Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Ranji Silsilah Kesultanan Inderapura: Jejak Peradaban Melayu-Minangkabau Dipaparkan di Istana Wakil Presiden RI

Saturday, October 31, 2026 | October 31, 2026 WIB Last Updated 2026-10-31T01:34:10Z

Ranji Silsilah Kesultanan Inderapura: Jejak Peradaban Melayu-Minangkabau Dipaparkan di Istana Wakil Presiden RI


JAKARTA, PIONIR– Khazanah sejarah dan kebesaran peradaban Melayu-Minangkabau kembali mendapat perhatian melalui pemaparan Manuskrip Ranji Silsilah Kesultanan Inderapura oleh Assoc. Prof. St. Youdhi Prayogo, SE, ME, Daulat Sultan Muhammad Syah, kepada Prof. Dr. KH. Ma’ruf Amin saat menjabat Wakil Presiden Republik Indonesia di Istana Wakil Presiden, Jakarta.

Dalam kesempatan tersebut, Sultan Muhammad Syah memperkenalkan manuskrip bersejarah yang mendokumentasikan silsilah raja-raja dan keluarga Kesultanan Inderapura. Naskah ini bukan sekadar catatan genealogis, melainkan dokumen penting yang merekam hubungan kekerabatan, struktur dinasti, pemerintahan, wilayah adat, serta jaringan hubungan politik dan kebudayaan Kesultanan Inderapura dengan berbagai kerajaan di Nusantara dan kawasan Melayu.

Manuskrip berbentuk gulungan panjang ini memiliki keunikan dari sisi bentuk maupun isinya. Ditulis menggunakan aksara Jawi atau Arab-Melayu, naskah tersebut menyajikan susunan silsilah melalui lingkaran-lingkaran yang saling terhubung, menggambarkan pertalian keturunan dan hubungan keluarga kerajaan. Keberadaan cap mohor kerajaan pada bagian-bagian tertentu juga memperlihatkan tradisi dokumentasi dan otoritas dalam lingkungan pemerintahan kerajaan Melayu.

Berdasarkan dokumentasi penelitian tahun 2004, manuskrip yang dikaji tercatat memiliki panjang sekitar 5,07 meter dan lebar 57,2 sentimeter. Dokumentasi tersebut menyebutkan 33 nama penguasa serta ratusan nama keluarga kerajaan dan unsur Bundo Kanduang. Data ini menjadi salah satu pintu masuk untuk menelusuri perjalanan dinasti dan struktur kekerabatan Kesultanan Inderapura.

Sultan Nan Salapan dan jaringan kekuasaan Melayu

Salah satu bagian penting dalam tradisi Ranji Silsilah Kesultanan Inderapura adalah catatan mengenai Sultan Nan Salapan. Tradisi ini menggambarkan jaringan delapan pusat pemerintahan atau wilayah kesultanan yang memiliki hubungan dengan Inderapura dan kawasan kerajaan lainnya.

Dalam salah satu versi ranji yang dipublikasikan, Sultan Nan Salapan dikaitkan dengan sejumlah wilayah, antara lain Aceh hingga Malaka, Palembang dan kawasan Musi, Indragiri, Jambi, Sungai Pagu, Pasaman, Pulau Bantan hingga Betawi, serta Inderapura sebagai salah satu pusat penting dalam jaringan tersebut.

Penyebutan wilayah-wilayah ini memberikan gambaran mengenai luasnya cakupan hubungan politik, adat, dan kekerabatan yang dikenal dalam tradisi kerajaan. Namun, catatan tersebut perlu dibaca berdasarkan konteks zamannya. Penyebutan suatu wilayah tidak serta-merta berarti seluruh kawasan berada di bawah kedaulatan langsung Inderapura sebagaimana konsep batas negara modern. Hubungan antarkerajaan pada masa itu dapat berbentuk ikatan genealogis, perkawinan, persekutuan, pengakuan adat, hubungan diplomatik, maupun pengaruh politik regional.

