KOLONEL CPL RAMIN MENANAM KEHIDUPAN, MERAWAT MASA DEPAN
Pagi di Sumatera Barat selalu menyimpan cerita.
Kabut perlahan terangkat dari punggung perbukitan. Sungai-sungai mengalir dari kawasan hulu menuju lembah dan kemudian bermuara ke laut. Di antara bukit, lembah dan pesisir itu, masyarakat menjalani kehidupan mereka, bertani, berkebun, melaut, berdagang dan membesarkan anak-anak.
Tetapi keindahan itu juga menyimpan kerentanan.
Hujan dengan intensitas tinggi dapat mengubah aliran sungai menjadi ancaman. Lereng yang kehilangan tutupan vegetasi mudah mengalami erosi. Banjir bandang atau galodo dapat datang membawa material dari kawasan hulu.
Di laut, persoalannya berbeda. Terumbu karang yang rusak berarti hilangnya salah satu rumah bagi kehidupan bawah laut. Bagi nelayan, kerusakan ekosistem pada akhirnya dapat berarti berkurangnya sumber penghidupan. Di tengah realitas itulah Kolonel Cpl Ramin, S.I.P., M.Tr.(Han), memandang arti sebuah pengabdian.
Perwira TNI Angkatan Darat ini tidak melihat pertahanan hanya dari satu sisi.
Ketika dipercaya mengemban amanah sebagai Kepala Peralatan Kodam (Kapaldam) XX/Tuanku Imam Bonjol (TIB), ia membawa perspektif bahwa menjaga ketahanan wilayah juga berarti menjaga lingkungan dan membangun kedekatan dengan masyarakat.
Negeri yang kuat membutuhkan alam yang sehat dan rakyat yang kuat. Ketika Sebatang Bambu Menjadi Benteng, ada sesuatu yang sederhana dalam gerakan penghijauan, "menanam."
Namun di balik aktivitas yang tampak sederhana itu tersimpan gagasan besar. Ramin memberikan perhatian terhadap penanaman rumpun bambu dan pohon produktif di kawasan yang membutuhkan penguatan vegetasi.
Bambu bukan sekadar tanaman yang tumbuh cepat. Sistem perakarannya yang rapat dapat membantu mengikat tanah dan mengurangi erosi. Dalam konteks konservasi, keberadaan vegetasi menjadi salah satu unsur penting dalam menjaga kestabilan lahan, terutama bila di padukan dengan pengelolaan kawasan dan daerah aliran sungai secara menyeluruh.
Bagi Sumatera Barat yang memiliki banyak kawasan perbukitan dan sungai, gagasan itu menjadi relevan. Namun Ramin tidak berhenti pada aspek konservasi.
Pohon produktif seperti durian dan alpukat turut menjadi bagian dari gagasan penghijauan. Sebab masyarakat tidak cukup hanya diminta menjaga alam. Mereka juga harus merasakan manfaat dari alam yang mereka rawat.
Kelak, pohon-pohon itu tumbuh. Kemudian berbunga. Menghasilkan buah. Dan memberi nilai ekonomi. Di sanalah penghijauan berubah menjadi investasi sosial.
Yang ditanam hari ini mungkin belum memberikan hasil bagi orang yang menanamnya. Tetapi anak cucu mereka bisa akan menikmati buahnya.
Menanam Harapan di Lereng-Lereng Negeri
Bagi Ramin, pohon bukan sekadar batang dan daun. Pohon adalah bagian dari sistem kehidupan. Ia menahan tanah, memberi keteduhan, menyediakan habitat bagi makhluk hidup dan, pada jenis tertentu, menghasilkan pangan bagi manusia.
Karena itu, gerakan penanaman membutuhkan kesinambungan. Tidak cukup menanam lalu meninggalkannya. Bibit harus dirawat. Kawasan harus dijaga. Masyarakat harus dilibatkan. Dan kesadaran harus diwariskan. Di sinilah pendekatan lingkungan bertemu dengan semangat kemanunggalan TNI dan rakyat.
Prajurit hadir. Masyarakat ikut bergerak. Kelompok tani berpartisipasi. Mahasiswa turun ke lapangan. Tokoh masyarakat dan masyarakat adat ikut memberikan dukungan. Sebuah gerakan ekologis akhirnya menjadi gerakan bersama.
Dari Lereng Bukit, Pandangan Beralih ke Laut, Jika daratan membutuhkan pohon, laut membutuhkan terumbu karang.
Pesisir barat Sumatera memiliki kekayaan bahari yang luar biasa. Tetapi kekayaan itu bukan sesuatu yang boleh di anggap tidak akan pernah habis.
Terumbu karang adalah ekosistem penting bagi kehidupan laut.
Ketika karang mengalami kerusakan, dampaknya tidak berhenti pada dasar laut. Ia dapat berpengaruh terhadap keberadaan ikan, aktivitas nelayan, bahkan potensi wisata bahari. Karena itu, transplantasi terumbu karang menjadi salah satu bentuk kepedulian yang mendapat perhatian.
