakan.

“Jangan sampai anak-anak kita hanya menjadi objek sosialisasi. Mereka harus kita dorong menjadi bagian dari gerakan pencegahan,” ujar Marwan Anas.

Gagasan itu mempertemukan dua kekuatan: sekolah sebagai ruang pendidikan dan generasi muda sebagai pelaku perubahan.

Guru menjadi pembimbing. Pelajar menjadi penggerak. Orang tua menjadi pengawas. Masyarakat menjadi lingkungan pendukung. Jika semuanya bergerak dalam arah yang sama, benteng itu akan semakin kuat.

Menyelamatkan Satu Anak

Ada keberhasilan yang mungkin tidak pernah masuk berita. Tidak ada seremoni. Tidak ada panggung. Tidak ada tepuk tangan. Tetapi ketika seorang siswa menolak ajakan menggunakan narkotika karena teringat pesan gurunya, ketika seorang anak memilih bercerita kepada guru saat menghadapi persoalan, atau ketika sebuah sekolah berhasil menciptakan lingkungan yang sehat, di situlah pencegahan sesungguhnya bekerja. Menyelamatkan satu anak berarti menyelamatkan satu masa depan. Dan masa depan Pesisir Selatan hari ini sedang duduk di bangku-bangku sekolah.

Karena itu, perhatian Salim Muhaimin terhadap P4GN bukan semata-mata tentang bagaimana sekolah menghadapi narkotika. Lebih jauh, ini tentang membangun kesadaran bahwa setiap tenaga pendidik mempunyai tanggung jawab dalam menjaga generasi. Kepala sekolah memimpin. Guru mendidik. Orang tua mendampingi. Masyarakat menjaga. Dan anak-anak diberi keberanian untuk memilih masa depannya.

Bel akhirnya berbunyi.

Suasana halaman perlahan sunyi. Para siswa memasuki kelas. Guru mulai berdiri di depan papan tulis. Pelajaran pun dimulai.

Namun ada pelajaran yang jauh lebih besar daripada apa yang tertulis di buku: bagaimana menjaga diri, menjaga teman dan menjaga masa depan. Sebab sekolah bukan sekadar tempat anak-anak mengejar nilai. Sekolah adalah tempat masa depan sedang di bentuk. Maka benteng itu harus di bangun sekarang, sebelum ancaman datang mengetuk pintunya, tukasnya (Firman Sikumbang)



×
Berita Terbaru Update