Dengan demikian, Sultan Nan Salapan menjadi salah satu aspek penting untuk memahami bagaimana Inderapura menempatkan diri dalam jaringan kekuasaan dunia Melayu, yang tidak hanya dibangun melalui kekuatan pemerintahan, tetapi juga melalui hubungan keluarga, perdagangan, adat, dan diplomasi.

Hubungan historis dengan Aceh dan Banten

Kesultanan Inderapura memiliki hubungan historis dengan sejumlah kerajaan besar di Nusantara, termasuk Kesultanan Aceh dan Banten. Pada abad ke-16, pesisir barat Sumatera merupakan kawasan strategis dalam perdagangan maritim, terutama komoditas lada. Posisi geografis Inderapura menjadikannya bagian dari jaringan perdagangan dan diplomasi yang menghubungkan Selat Malaka, pesisir barat Sumatera, hingga Selat Sunda.

Hubungan dengan Aceh antara lain tercermin melalui perkawinan politik Raja Dewi, putri Sultan Munawar Syah dari Inderapura, dengan seorang pangeran dari lingkungan istana Aceh. Ikatan tersebut memperkuat hubungan kekerabatan antara kedua kerajaan. Keturunan yang memiliki hubungan dengan Inderapura juga tercatat memainkan peranan dalam dinamika pergantian kekuasaan Kesultanan Aceh pada akhir abad ke-16.

Sementara itu, hubungan Inderapura dengan Banten berkembang dalam konteks perdagangan dan pertalian keluarga kerajaan. Sejumlah catatan sejarah menyebutkan adanya hubungan perkawinan antara putri Inderapura dan Sultan Maulana Hasanuddin, penguasa awal Kesultanan Banten. Hubungan ini memperlihatkan keterhubungan Inderapura dengan pusat-pusat kekuasaan Islam di Nusantara sekaligus menunjukkan pentingnya perkawinan kerajaan sebagai instrumen diplomasi pada masa itu.

Jejak hubungan dengan Brunei Darussalam dan kawasan Melayu

Jaringan hubungan Inderapura juga dapat ditelusuri ke kawasan Kalimantan, termasuk Brunei Darussalam. Tulisan Yulizal Yunus mengenai hubungan Inderapura dan Brunei mencatat tradisi lisan tentang penyebaran keturunan keluarga kerajaan Inderapura ke Brunei sekitar tahun 1625. Salah satu nama yang disebut dalam tradisi tersebut adalah Bandaro Harun atau Sultan Harun Syah.

Catatan ini menjadi petunjuk mengenai kemungkinan hubungan genealogis dan migrasi keluarga kerajaan Inderapura ke kawasan Brunei. Untuk memperoleh kepastian sejarah yang lebih kuat, informasi tersebut masih perlu ditelusuri melalui penelitian arsip, manuskrip Brunei, dan perbandingan silsilah kedua lingkungan kerajaan.

Hubungan Inderapura dengan kawasan Melayu lainnya juga perlu dilihat dalam konteks mobilitas penduduk, perdagangan, perkawinan, penyebaran Islam, serta pertalian adat dan kekerabatan. Jaringan tersebut menunjukkan bahwa sejarah Inderapura tidak dapat dipahami hanya dalam batas wilayah administratif masa kini, melainkan sebagai bagian dari dinamika peradaban maritim yang menghubungkan pesisir barat Sumatera dengan pedalaman Minangkabau, Jambi, Kerinci, kawasan Selat Malaka, dan Kalimantan.

Inderapura sebagai kerajaan maritim dan pusat perdagangan

Kesultanan Inderapura yang berpusat di kawasan Pesisir Selatan, Sumatera Barat, memiliki rekam jejak panjang sebagai salah satu kekuatan politik dan perdagangan maritim di pesisir barat Sumatera. Aktivitas perdagangan lada, emas, dan hasil bumi menjadi bagian penting dari perkembangan ekonomi kerajaan serta hubungannya dengan berbagai pelabuhan dan pusat kekuasaan regional.

Hubungan Inderapura dengan Kerinci dan Jambi juga memperlihatkan keterkaitan antara kawasan pesisir dan pedalaman. Jalur perdagangan tidak hanya menjadi sarana pertukaran komoditas, tetapi turut membuka ruang bagi pertukaran budaya, hubungan kekerabatan, penyebaran agama, dan interaksi politik antarkelompok masyarakat.