Di bawah permukaan laut, kehidupan dibangun kembali.
Struktur tertentu di tempatkan sebagai media tumbuh. Karang kemudian di kembangkan dan dirawat agar ekosistem dapat pulih secara bertahap.
Prosesnya tidak instan. Tetapi memang begitulah alam bekerja. Pelan. Sunyi. Namun memberi kehidupan.
Bagi nelayan tradisional, terumbu karang bukan sekadar objek konservasi. Ia adalah bagian dari rantai kehidupan yang menopang mata pencaharian. Bagi generasi muda, laut yang sehat adalah warisan. Dan bagi daerah, ekosistem laut yang terjaga dapat membuka peluang bagi pengembangan ekonomi dan wisata bahari yang berkelanjutan.
Seragam Yang Hadir untuk Rakyat
Ada satu hal lain yang tidak kalah penting dalam perjalanan pengabdian Ramin.
Di tengah berbagai aktivitas kedinasan, perhatian terhadap persoalan sosial menjadi bagian dari pendekatan kepemimpinannya.
Anjangsana. Santunan. Kepedulian kepada anak yatim. Perhatian kepada warakawuri. Bantuan bagi masyarakat yang membutuhkan.
Semua itu menjadi bentuk kehadiran yang sederhana, tetapi bermakna. Sebab masyarakat sering kali tidak membutuhkan pidato panjang. Mereka membutuhkan seseorang yang datang ketika mereka sedang kesulitan. Mereka membutuhkan tangan yang membantu. Mereka membutuhkan kepedulian. Dan mereka membutuhkan keyakinan bahwa negara tidak jauh dari kehidupan mereka.
Di situlah seragam TNI memperoleh makna lain. Bukan hanya simbol kekuatan. Tetapi juga simbol pengabdian.
Kemanunggalan Tidak Lahir dari Jarak
Hubungan antara TNI dan rakyat tidak dibangun dalam satu hari. Ia tumbuh dari interaksi. Dari gotong royong. Dari kepedulian. Dari kegiatan yang mempertemukan prajurit dan masyarakat dalam kepentingan yang sama.
Ketika prajurit ikut menanam pohon bersama petani, jarak itu menjadi lebih dekat. Ketika mereka berbicara dengan nelayan tentang laut, hubungan menjadi lebih manusiawi. Ketika hadir di tengah masyarakat yang sedang membutuhkan bantuan, kepercayaan pun tumbuh. Kemanunggalan bukan sekadar slogan. Ia adalah hubungan yang harus dirawat.
Pertahanan dengan Wajah yang Lebih Luas
Bagi seorang perwira TNI, tugas pertahanan tentu tetap menjadi fondasi utama. Namun pengalaman Ramin memperlihatkan bahwa pertahanan memiliki ruang yang lebih luas.
Ketika bencana ekologis mengancam masyarakat, diperlukan kesiapan. Ketika lingkungan rusak, masyarakat membutuhkan perhatian. Ketika sumber daya alam terancam, masa depan generasi berikutnya ikut dipertaruhkan. Karena itu, menjaga lingkungan sesungguhnya juga bagian dari membangun ketahanan.
Tanah yang terjaga. Hutan yang lestari. sungai yang sehat. Laut yang hidup. Masyarakat yang sejahtera. Semua itu merupakan bagian dari kekuatan sebuah wilayah.
Jejak yang Tidak Berhenti di Sebuah Jabatan
Setiap jabatan memiliki masa. Setiap perwira memiliki perjalanan. Tetapi ada jejak yang dapat bertahan lebih lama dari pada jabatan itu sendiri.
Sebuah pohon yang ditanam akan terus tumbuh. Sebuah kawasan yang dihijaukan dapat memberi manfaat bertahun-tahun. Terumbu karang yang dipulihkan dapat menjadi rumah bagi kehidupan laut. Dan kepedulian kepada masyarakat akan tinggal sebagai ingatan. Mungkin itulah ukuran lain dari sebuah pengabdian.
Bukan sekadar berapa lama seseorang menduduki sebuah posisi, tetapi seberapa banyak kebaikan yang sempat di tanam selama berada di sana.Kolonel Cpl Ramin memilih jalan itu. Jalan yang menghubungkan pertahanan dengan lingkungan. Jalan yang menghubungkan seragam dengan kemanusiaan. Jalan yang menghubungkan hari ini dengan masa depan.
Sebab negeri ini tidak hanya membutuhkan orang-orang yang mampu menjaganya dari ancaman. Negeri ini juga membutuhkan orang-orang yang mau merawatnya. Merawat tanahnya. Menjaga lautnya. Menghormati rakyatnya. Dan meninggalkan sesuatu yang dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
Karena pada akhirnya, pengabdian bukan hanya tentang berdiri menjaga negeri. Pengabdian juga tentang memastikan negeri yang dijaga itu tetap layak dihuni oleh anak cucu kita, tukasnya (tim)
