Febrita, S.Pd, M.Pd.I Jangan Tunggu Pelajar Jadi Korban, Pencegahan Narkotika Harus Dimulai dari Madrasah

iklan adsense

Febrita, S.Pd, M.Pd.I Jangan Tunggu Pelajar Jadi Korban, Pencegahan Narkotika Harus Dimulai dari Madrasah


KABUPATEN SOLOK, PIONIRUpaya menyelamatkan generasi muda dari ancaman narkotika membutuhkan komitmen yang kuat, konsisten dan dilakukan secara bersama-sama. Tidak cukup hanya mengandalkan aparat penegak hukum untuk memberantas jaringan peredaran gelap narkotika, tetapi langkah pencegahan harus dimulai dari lingkungan terkecil, termasuk keluarga dan lembaga pendidikan.

Kesadaran itulah yang terus dibangun Kepala Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Kabupaten Solok Plus Keterampilan, Febrita, S.Pd., M.Pd.I.

Di tengah perkembangan zaman yang semakin cepat, Febrita memahami bahwa tantangan yang dihadapi generasi muda juga semakin kompleks. Pelajar tidak hanya dituntut memiliki kemampuan akademik, tetapi juga harus mempunyai karakter, ketahanan diri dan kemampuan untuk mengambil keputusan yang tepat ketika berhadapan dengan berbagai pengaruh negatif. Salah satu ancaman yang menjadi perhatian serius adalah penyalahgunaan narkotika.

Febrita memahami betul bahwa narkotika bukanlah persoalan sederhana. Kejahatan narkotika telah tergolong sebagai kejahatan luar biasa atau extraordinary crime, karena dampaknya dapat merusak individu, keluarga, lingkungan sosial dan masa depan bangsa.

Karena itu, dirinya tidak ingin lingkungan madrasah hanya menjadi tempat berlangsungnya kegiatan belajar mengajar. MAN 1 Kabupaten Solok Plus Keterampilan juga harus menjadi salah satu benteng untuk membangun karakter dan ketahanan diri peserta didik.

Bagi Febrita, mencegah lebih baik daripada menunggu seorang anak terjerumus dan kemudian baru dilakukan penanganan.

“Pelajar harus diberikan pemahaman sejak dini. Mereka harus tahu apa bahayanya, bagaimana menghindarinya dan yang paling penting memiliki keberanian untuk mengatakan tidak terhadap narkotika,” demikian semangat yang terus dikembangkan di lingkungan madrasah tersebut.

Jangan Tunggu Anak Menjadi Korban

Persoalan narkotika, menurutnya, tidak boleh hanya dibicarakan setelah ada korban. Pencegahan harus dilakukan sebelum persoalan itu terjadi. Karena itu, edukasi menjadi salah satu senjata penting. Anak-anak perlu diberikan pengetahuan yang benar sehingga tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang keliru, ajakan teman, lingkungan pergaulan maupun berbagai bentuk bujuk rayu yang dapat membawa mereka ke dalam penyalahgunaan narkotika. Di sinilah peran madrasah menjadi sangat penting. Guru bukan hanya berperan sebagai tenaga pendidik, tetapi juga menjadi sosok yang dapat memberikan perhatian dan pendampingan kepada peserta didik.

Sementara itu, orang tua merupakan benteng pertama di dalam keluarga. Jika sekolah dan keluarga memiliki komunikasi yang baik, maka berbagai persoalan yang dihadapi anak dapat diketahui lebih awal dan di carikan solusi bersama.

Semangat itulah yang ingin terus diperkuat Febrita di MAN 1 Kabupaten Solok Plus Keterampilan.

Gandeng LAN Kabupaten Solok

Untuk memperkuat gerakan pencegahan tersebut, MAN 1 Kabupaten Solok Plus Keterampilan menggandeng Lembaga Anti Narkotika (LAN) Kabupaten Solok.

Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari upaya memberikan edukasi kepada para pelajar mengenai bahaya penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika.

Kerja sama dengan LAN juga menjadi bukti bahwa dunia pendidikan tidak berjalan sendiri dalam menghadapi ancaman narkotika.

Organisasi masyarakat, pemerintah, aparat penegak hukum, keluarga dan seluruh elemen masyarakat harus berada dalam satu barisan.

Upaya tersebut kembali diwujudkan pada Senin, 13 Juli 2026 kemaren, ketika edukasi mengenai bahaya narkotika digelar di lingkungan MAN 1 Kabupaten Solok Plus Keterampilan.

