AKBP Agung Tribawanto, S.I.K : Kepemimpinan yang Datang dengan Nurani

iklan adsense

AKBP Agung Tribawanto, S.I.K : Kepemimpinan yang Datang dengan Nurani


SIMPANG AMPEK, PIONIR----Di Pasaman Barat, kepolisian tidak selalu hadir dalam bentuk sirene dan garis komando. Kadang ia datang dengan langkah pelan, sapaan sederhana, dan tangan yang lebih dulu terulur sebelum pertanyaan diajukan. Di ruang inilah AKBP Agung Tribawanto, S.I.K., membangun kepemimpinannya sebagai Kapolres Pasaman Barat.

Agung Tribawanto bukan tipe pemimpin yang menjaga jarak dengan masyarakat. Ia memilih turun, menyapa, dan mendengar. Dalam berbagai kesempatan, kehadirannya di tengah warga bukan sekadar simbol negara, melainkan wujud empati. Ia datang bukan untuk dilihat, tetapi untuk memastikan masyarakat merasa diperhatikan.

Pendekatan humanis itu tidak mengurangi ketegasan. Dalam penegakan hukum, AKBP Agung Tribawanto tetap berdiri pada prinsip dan aturan. Namun ia memahami, hukum yang adil harus dibarengi rasa kemanusiaan. Ketegasan baginya bukan tentang kerasnya suara, melainkan konsistensi sikap dan keberanian mengambil keputusan yang berpihak pada keadilan.

Kedekatannya dengan masyarakat tumbuh dari kehadiran yang nyata. Saat warga membutuhkan bantuan, ia datang. Saat persoalan sosial muncul, ia mendengarkan. Tidak semua diselesaikan dengan seragam dan kewenangan, sebagian justru dirampungkan dengan dialog dan kepercayaan. Di situlah masyarakat melihat sosok Kapolres yang berbeda, seorang pemimpin yang hadir tanpa sekat.

AKBP Agung Tribawanto kerap menegaskan bahwa tugas polisi bukan sekadar menjaga keamanan, tetapi juga memelihara rasa aman. Perbedaan ini sederhana, namun bermakna. Rasa aman tumbuh ketika masyarakat percaya, dan kepercayaan lahir dari kejujuran serta kepedulian yang konsisten.

Ia datang membantu warga bukan karena status sebagai perwira menengah Polri, melainkan karena panggilan nurani. Dalam setiap kunjungan dan aktivitas sosial, terlihat keyakinannya bahwa polisi adalah bagian dari masyarakat itu sendiri. Tidak lebih tinggi, tidak pula terpisah.

Sepanjang kepemimpinannya di Pasaman Barat, AKBP Agung Tribawanto menikam jejak (berbuat) yang tidak tercatat dalam angka statistik. Jejak itu hidup dalam ingatan warga, tentang seorang Kapolres yang mau duduk bersama, mendengar keluh kesah, dan bertindak ketika diperlukan.

Di tengah tantangan keamanan dan dinamika sosial yang terus berubah, Pasaman Barat menemukan figur kepemimpinan yang menenangkan. Bukan karena tidak ada masalah, tetapi karena ada kehadiran yang bisa dipercaya.

Bagi masyarakat Pasaman Barat, AKBP Agung Tribawanto bukan sekadar Kapolres. Ia adalah simbol pengabdian yang bekerja dalam diam, kepemimpinan yang berjalan dengan nurani, dan teladan bahwa kekuasaan sejati lahir dari kepercayaan rakyat. (Firman Sikumbang)

iklan adsense

Post a Comment

0 Comments