Kau Panggil Namaku Saat Ajal Menjemputmu
Aku masih mengingat jelas suara itu.
Napas Papa terdengar berat. Dadanya naik turun, mengikuti setiap hembusan napas yang semakin lemah. Sesekali terdengar rintihan lirih dari bibirnya. Di antara napas yang tersengal, ia berusaha mengucapkan kalimat la ilaha illallah.
Lalu, di tengah suasana yang begitu hening dan menyesakkan dada, terdengar suara yang sampai hari ini masih terngiang di telingaku.
“Anisa... Anisa...”
Papa memanggil namaku.
Entah untuk apa. Mungkin ia ingin memastikan aku masih berada di dekatnya. Mungkin ia ingin mengatakan sesuatu yang tak sempat disampaikan. Atau mungkin, itu adalah cara terakhir seorang ayah memanggil anaknya sebelum meninggalkan dunia.
Aku tidak pernah menyangka Papa akan pergi secepat itu.
Usianya baru 53 tahun. Bagi seorang anak, usia itu seharusnya masih menjadi masa ketika seorang ayah menikmati hari-hari bersama keluarga, melihat anak-anaknya tumbuh, bercanda, dan menjalani kehidupan dengan tenang.
Tetapi takdir berkata lain.
Papa, Doni Capuak, nama yang lebih akrab di telinga warga daripada nama sebenarnya, akhirnya berpulang ke rahmatullah.
Ia adalah sosok yang dikenal masyarakat di tempat tinggalku, di salah satu sudut Kota Padang. Sebuah kawasan yang selama ini dikenal masih kuat memegang adat dan agama.
Namun di balik kuatnya adat dan agama itu, ada pula persoalan sosial yang terkadang tidak terlihat, bahkan enggan di bicarakan.
Salah satunya adalah narkotika.
Dan Papa adalah bagian dari persoalan itu.
Papa seorang pengguna narkotika. Ketergantungannya bukan sesuatu yang terjadi sehari atau dua hari. Hampir setiap hari, narkotika menjadi bagian dari kehidupannya.
Ia tidak menggunakannya di dalam rumah. Ia lebih sering pergi ke sebuah pondok di ladang, di belakang rumah.
Di tempat yang jauh dari pandangan orang lain, Papa menghabiskan waktunya dengan narkotika.
Sebagai seorang anak, mungkin aku pernah melihatnya. Mungkin aku tahu apa yang sedang terjadi. Tetapi seorang anak tidak selalu memiliki kemampuan untuk memahami bahwa kebiasaan yang terlihat seperti sebuah pilihan itu perlahan sedang menghancurkan kehidupan orang yang dicintainya.
Waktu terus berjalan.
Dan tubuh Papa akhirnya tidak mampu lagi menanggung akibatnya.
Ia harus menjalani perawatan karena mengalami gagal ginjal dan komplikasi jantung.
Di sanalah aku mulai menyadari bahwa narkotika bukan sekadar cerita tentang seseorang yang memakai sesuatu yang terlarang.
Narkotika memiliki harga yang jauh lebih mahal.
Ia bisa mengambil kesehatan. Ia bisa mengambil masa depan. Ia bisa merenggut kebahagiaan sebuah keluarga. Dan pada akhirnya, ia bisa meninggalkan seorang anak dengan kenangan terakhir berupa suara ayahnya yang memanggil namanya.
“Anisa... Anisa...”
Papa mungkin telah pergi.
Tetapi panggilan itu tidak akan pernah pergi dari ingatanku.
Setiap kali mengingatnya, aku tidak hanya mengenang seorang ayah. Aku mengenang sebuah pelajaran hidup yang sangat mahal: bahwa narkotika tidak pernah benar-benar menjadi teman.
Ia datang seolah menawarkan ketenangan, tetapi meninggalkan persoalan yang panjang.
Ia mungkin dimulai dari rasa ingin mencoba, pergaulan, atau pelarian dari masalah. Namun ketika seseorang sudah terjerat, jalan keluarnya tidak selalu mudah.
Karena itu, jangan tunggu kehilangan orang yang kita cintai baru kemudian menyadari bahayanya.
Jangan tunggu seorang ayah terbaring sakit.
Jangan tunggu seorang ibu menangis.
Jangan tunggu seorang anak mendengar panggilan terakhir dari orang tuanya.
Jauhi narkotika sebelum ia mengambil orang yang kita cintai.
Dan untuk Papa...
Semoga Allah SWT mengampuni segala khilaf dan dosa Papa, menerima amal ibadahnya, melapangkan jalannya menuju keabadian, serta menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya.
Selamat jalan Papa
Panggilan terakhir itu akan selalu kusimpan.
“Anisa... Anisa...”
Penulis : Firman Sikumbang
Ketua Lembaga Anti Narkotika (LAN) Provinsi Sumatera Barat.
