Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

"BUNDO KANDUANG". MASIHKAH MENJADI BENTENG MORAL ANAK KEMANAKAN?

Wednesday, September 16, 2026 | September 16, 2026 WIB Last Updated 2026-09-15T23:06:25Z

"BUNDO KANDUANG". MASIHKAH MENJADI BENTENG MORAL ANAK KEMANAKAN?

Oleh: Firman Sikumbang.

Ada pertanyaan yang menurut saya perlu kita jawab dengan jujur: masihkah Bundo Kanduang hari ini benar-benar menjadi benteng moral anak kemanakan, atau perannya perlahan bergeser menjadi sekadar simbol dalam berbagai seremoni adat?

Pertanyaan ini bukan untuk merendahkan Bundo Kanduang. Justru sebaliknya, ini adalah bentuk kegelisahan terhadap semakin besarnya persoalan yang dihadapi generasi muda Minangkabau.

Dalam adat Minangkabau, Bundo Kanduang bukan sekadar perempuan yang mengenakan pakaian adat dalam sebuah acara. Ia adalah Limpapeh Rumah Nan Gadang. Di pundaknya melekat tanggung jawab moral, keteladanan dan pendidikan karakter anak kemenakan.

Karena itu, ketika narkotika mulai menyentuh lingkungan keluarga, ketika pergaulan remaja semakin sulit dikendalikan, ketika tawuran dan kekerasan melibatkan anak-anak muda, ketika pengaruh negatif dunia digital semakin kuat, kita patut bertanya:

Di mana Bundo Kanduang?

Bukan berarti mereka tidak berbuat. Banyak Bundo Kanduang yang bekerja dengan tulus di tengah masyarakat. Tetapi secara kelembagaan, kita perlu melakukan evaluasi. Jangan sampai energi organisasi lebih banyak terserap untuk pengukuhan, perlombaan, seremoni dan kegiatan yang bersifat seremonial, sementara persoalan sosial di tengah masyarakat membutuhkan perhatian yang jauh lebih serius.

Adat jangan hanya dipertontonkan. Adat harus dihidupkan. Saya kira inilah otokritik yang harus kita berani lakukan.

Apa artinya pakaian adat terlihat indah jika nilai yang terkandung di baliknya tidak lagi menjadi pedoman perilaku?

Apa artinya kita berbicara tentang Limpapeh Rumah Nan Gadang, tetapi rumah tangga dan lingkungan sosial anak kemenakan justru kehilangan keteladanan?

Dan apa artinya kita bangga dengan identitas Minangkabau, tetapi membiarkan generasi muda berjalan tanpa benteng ketika berhadapan dengan ancaman narkotika?

Saya melihat persoalan narkotika tidak bisa hanya di bebankan kepada  penegak hukum saja. ini adalah persoalan bersama. Keluarga, niniak mamak, alim ulama, cadiak pandai, pemuda, pemerintah, sekolah dan tentu saja Bundo Kanduang harus mengambil bagian.

Bundo Kanduang harus menjadi mata dan telinga keluarga.

Seorang ibu sering menjadi orang pertama yang mengetahui perubahan perilaku anak. Ketika seorang anak mulai berubah pergaulannya, prestasinya menurun, menjadi tertutup atau menunjukkan perilaku yang tidak biasa, keluarga harus peka.

Di sinilah peran Bundo Kanduang menjadi sangat penting dalam gerakan Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN).

Bundo Kanduang tidak harus menunggu narkotika masuk ke rumah. Pencegahan harus dilakukan jauh sebelum itu terjadi.

Begitu pula dengan persoalan keteladanan.

Gelar, jabatan dan pakaian adat tidak otomatis menjadikan seseorang teladan. Keteladanan lahir dari perilaku sehari-hari.

Perempuan Minang tentu boleh modern. Boleh berpendidikan tinggi, aktif berorganisasi, berkarya, menggunakan media sosial dan mengikuti perkembangan zaman. Tetapi modernitas jangan sampai membuat kita tercerabut dari akar nilai adat.

Kemajuan zaman harus berjalan bersama karakter.

Karena itu, Sumbang Duo Baleh jangan hanya menjadi materi yang dibicarakan dalam seminar atau kegiatan adat. Nilai-nilai tersebut harus kembali menjadi pedoman perilaku perempuan Minangkabau dalam kehidupan sehari-hari.

Saya berharap Bundo Kanduang berani melakukan transformasi. Jangan hanya hadir di gedung pertemuan. Turunlah ke sekolah. Datangi keluarga. Dekati pemuda. Hidupkan kembali komunikasi di tengah kaum dan nagari. Bersinergilah dengan niniak mamak dan unsur masyarakat lainnya.

Jika perlu, setiap kelompok Bundo Kanduang memiliki program pembinaan keluarga dan pencegahan narkotika di wilayah masing-masing.

Sebab ancaman terhadap generasi tidak mengenal seremoni.

Narkotika tidak menunggu acara pengukuhan. Peredaran gelap narkotika tidak mengenal batas organisasi. Kerusakan moral tidak berhenti hanya karena kita masih mengenakan pakaian adat.

Karena itu, saya ingin mengajak seluruh Bundo Kanduang di Ranah Minang untuk kembali kepada hakikatnya.

Jadilah ibu yang menjadi tempat anak pulang. Jadilah perempuan yang menjadi teladan. jadilah penjaga marwah keluarga.

Dan jadilah bagian terdepan dalam menyelamatkan anak kemenakan dari ancaman narkotika dan berbagai persoalan sosial lainnya.

Jangan sampai kita sibuk mempertahankan simbol adat, tetapi kehilangan ruh adat. Bundo Kanduang bukan sekadar nama dalam struktur organisasi. Bundo Kanduang adalah kekuatan moral Minangkabau.

Jika kekuatan itu kembali hidup di rumah, di kaum dan di nagari, saya yakin kita masih memiliki harapan besar untuk menyelamatkan generasi muda Ranah Minang.

Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah. Jangan hanya menjadi slogan. Mari kita hidupkan kembali dalam perilaku.


×
Berita Terbaru Update