DI TENGAH GALODO BATANG BARUS, DATA KORBAN MASIH BAGALAU
Ketika Informasi dari Lapangan Belum Menemukan Kepastian.
Di tengah situasi tersebut, persoalan lain muncul. Data korban bencana masih bagalau.
Informasi mengenai jumlah korban jiwa, warga yang belum ditemukan serta kerugian material belum sepenuhnya sinkron antara laporan resmi dan informasi yang berkembang di tengah masyarakat.
Informasi dari lapangan menyebutkan adanya sekitar tujuh orang karyawan salah satu pabrik tahu di sekitar lokasi kejadian yang hingga kini belum diketahui keberadaannya. Namun, informasi tersebut masih berupa laporan awal masyarakat dan belum dapat di pastikan sebagai jumlah korban yang hilang.
Sementara itu, laporan sementara BPBD Kabupaten Solok menyebutkan terdapat dua korban jiwa. Satu korban telah ditemukan, sedangkan satu korban lainnya masih dalam proses pencarian.
Di sisi lain, sejumlah korban yang mengalami luka ringan, sedang hingga berat masih mendapatkan perawatan di RSUD Kabupaten Solok.
LAN Sumbar Turun ke Lokasi
Kondisi tersebut mendorong Tim LAN Sumbar untuk ikut turun langsung ke tengah masyarakat.
Ketua LAN Provinsi Sumatera Barat Firman Sikumbang bersama Tim P4GN LAN Sumbar, Muchsin, S.Sos, turut mendatangi kawasan terdampak untuk melihat kondisi masyarakat sekaligus menghimpun informasi mengenai perkembangan bencana.
Kehadiran tim tidak hanya berkaitan dengan aksi sosial, tetapi juga untuk mendengar langsung informasi dari masyarakat yang berada di sekitar lokasi kejadian.
Bagi Firman, dalam kondisi bencana seperti ini, angka bukan sekadar angka. Di balik satu nama yang belum ditemukan, ada keluarga yang sedang menunggu kepastian.
“Data yang kami dapatkan dari BPBD maupun laporan masyarakat masih bagalau. Karena itu, tim kita harus turun langsung ke tengah masyarakat untuk mendapatkan informasi yang lebih akurat,” ujar Firman Sikumbang saat berbincang dengan sejumlah jurnalis di kawasan Kantor Bupati Solok, Arosuka.
Menurut Firman, informasi yang diperoleh dari masyarakat selanjutnya harus di cocokkan dengan data pemerintah dan petugas yang memiliki kewenangan.
“Kami tidak ingin informasi yang belum jelas kemudian berkembang menjadi berita yang keliru. Apalagi ini menyangkut korban jiwa dan orang yang belum ditemukan,” katanya.
Muchsin Ikut Menyisir Informasi dari Lapangan
Sementara itu, Muchsin, S.Sos yang merupakan bagian dari Tim P4GN LAN Sumbar, ikut bergerak bersama tim di lapangan.
Muchsin bersama anggota tim berkomunikasi dengan masyarakat dan pihak-pihak yang berada di sekitar kawasan terdampak untuk mengetahui kondisi terkini.
Langkah tersebut dilakukan untuk membantu menghimpun informasi awal mengenai warga yang terdampak, kebutuhan masyarakat serta kemungkinan adanya warga yang belum diketahui keberadaannya.
Informasi yang di peroleh tim, kata Firman, tidak serta-merta di jadikan sebagai data resmi. Semua informasi tetap harus diverifikasi dan di koordinasikan dengan pihak terkait.
“Kita membantu mencari informasi dari bawah. Kalau ada laporan masyarakat, kita catat, kemudian kita koordinasikan dengan pihak yang berwenang. Data resmi tetap menjadi kewenangan pemerintah dan petugas yang menangani bencana,” tegas Firman.
Satu Nama, Satu Keluarga yang Menunggu
Bencana selalu menyisakan cerita yang tidak mudah dituliskan.
Ada rumah yang rusak, tempat usaha yang tertimbun, kendaraan yang terseret, serta harta benda yang tidak mungkin kembali. Tetapi yang paling berat adalah ketika sebuah keluarga belum mendapatkan kepastian tentang anggota keluarganya.
Karena itu, proses pencarian korban menjadi pekerjaan kemanusiaan yang tidak mengenal waktu.
Tim penyelamat, BPBD, TNI, Polri, relawan dan masyarakat bergerak sesuai kemampuan masing-masing. Tim LAN Sumbar yang berada di lokasi juga berupaya mengambil bagian dalam gerakan kemanusiaan tersebut.
Selain menghimpun bantuan dan menyalurkan kebutuhan masyarakat terdampak, Firman bersama Muchsin dan Tim P4GN LAN Sumbar berusaha berkomunikasi dengan warga untuk mendapatkan informasi yang dapat membantu proses pendataan.
Jangan Biarkan Keluarga Menunggu Tanpa Kepastian
Dalam situasi seperti ini, Firman mengajak masyarakat untuk tidak menyebarkan informasi yang belum jelas sumber dan kebenarannya.
Informasi mengenai jumlah korban harus disampaikan secara hati-hati. Sebab, satu angka yang keliru dapat menimbulkan kepanikan, sementara informasi yang salah mengenai keberadaan seseorang dapat menambah beban keluarga korban.
“Kita harus berhati-hati. Jangan sampai informasi yang belum terverifikasi justru membuat keluarga semakin cemas,” ujarnya.
Kini perhatian masih tertuju ke Batang Barus.
Petugas terus melakukan pencarian. Masyarakat menunggu kabar. Keluarga korban berharap segera memperoleh kepastian. Pemerintah dan berbagai unsur yang terlibat juga masih melakukan pendataan.
Di tengah lumpur, puing dan suasana duka, satu harapan menyatukan semuanya: semoga seluruh korban yang masih di cari segera di temukan dan seluruh data dapat terungkap secara akurat. (tim)