Kegiatan berlangsung dalam suasana edukatif dan menjadi momentum untuk mengingatkan kembali para pelajar agar tidak memberikan ruang sedikit pun bagi narkotika dalam kehidupan mereka.

Pesan yang dibangun bukan sekadar menakut-nakuti pelajar dengan ancaman hukuman, tetapi menumbuhkan kesadaran bahwa menjaga diri dari narkotika merupakan bentuk tanggung jawab terhadap masa depan mereka sendiri.

Firman Sikumbang Turun Langsung

Kegiatan tersebut mendapat perhatian dari Ketua LAN Provinsi Sumatera Barat Firman Sikumbang, orang nomor satu di LAN Sumbar itu hadir langsung di sekolah tersebut bersama Tim P4GN LAN Provinsi Sumatera Barat, yakni Muchsin, S.Sos., dan Ipatri Nutmajdi, SP., MP beserta Ketua LAN Kabupaten Solok YP, Sefdi Roentoe, S.Pd

Kehadiran jajaran LAN Sumbar semakin memperkuat pesan bahwa perang terhadap narkotika harus dilakukan secara berkelanjutan. Tidak boleh ada istilah lelah dalam melakukan pencegahan. Sebab, jaringan peredaran gelap narkotika akan terus mencari celah untuk menyasar generasi muda. Karena itu, benteng pertahanan juga harus semakin kuat.

Firman Sikumbang mengapresiasi komitmen Kepala MAN 1 Kabupaten Solok Plus Keterampilan yang terus memberikan perhatian terhadap persoalan narkotika.

Menurut Firman, keberadaan kepala sekolah atau kepala madrasah yang memiliki kepedulian terhadap P4GN sangat penting.

“Kita sangat mengapresiasi kepala madrasah yang memiliki komitmen tinggi dalam melindungi peserta didiknya dari ancaman narkotika. Ini merupakan bentuk tanggung jawab moral untuk menyelamatkan generasi muda kita,” ujar Firman.

Menurutnya, sekolah dan madrasah merupakan salah satu tempat paling strategis untuk menanamkan kesadaran antinarkotika.

Pelajar yang diberikan pemahaman sejak dini diharapkan memiliki kemampuan untuk melindungi dirinya sendiri.

Pelajar Harus Memiliki Benteng Diri

Firman menegaskan bahwa benteng terhadap narkotika tidak hanya berupa aturan. Benteng yang paling kuat justru berada dalam diri masing-masing individu. Karena itu, para pelajar harus memiliki prinsip yang kuat.

Ketika mendapatkan ajakan yang mengarah kepada penyalahgunaan narkotika, mereka harus mampu mengatakan tidak. Ketika berada di lingkungan yang berpotensi memberikan pengaruh buruk, mereka harus memiliki keberanian untuk menjauh. Dan ketika menemukan sesuatu yang mencurigakan, mereka harus mengetahui kepada siapa informasi tersebut dapat disampaikan.

“Kita ingin pelajar memiliki benteng dari dalam dirinya sendiri. Jangan sampai karena ingin dianggap hebat, ingin diterima dalam kelompok atau karena rasa ingin tahu, mereka justru mengambil keputusan yang dapat menghancurkan masa depannya,” tegas Firman.

Menurutnya, tidak ada keuntungan sedikit pun dari narkotika. Sebaliknya, penyalahgunaan narkotika dapat membawa seseorang semakin jauh dari cita-cita dan masa depan yang sedang dibangun.

MAN 1 Kabupaten Solok Jadi Bagian dari Gerakan P4GN

Komitmen MAN 1 Kabupaten Solok Plus Keterampilan tersebut sejalan dengan gerakan LAN Sumatera Barat yang terus memperluas edukasi P4GN melalui program LAN Go to School.

Program tersebut menjadi salah satu strategi LAN untuk mendekatkan pesan antinarkotika kepada generasi muda. Sekolah bukan hanya dijadikan lokasi penyuluhan, tetapi juga diharapkan menjadi pusat lahirnya gerakan pelajar yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan. Pelajar dapat menjadi agen perubahan di lingkungan sekolah dan keluarga.

Mereka dapat menyampaikan pesan positif kepada teman sebaya dan mengajak lingkungan pergaulan untuk menjauhi narkotika. Dengan cara tersebut, pesan antinarkotika tidak berhenti setelah kegiatan selesai. Pesan itu terus bergerak dari satu pelajar kepada pelajar lainnya.

