Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Tuanku Alamsyah Arif Rahmansyah Marbun "Sumpah Pemuda Bukan Sekadar Seremoni. Keberagaman Adalah Kekuatan Menuju Indonesia Emas 2045"

Wednesday, October 28, 2026 | October 28, 2026 WIB Last Updated 2026-10-28T13:47:38Z

Tuanku Alamsyah Arif Rahmansyah Marbun "Sumpah Pemuda Bukan Sekadar Seremoni. Keberagaman Adalah Kekuatan Menuju Indonesia Emas 2045"


JAKARTA, PIONIR---- Peringatan Hari Sumpah Pemuda tidak boleh berhenti sebatas seremoni tahunan dan pengulangan sejarah. Lebih dari itu, momentum 28 Oktober harus menjadi pengingat bahwa kekuatan Indonesia terletak pada kemampuan seluruh elemen bangsa merawat keberagaman, memperkokoh persatuan, dan bergerak bersama menghadapi tantangan zaman.

Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional Forum Keberagaman Nusantara (FKN), Tuanku Alamsyah Arif Rahmansyah Marbun, menegaskan bahwa semangat Sumpah Pemuda 1928 merupakan fondasi penting dalam menjaga keutuhan bangsa sekaligus menjadi energi sosial untuk mewujudkan cita-cita Indonesia Emas 2045.

Menurutnya, Indonesia memiliki kekuatan besar yang tidak semata-mata di ukur dari kemajuan infrastruktur, perkembangan teknologi, maupun pertumbuhan ekonomi. Kekuatan sesungguhnya justru terletak pada kemampuan bangsa yang terdiri atas beragam suku, bahasa, keyakinan, dan kebudayaan untuk hidup berdampingan dalam satu ikatan kebangsaan.

"Perbedaan bukanlah dinding pemisah, melainkan anugerah agung yang mengikat kita dalam satu rumah besar bernama Indonesia," kata Alamsyah dalam keterangannya di Jakarta, Rabu.

Ia menilai, tantangan generasi muda saat ini semakin kompleks. Arus globalisasi, perkembangan teknologi digital, serta kecenderungan individualisme berpotensi mengikis kepedulian sosial apabila tidak di imbangi dengan penguatan karakter, rasa kebangsaan, dan kesadaran untuk menghargai sesama.

Karena itu, peringatan Sumpah Pemuda harus menjadi momentum bagi generasi Z, milenial, hingga generasi Alpha untuk kembali memahami bahwa persatuan bukan sekadar semboyan, melainkan tanggung jawab yang harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

Alamsyah mengingatkan, ego kelompok, fanatisme sempit, dan prasangka terhadap perbedaan tidak boleh menjadi penghalang bagi kemajuan bangsa. Sebaliknya, setiap perbedaan harus di kelola menjadi kekuatan bersama untuk menghadapi berbagai persoalan nasional.

"Mari kita ganti ego dengan kasih sayang, dan curiga dengan saling percaya. Dari cinta, lahir persatuan yang tak tergoyahkan," ujarnya.

FKN Dorong Pemuda Beragam, Bersatu, dan Berdaya

Dalam upaya merawat kebinekaan, FKN terus menyuarakan pentingnya membangun kesadaran bahwa keberagaman merupakan kekayaan bangsa yang harus di jaga bersama. Gerakan tersebut di jalankan melalui perjalanan dan penguatan komunikasi kebangsaan di berbagai wilayah, mulai dari Sumatera, Banten, Parahyangan, Kalimantan, Yogyakarta, hingga Maluku Utara.

Bagi FKN, merawat keberagaman bukan sekadar menyampaikan pesan toleransi, melainkan membangun ruang perjumpaan, memperkuat persaudaraan, dan menumbuhkan kepercayaan di tengah masyarakat yang memiliki latar belakang berbeda.

Alamsyah menyebut terdapat tiga nilai utama yang perlu menjadi pegangan generasi muda Indonesia, yakni beragam, bersatu, dan berdaya.

Beragam berarti menerima dan menghormati perbedaan suku, ras, agama, serta budaya sebagai kekayaan yang memperindah kehidupan bangsa.

Bersatu berarti menempatkan Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai landasan bersama, sekaligus menolak segala bentuk perpecahan yang dapat mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Sementara itu, berdaya berarti mendorong generasi muda mengembangkan kreativitas, memperkuat daya juang, meningkatkan kompetensi, serta berkontribusi nyata dalam pembangunan nasional.

Ketiga nilai tersebut, menurutnya, harus berjalan beriringan. Keberagaman tanpa saling menghormati dapat memicu konflik, persatuan tanpa penghargaan terhadap perbedaan dapat kehilangan makna, sedangkan potensi generasi muda tanpa semangat kebersamaan akan sulit menghasilkan kemajuan yang merata.

Menatap Indonesia Emas 2045

Menjelang satu abad kemerdekaan Indonesia, tantangan mewujudkan Indonesia Emas 2045 membutuhkan lebih dari sekadar pembangunan fisik dan penguasaan teknologi. Bangsa ini juga memerlukan ketahanan sosial, karakter generasi muda, serta kemampuan menjaga harmoni di tengah perbedaan.

Menurut Alamsyah, kemampuan masyarakat Indonesia untuk hidup berdampingan secara damai merupakan modal penting yang harus terus di pelihara. Persatuan tidak tumbuh dengan sendirinya, tetapi membutuhkan komitmen, keteladanan, dan kesediaan setiap warga negara untuk menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan golongan.

Semangat tersebut sejalan dengan pesan historis Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, ketika para pemuda dari berbagai latar belakang menyatukan tekad untuk mengakui satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa persatuan: Indonesia.

Kini, semangat yang sama perlu di terjemahkan dalam tindakan nyata, mulai dari menghargai perbedaan di lingkungan keluarga, membangun solidaritas di tengah masyarakat, hingga memanfaatkan teknologi digital secara bertanggung jawab.

Alamsyah mengajak seluruh pemuda dan pemudi Indonesia menjadikan peringatan Sumpah Pemuda sebagai momentum untuk memperkuat komitmen kebangsaan dan mengambil bagian dalam pembangunan negeri.

"Melalui momentum ini, FKN mengajak seluruh pemuda-pemudi Indonesia untuk membuktikan bahwa darah perjuangan Sumpah Pemuda 1928 tetap mengalir penuh gelora dan pantang menyerah demi kejayaan Indonesia Raya serta melangkah bersama menuju Indonesia Emas yang adil, makmur, dan sejahtera," tuturnya.

Pada akhirnya, Indonesia Emas 2045 bukan hanya tentang seberapa maju bangsa ini dalam bidang ekonomi dan teknologi, tetapi juga tentang seberapa kuat masyarakatnya menjaga persaudaraan di tengah keberagaman.

Sebab, kemajuan bangsa akan kehilangan makna apabila persatuan rapuh. Sebaliknya, keberagaman yang dirawat dengan ketulusan dan diperkuat oleh semangat gotong royong akan menjadi modal penting untuk membawa Indonesia menuju masa depan yang lebih maju, adil, dan bermartabat, tukasnya (*)

×
Berita Terbaru Update