Kolonel Ramin dan Sultan Youdhi: Menggerakkan Bambu untuk Konservasi dan Ekonomi Kreatif

iklan adsense

Kolonel Ramin dan Sultan Youdhi: Menggerakkan Bambu untuk Konservasi dan Ekonomi Kreatif


PADANG, PIONIR— Sosok Kolonel Cpl. Ramin, S.I.P., M.Tr.(Han.) melihat bambu bukan sekadar tanaman penghijauan. Di balik pertumbuhannya yang cepat dan kemampuannya beradaptasi, bambu menyimpan potensi besar untuk konservasi lingkungan, mitigasi erosi, menjaga sumber mata air, membantu penyerapan dan penyimpanan karbon, sekaligus membuka peluang pengembangan ekonomi masyarakat.

Perspektif inilah yang mendorong Kolonel Ramin mengembangkan gerakan rumpun bambu dan pohon produktif. Gagasan tersebut dibangun melalui komunikasi dan pertemuan dengan berbagai pihak, termasuk Sultan Youdhi Prayogo, SE., ME., dan diarahkan untuk berkembang dari Sumatera Barat hingga Jambi.

Namun, kepedulian Kolonel Ramin terhadap masa depan bangsa tidak berhenti pada lingkungan. Pendidikan dan pembentukan karakter generasi muda juga menjadi bagian dari pengabdiannya.

Di bidang pendidikan sosial-keagamaan, Kolonel Ramin turut memberikan perhatian dan dukungan nyata melalui Pondok Pesantren Tombo Ati, yang berada di bawah asuhan Kyai Ahmad Hadi Ariyanto, Temanggung. Saat ini, pembangunan pondok pesantren dan masjid tersebut tengah berproses di atas lahan sekitar 2.000 meter persegi di Secang, Magelang.

Pondok tersebut diarahkan menjadi ruang pendidikan dan pembinaan yang terbuka bagi berbagai kalangan, khususnya anak yatim, piatu dan fakir miskin, dengan memberikan pendidikan, pelayanan sosial, pembelajaran agama, mengaji serta penanaman akhlak mulia dan karakter.

Bagi Kolonel Ramin, membangun bangsa tidak hanya berarti menjaga wilayah, tetapi juga menyiapkan manusianya. Pendidikan menjadi investasi jangka panjang untuk melahirkan generasi yang berilmu, berakhlak dan memiliki kepedulian terhadap sesama.

Pecinta Lingkungan dari Darat hingga Laut

Kecintaan Kolonel Ramin terhadap lingkungan juga terlihat dari keterlibatannya dalam berbagai kegiatan konservasi yang memiliki spektrum lebih luas. Ia tidak hanya mendorong penanaman bambu dan pohon produktif, tetapi juga memberikan perhatian pada mangrove dan ekosistem pesisir.

Baginya, konservasi tidak mengenal batas antara daratan dan lautan. Bambu dan pohon produktif berperan dalam menjaga tanah, air dan kawasan hijau; sementara mangrove memiliki fungsi penting dalam menjaga pesisir, melindungi kawasan pantai dan menjadi habitat berbagai biota.

Semangat yang sama juga membawanya bergabung dalam gerakan penanaman dan pemulihan terumbu karang di Sumatera Barat, bersama Bang Mashuri Tanjung. Keterlibatan tersebut memperlihatkan kepedulian yang menyentuh berbagai ekosistem—dari kawasan daratan, pesisir hingga bawah laut.

Dengan demikian, sosok Kolonel Ramin tidak hanya dapat dilihat sebagai seorang perwira TNI AD, tetapi juga sebagai pecinta lingkungan dan penggerak gerakan konservasi yang berupaya mempertemukan kepentingan ekologis dengan kebermanfaatan bagi masyarakat.

Dari Gagasan Bambu Menuju Gerakan Nyata

Proses kolaborasi tersebut telah berlangsung sejak awal 2026. Pada 24 Januari 2026, Kolonel Ramin bertemu dengan Sultan Youdhi di Padang untuk membicarakan berbagai gagasan terkait lingkungan, penghijauan dan pengembangan bambu. Komunikasi tersebut kemudian berlanjut dan semakin mengerucut pada pertemuan di Jambi pada 25 Juni 2026, yang menjadi bagian penting dalam membangun gagasan agar gerakan bambu dan pohon produktif dapat dikembangkan lebih luas.

Dari rangkaian pertemuan dan komunikasi tersebut, muncul semangat untuk menjadikan bambu bukan hanya sebagai objek penghijauan, tetapi sebagai aset ekologis sekaligus sumber pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Bambu memiliki fungsi ekologis yang penting. Sistem perakarannya dapat membantu menjaga struktur tanah, mengurangi erosi dan mendukung konservasi kawasan sekitar lereng maupun sumber air. Dalam pengelolaan yang tepat, keberadaan rumpun bambu juga dapat membantu mempertahankan tata air dan mendukung keberlanjutan mata air, bahkan berpotensi membantu memulihkan kawasan resapan sehingga sumber-sumber air baru dapat muncul secara alami.

