Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

"Surau Nan Tatingga" Ketika Benteng Moral Ranah Minang Mulai Sunyi

Friday, August 28, 2026 | August 28, 2026 WIB Last Updated 2026-08-28T09:35:59Z

"Surau Nan Tatingga" Ketika Benteng Moral Ranah Minang Mulai Sunyi

Penulis : Firman Sikumbang

Ketua Lembaga Anti Narkotika (LAN) Provinsi Sumatera Barat


Ada yang berubah di Ranah Minang. Bukan hanya wajah kampung yang semakin ramai oleh bangunan dan kendaraan, tetapi juga kehidupan sosial masyarakat yang perlahan mengalami perubahan.

Dahulu, ketika malam tiba, surau menjadi salah satu pusat kehidupan masyarakat. Bagi lelaki Minangkabau, surau bukan sekadar tempat menunaikan ibadah. Surau adalah rumah kedua.

Di sanalah anak laki-laki belajar mengaji, menimba ilmu agama, mengenal adat, mendengarkan petuah para orang tua, belajar silek dan membangun rasa persaudaraan. Bahkan, bagi sebagian lelaki Minang, surau menjadi tempat mereka tidur. Dari surau mereka belajar hidup mandiri sebelum kelak merantau dan menghadapi kehidupan yang lebih luas.

Surau pada masa itu adalah sekolah kehidupan. Di sana ilmu dan akhlak berjalan beriringan. Anak-anak tidak hanya diajarkan bagaimana membaca Al-Qur'an, tetapi juga bagaimana menghormati orang tua, menghargai sesama, menjaga marwah keluarga dan bertanggung jawab terhadap lingkungan.

Namun hari ini, kita menyaksikan banyak surau yang mulai kehilangan keramaian. Bangunannya masih berdiri. Kubahnya masih menjulang. Pengeras suara masih terdengar ketika azan berkumandang. Tetapi suasana yang dahulu begitu hidup perlahan menghilang.

Anak-anak semakin jarang mengaji. Remaja lebih banyak menghabiskan waktu dengan gawai dan media sosial. Halaman surau yang dahulu menjadi tempat belajar silek semakin sepi.

Surau nan tatingga. Bukan karena tidak ada lagi bangunan surau, tetapi karena kita mulai meninggalkan fungsi sosial dan pendidikannya. Sebagai Ketua Lembaga Anti Narkotika (LAN) Provinsi Sumatera Barat, saya merasa prihatin melihat kondisi anak muda kita saat ini.

Kita sedang menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Peredaran dan penyalahgunaan narkotika menjadi ancaman serius bagi generasi muda. Di tengah lemahnya pengawasan dan pembinaan, berbagai persoalan sosial lainnya juga muncul dan berkembang di tengah masyarakat.

Fenomena prostitusi dan perilaku seksual menyimpang, termasuk LGBT, menjadi perbincangan yang semakin sering kita dengar di tengah masyarakat. Semua persoalan ini semestinya tidak hanya disikapi dengan kemarahan atau stigma, tetapi juga dengan pendidikan, pembinaan, pengawasan, pendampingan dan penguatan keluarga, Jangan sampai baru tersadar setelah anak-anak kita menjadi korban.

Narkotika dapat menghancurkan masa depan seorang anak. Begitu pula lingkungan pergaulan yang tidak sehat dapat membawa mereka semakin jauh dari nilai agama, adat dan tanggung jawab sosial.

Karena itu, kita membutuhkan benteng. Salah satu benteng yang dahulu terbukti kuat adalah surau.

Surau Sebagai Benteng Generasi. Kita tidak sedang mengajak masyarakat kembali sepenuhnya kepada pola kehidupan masa lalu. Zaman telah berubah. Anak-anak sekarang hidup dalam dunia digital dan menghadapi tantangan yang jauh berbeda.

Tetapi nilai-nilai baik dari masa lalu tidak boleh ikut hilang. Surau harus kembali menjadi ruang pembentukan karakter.