Dalam tradisi sejarah wilayah, cakupan pengaruh Inderapura kerap dihubungkan dengan kawasan dari Sekilang Air Bangis di utara hingga Taratak Air Hitam dan Muara Ketahun di selatan, dengan Samudra Hindia di sebelah barat serta wilayah Kerinci dan Jambi di sebelah timur. Penyebutan ini perlu dipahami sebagai gambaran historis mengenai ruang pengaruh dan hubungan regional, bukan sebagai batas kedaulatan yang telah terbukti secara kartografis dalam pengertian modern.

Kajian akademis dan pentingnya pelestarian manuskrip

Nilai sejarah Ranji Silsilah Kesultanan Inderapura juga tercermin dari perhatian kalangan akademisi dan pemerhati pernaskahan. Naskah ini pernah menjadi bahan kajian Kelompok Kajian Puitika Fakultas Sastra Universitas Andalas, antara lain oleh M. Yusuf, Yusriwal, Adriyetti Amir, dan Zuriati, bersama pemerhati sejarah Emral Djamal Datuk Rajo Mudo.

Kajian tersebut turut berkembang melalui Simposium Internasional Pernaskahan Nusantara VIII yang diselenggarakan Masyarakat Pernaskahan Nusantara (MANASSA) bersama UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada 26–28 Juli 2004. Dalam forum tersebut, Emral Djamal Datuk Rajo Mudo memaparkan makalah berjudul Menelusuri Jejak Sejarah Manuskrip Pemerintah Usali Kesultanan Inderapura di Pesisir Selatan–Sumatera Barat.

Berbagai kajian sejarah, termasuk penelitian mengenai hubungan Inderapura dengan Kerinci dan Jambi, memperlihatkan pentingnya manuskrip ini sebagai sumber untuk memahami sejarah politik, perdagangan, dan kebudayaan kawasan. Penelitian Hafiful Hadi Sunliensyar dalam buku Tanah, Kuasa, dan Niaga (2020), misalnya, menguraikan dinamika hubungan masyarakat Kerinci dengan kerajaan-kerajaan Islam di sekitarnya pada abad ke-16 hingga ke-19.

Secara akademis, Ranji Inderapura memiliki potensi besar sebagai sumber penelitian multidisipliner, meliputi filologi, historiografi, genealogi, antropologi, sejarah politik, dan sejarah maritim. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menguji nama tokoh, kronologi pemerintahan, hubungan antardinasti, serta makna politik dan adat yang terkandung dalam manuskrip.

Bagi Sultan Muhammad Syah, pengenalan manuskrip di Istana Wakil Presiden merupakan bagian dari upaya mengangkat kembali warisan sejarah dan identitas Kesultanan Inderapura. Pelestarian manuskrip tidak hanya berkaitan dengan menjaga peninggalan leluhur, tetapi juga memastikan generasi mendatang dapat mengakses sumber sejarah yang dipelajari dan dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Upaya tersebut perlu dilanjutkan melalui digitalisasi naskah, transliterasi aksara Jawi, kajian filologi, penelitian sejarah lintas wilayah, serta kolaborasi dengan perguruan tinggi, lembaga kebudayaan, dan institusi pernaskahan. Dengan demikian, manuskrip ini dapat terus dikembangkan sebagai sumber pengetahuan dan dokumentasi sejarah nasional.

Ranji Silsilah Kesultanan Inderapura bukan sekadar catatan tentang para leluhur dan raja-raja yang pernah memerintah. Di dalamnya tersimpan jejak perjalanan identitas, kekerabatan, adat, perdagangan, diplomasi, dan peradaban yang menghubungkan Inderapura dengan dunia Melayu dan Nusantara.

Mengenalkan manuskrip ini berarti membuka kembali lembaran sejarah Nusantara, sekaligus menjaga agar warisan intelektual dan kebudayaan leluhur tetap hidup dalam ingatan generasi mendatang.

×
Berita Terbaru Update