Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Terinspirasi Kebaikan Ramadhan, Ketua LAN Sumbar Sambangi Pengumpul Sampah di Kampung Olo

Tuesday, August 25, 2026 | August 25, 2026 WIB Last Updated 2026-08-25T05:46:05Z

Terinspirasi Kebaikan Ramadhan, Ketua LAN Sumbar Sambangi Pengumpul Sampah di Kampung Olo

Ramadhan (Doc. LAN)

PADANG, PIONIR — Kisah perjuangan Ramadhan, seorang pengumpul sampah di Kelurahan Kampung Olo, Kecamatan Nanggalo, Kota Padang, ternyata menyentuh hati banyak pihak. Di balik kesederhanaan hidupnya, Ramadhan menyimpan keteguhan hati dan kepedulian yang patut diapresiasi.

Terinspirasi dengan kebaikan dan ketulusan Ramadhan yang di tengah keterbatasan ekonomi, masih kerap berbagi kepada sesama, Ketua Lembaga Anti Narkotika (LAN) Provinsi Sumatera Barat, Firman Sikumbang, menyempatkan diri menyambangi Ramadhan di Pos Pemuda Kampung Olo.

Pertemuan tersebut berlangsung sederhana, Salut bercampur haru mewarnai pertemuan itu.

Firman Sikumbang melihat langsung sosok Ramadhan yang selama ini bekerja dalam diam, melayani kebersihan lima RW di Kelurahan Kampung Olo. Setiap hari, Ramadhan memulai aktivitas sejak pukul 06.00 WIB hingga sekitar pukul 15.00 WIB.

Dengan penghasilan sekitar Rp3,7 juta, ia berusaha mencukupi kebutuhan hidupnya. Penghasilan tersebut bukan datang dengan mudah, melainkan melalui keringat dan tenaga yang ia keluarkan setiap hari.

Ramadhan merupakan anak kelima dari lima bersaudara, putra pasangan Nanden dan Ernawati. Setelah kedua orang tuanya meninggal dunia, kehidupan Ramadhan tidak lagi sama.

Tempat mengadu telah tiada.

Tidak ada lagi sosok ayah dan ibu yang bisa menjadi tempat meminta ketika kehidupan terasa berat.

Namun, Ramadhan memilih untuk tidak menyerah.

Ia bangkit dari keterpurukan ekonomi dengan bekerja sebagai pengumpul sampah. Setiap pagi ia menyusuri lingkungan Kampung Olo, mengumpulkan sampah rumah tangga dan melayani kebutuhan masyarakat di lima RW.

Pekerjaan itu mungkin sederhana di mata sebagian orang. Tetapi bagi Ramadhan, pekerjaan tersebut merupakan jalan untuk mempertahankan hidup sekaligus memberikan manfaat bagi lingkungan.

Yang membuat kisahnya semakin menyentuh adalah di tengah keterbatasannya, Ramadhan masih memiliki kepedulian untuk berbagi.

Ia tidak menunggu kaya untuk berbuat baik. Apa yang mampu ia berikan, sebisa mungkin ia bagikan kepada orang lain.

Hal inilah yang kemudian menarik perhatian Firman Sikumbang.

Menurut Firman, ketulusan Ramadhan merupakan pelajaran berharga. Seseorang tidak harus memiliki banyak harta untuk bisa memberikan manfaat kepada orang lain.

“Kita harus belajar dari Ramadhan. Di tengah keterbatasan, dia masih mau berbagi. Ini bukan hanya tentang materi, tetapi tentang ketulusan dan kepedulian terhadap sesama,” ungkap Firman.

Bagi Firman Sikumbang, orang-orang seperti Ramadhan layak mendapatkan perhatian dan penghargaan. Mereka bekerja dalam diam, tetapi memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Ramadhan juga dinilai telah memberikan contoh bahwa pekerjaan apa pun yang dilakukan dengan jujur dan penuh tanggung jawab memiliki nilai kemuliaan.

Pertemuan di Pos Pemuda Kampung Olo itu pun menjadi momen yang tidak biasa.

Tidak ada kemewahan. Tidak ada jarak.

Yang ada hanyalah pertemuan dua manusia yang sama-sama melihat kehidupan dari sisi kemanusiaan.

Firman Sikumbang datang bukan sekadar untuk menyambangi seorang pengumpul sampah. Ia datang untuk memberikan penghargaan moral kepada seorang lelaki yang tetap memilih bekerja dan berbagi meskipun hidupnya sendiri penuh keterbatasan.

Salut bercampur haru.

Barangkali itulah kalimat yang paling tepat menggambarkan pertemuan tersebut.

Ramadhan telah kehilangan kedua orang tuanya, tetapi ia tidak kehilangan semangat hidup.

Ia mungkin hidup dengan penghasilan yang harus dicukup-cukupkan, tetapi ia tidak kehilangan keinginan untuk berbagi.

Ia bekerja dengan sampah, tetapi dari kehidupannya justru muncul sesuatu yang jauh lebih berharga, "keteladanan".

Di Kampung Olo, Ramadhan mungkin hanya dikenal sebagai lelaki yang setiap pagi mengangkut sampah.

Namun bagi mereka yang mengenalnya lebih dekat, ia adalah sosok yang sedang berjuang melawan kerasnya kehidupan dengan cara yang sederhana, bekerja, bertahan, dan tetap berbuat baik.

Dan dari sebuah pos pemuda sederhana di Kampung Olo, sebuah pesan kemanusiaan kembali mengingatkan kita. Kebaikan tidak mengenal kaya atau miskin. Sebab terkadang, mereka yang hidupnya paling sederhana justru memiliki hati yang paling lapang untuk berbagi. (tim)

×
Berita Terbaru Update