Anak-anak dapat belajar mengaji. Remaja dapat berdiskusi. Pemuda dapat belajar silek. Para orang tua dapat memberikan keteladanan. Niniak mamak, alim ulama dan bundo kanduang dapat kembali memainkan peran dalam membimbing generasi.

Surau juga bisa menjadi tempat edukasi tentang bahaya narkotika, pergaulan sehat, etika bermedia sosial dan berbagai persoalan yang di hadapi generasi muda.

Dengan demikian, surau tidak menjadi simbol masa lalu. Surau justru menjadi benteng masa depan.

Jangan Salahkan Anak Muda Semata

Kita sering melihat anak muda yang terjerumus kemudian buru-buru menyalahkan mereka. Tetapi mari kita bertanya lebih dalam. Di mana mereka belajar nilai kehidupan? Dengan siapa mereka berdiskusi ketika menghadapi persoalan? Siapa yang mendampingi mereka ketika mereka mulai salah memilih pergaulan? Dan apakah lingkungan keluarga, masyarakat serta lembaga pendidikan sudah benar-benar hadir? Anak muda membutuhkan bimbingan, bukan hanya penghakiman. Mereka membutuhkan teladan, bukan hanya nasihat. Mereka membutuhkan ruang untuk tumbuh, bukan sekadar larangan.

Di sinilah peran keluarga, sekolah, niniak mamak, alim ulama, bundo kanduang, pemuda dan pemerintah menjadi sangat penting.

Kembalikan Ruh Surau

Surau tidak harus menjadi seperti dahulu. Tetapi ruh surau harus kembali. Ruh yang mengajarkan bahwa seorang anak Minang harus memiliki ilmu. Ruh yang mengajarkan bahwa keberanian harus disertai akhlak. Ruh yang mengajarkan bahwa kecerdasan harus disertai tanggung jawab. Dan ruh yang mengajarkan bahwa kehidupan seorang anak Minang tidak boleh tercerabut dari agama dan adat.

Filosofi Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah jangan berhenti sebagai slogan yang hanya kita ucapkan dalam berbagai acara. Ia harus hadir dalam kehidupan sehari-hari. Kalau narkotika mulai merajalela, kita harus memperkuat pendidikan dan pencegahan. Kalau pergaulan bebas mulai mengkhawatirkan, kita harus memperkuat keluarga. Kalau anak-anak mulai kehilangan ruang pembinaan, kita harus menghidupkan kembali ruang-ruang sosial seperti surau.

Jangan menunggu generasi kita rusak baru kita sibuk mencari siapa yang harus disalahkan.

Surau Nan Tatingga Jangan Dibiarkan Sendiri

Saya membayangkan suatu malam nanti, selepas Magrib, surau-surau kembali ramai. Anak-anak datang membawa Al-Qur'an. Remaja duduk berdiskusi. Pemuda berlatih silek. Guru mengaji memberikan pelajaran. Orang tua datang mengawasi sekaligus memberi keteladanan. Niniak mamak menyampaikan petuah. Dan seluruh masyarakat merasa bahwa surau adalah rumah bersama. Jika itu terjadi, kita bukan sekadar menghidupkan kembali bangunan yang mulai sepi. Kita sedang menghidupkan kembali benteng moral generasi Minangkabau. Sebab narkotika tidak cukup di lawan dengan penindakan.

Persoalan sosial tidak cukup diselesaikan dengan kemarahan.

Generasi muda harus dibentengi sejak dini melalui keluarga, pendidikan, agama, adat dan lingkungan yang sehat.

Dan mungkin, salah satu jawabannya ada di depan mata kita sendiri. "Surau". Surau nan tatingga jangan dibiarkan menjadi saksi bisu perubahan zaman.

Mari hidupkan kembali surau. Sebab dari surau, dahulu lelaki Minang ditempa. Dari surau, ilmu diwariskan. Dari surau, akhlak di bentuk. Dan dari surau pula, kita berharap lahir kembali generasi Minangkabau yang berilmu, beradat, beragama dan bebas dari narkotika.



×
Berita Terbaru Update