Febrita, Anak-Anak Harus Diselamatkan

Bagi Febrita, setiap anak yang berada di lingkungan madrasah merupakan amanah yang harus dijaga. Mereka datang ke sekolah membawa cita-cita. Ada yang ingin menjadi guru, dokter, polisi, pengusaha, akademisi, profesional, pemimpin dan berbagai profesi lainnya. Cita-cita tersebut harus dijaga bersama, jangan sampai masa depan mereka rusak hanya karena salah memilih lingkungan pergaulan.

Karena itu, Febrita terus mendorong agar pendidikan karakter dan edukasi mengenai bahaya narkotika berjalan beriringan dengan pendidikan akademik.

Menurutnya, keberhasilan sebuah lembaga pendidikan tidak hanya dapat diukur dari prestasi akademik peserta didiknya.

Lebih dari itu, keberhasilan juga terlihat dari kemampuan madrasah membentuk anak-anak yang memiliki karakter baik, disiplin, bertanggung jawab dan mampu menjaga dirinya dari berbagai ancaman.

Sinergi Harus Terus Diperkuat

Kegiatan di MAN 1 Kabupaten Solok Plus Keterampilan tersebut sekaligus memperlihatkan pentingnya sinergi antara lembaga pendidikan dan organisasi masyarakat dalam mendukung P4GN.

LAN Kabupaten Solok menjadi bagian penting dalam membangun komunikasi dengan lingkungan pendidikan.

Sementara LAN Provinsi Sumatera Barat terus mendorong agar gerakan pencegahan dapat berkembang di berbagai daerah.

Langkah tersebut menjadi semakin penting karena persoalan narkotika tidak mengenal batas wilayah. Karena itu, pencegahan juga tidak boleh dibatasi oleh wilayah administrasi. Dari sekolah, pesan itu harus sampai ke keluarga. Dari keluarga, pesan tersebut diteruskan kepada lingkungan. Dari lingkungan, terbentuk masyarakat yang memiliki kepedulian bersama.

Bukan Hanya Tugas Polisi

Firman Sikumbang juga mengingatkan bahwa pemberantasan narkotika bukan semata-mata tugas polisi atau aparat penegak hukum.

Aparat memiliki tugas dan kewenangan dalam penindakan, tetapi masyarakat memiliki peran besar dalam pencegahan. Guru memiliki peran. Orang tua memiliki peran. Tokoh masyarakat memiliki peran. Tokoh agama memiliki peran. Organisasi kemasyarakatan memiliki peran. Dan tentu saja, para pelajar juga memiliki peran. Semua harus mengambil bagian.

“Kalau kita ingin Ranah Minang benar-benar bebas dari narkotika, maka seluruh komponen masyarakat harus bergerak. Jangan menunggu anak kita menjadi korban baru kita sadar bahwa narkotika sangat berbahaya,” ujar Firman.

Dari Madrasah, Menyelamatkan Masa Depan Bangsa

Langkah yang dilakukan Febrita bersama jajaran MAN 1 Kabupaten Solok Plus Keterampilan, LAN Kabupaten Solok dan LAN Provinsi Sumatera Barat menjadi gambaran bahwa perang melawan narkotika dapat dimulai dari ruang-ruang pendidikan.

Tidak harus menunggu persoalan terjadi. Tidak harus menunggu ada korban. Pencegahan dapat dimulai dari sebuah percakapan di ruang kelas, dari nasihat seorang guru, dari perhatian orang tua, dari keteladanan pemimpin sekolah dan dari keberanian seorang pelajar mengatakan “tidak” terhadap narkotika.

Karena satu anak yang terselamatkan dari narkotika berarti satu masa depan yang berhasil dipertahankan.

Satu pelajar yang mampu menolak ajakan penyalahgunaan narkotika berarti satu keluarga yang terhindar dari persoalan besar.

Dan semakin banyak generasi muda yang memiliki benteng diri, semakin kuat pula harapan untuk membangun masyarakat yang sehat dan berkarakter.

Komitmen tersebut kini terus digaungkan dari MAN 1 Kabupaten Solok Plus Keterampilan.

Febrita bersama jajaran madrasah tidak ingin hanya mencetak generasi yang cerdas secara akademik, tetapi juga generasi yang kuat secara karakter, memiliki prinsip dan mampu menjaga dirinya dari ancaman narkotika.

Sementara LAN Sumatera Barat bersama LAN Kabupaten Solok terus memperkuat gerakan P4GN melalui edukasi dan kolaborasi. Semuanya bermuara pada satu tujuan, menyelamatkan geberasi muda, dan mewujudkan Ranah Minang bebas dari narkotika, tukasnya (tim)


iklan adsense

Post a Comment

0 Comments