Namun, kekuatan bambu tidak berhenti pada aspek ekologis. Bambu memiliki rantai nilai ekonomi yang luas, mulai dari rebung sebagai bahan pangan, kerajinan dan furnitur, konstruksi, interior, hingga bambu laminasi yang memiliki peluang besar untuk produk bernilai tambah.

Pengembangannya bahkan dapat diarahkan pada industri yang lebih maju, seperti bubur kertas dan tissue premium, serat untuk bahan pakaian premium, briket dan berbagai produk turunan lainnya. Dengan inovasi dan teknologi pengolahan, bambu berpotensi menjadi bahan baku ekonomi kreatif sekaligus bagian dari pengembangan industri hijau.

Pengalaman dan jejaring Yayasan Bambu Indonesia menjadi salah satu ruang penting untuk memperkuat pengetahuan, budidaya, konservasi dan pengolahan bambu agar memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi.

Dalam konteks inilah peran Kolonel Ramin dan Sultan Youdhi menjadi strategis. Keduanya mendorong agar gerakan bambu tidak berhenti pada “tanam dan selesai”, tetapi dibangun menjadi sebuah ekosistem: menanam, merawat, mengolah, menciptakan produk, membuka lapangan kerja dan membangun pasar.

Gagasan tersebut telah menemukan bentuk nyata di Sumatera Barat. Pada 21 Juli 2026, Kolonel Ramin bersama UIN Imam Bonjol Padang mengembangkan program “Rumpun Bambu dan Pohon Produktif untuk Sumatera Barat dan Jambi yang Hijau, Lestari, dan Produktif.”

Pada Rabu, 12 Agustus 2026, gerakan tersebut diwujudkan secara serentak di Provinsi Sumatera Barat dan Provinsi Jambi, dengan total 20.650 bibit yang tersebar pada 19 titik.

Khusus di kawasan UIN Imam Bonjol Padang, ditanam 2.421 bibit, terdiri atas 421 bibit rumpun bambu dan 2.000 bibit pohon produktif.

Kegiatan tersebut menjadi bukti bahwa gagasan yang dibangun melalui proses komunikasi dan kolaborasi mulai bergerak menjadi aksi nyata. Dari gagasan penghijauan, berkembang menjadi gerakan yang menyatukan kepentingan lingkungan, konservasi sumber air, mitigasi bencana, produktivitas dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Kini, arah gerakan tersebut mulai dibawa menuju Jambi.


Dalam komunikasi dengan Sultan Youdhi, Kolonel Ramin menyampaikan bahwa apa yang telah dilakukan di UIN Padang tidak berhenti di Sumatera Barat, tetapi juga akan dikembangkan di Jambi. Semangat tersebut menjadi dasar untuk membangun kolaborasi dengan berbagai unsur di Jambi, termasuk perguruan tinggi, pemerintah, masyarakat adat, kelompok tani, komunitas dan pelaku ekonomi kreatif.

Melalui jejaring Yayasan Bambu Indonesia, gerakan ini diharapkan dapat memperoleh penguatan dari sisi pengetahuan budidaya, konservasi dan pengolahan bambu. Sementara jejaring Kolonel Ramin dan Sultan Youdhi diharapkan membuka ruang kolaborasi yang lebih luas untuk menghubungkan gerakan lingkungan dengan pemberdayaan masyarakat dan ekonomi kreatif.

Jika dikelola secara serius, bambu dapat menjadi contoh nyata konsep green economy: alam dijaga, sumber air dipelihara, masyarakat diberdayakan dan nilai ekonomi diciptakan dari sumber daya yang lestari.

Karena itu, gerakan yang digagas Kolonel Ramin bersama jejaringnya bukan semata tentang berapa banyak bambu yang ditanam, tetapi berapa banyak manfaat yang dapat tumbuh dari setiap rumpunnya—dari menjaga tanah dan air hingga melahirkan produk, keterampilan, lapangan kerja dan sumber pendapatan baru.

Pada akhirnya, sosok Kolonel Cpl. Ramin memperlihatkan sebuah perspektif pengabdian yang utuh: menjaga negara, mendidik generasi, merawat lingkungan dan membangun manusia. Dari pondok pesantren hingga bambu, dari mangrove hingga terumbu karang, benang merahnya adalah kepedulian terhadap masa depan.

Dari konservasi menuju produktivitas. Dari bambu menjadi karya. Dari karya menjadi ekonomi kreatif. Dari pendidikan menjadi karakter. Dan dari darat, pesisir hingga laut, membangun Indonesia yang hijau, lestari dan berdaya. (tim)

iklan adsense

Post a Comment

0 Comments