Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Krisis Keteladanan Perempuan Minangkabau

Friday, August 28, 2026 | August 28, 2026 WIB Last Updated 2026-08-28T00:56:28Z

Krisis Keteladanan Perempuan Minangkabau

Penulis : Firman Sikumbang

Ketua Lembaga Anti Narkotika Provinsi Sumatera Barat

Firman Sikumbang

Dalam tatanan adat Minangkabau, tidak ada posisi yang lebih terhormat bagi seorang perempuan selain menjadi Bundo Kanduang. Gelar ini bukan sekadar sebutan, melainkan amanah besar yang diwariskan turun-temurun oleh para leluhur. Bundo Kanduang adalah simbol kebijaksanaan, penjaga adat, pelindung keluarga, pendidik generasi, dan pemegang kendali moral dalam kehidupan kaum.

Karena itulah lahir ungkapan yang sangat terkenal dalam adat Minangkabau, "Bundo Kanduang Limpapeh Rumah Nan Gadang." Limpapeh berarti tiang utama yang menopang kokohnya bangunan Rumah Gadang. Filosofi ini menegaskan bahwa perempuan Minangkabau merupakan penyangga utama kehidupan keluarga dan kaum. Dari tangan seorang Bundo Kanduang lahir generasi yang berakhlak, beradat, dan memahami nilai-nilai kehidupan.

Namun, jika kita jujur melihat kondisi hari ini, muncul pertanyaan yang sangat mendasar. Apakah peran itu masih dijalankan sebagaimana mestinya?

Realitas yang terlihat justru menimbulkan keprihatinan. Sosok Bundo Kanduang yang dahulu menjadi tempat bertanya, tempat meminta nasihat, dan menjadi penjaga marwah keluarga semakin jarang ditemukan. Yang muncul saat ini justru fenomena yang oleh sebagian masyarakat disebut sebagai "Bundo Kanduang Kapunduang."

Istilah ini memang terdengar keras, tetapi lahir dari kegelisahan terhadap semakin pudarnya fungsi dan peran Bundo Kanduang dalam kehidupan masyarakat. Banyak yang masih menyandang gelar Bundo Kanduang, tetapi tidak lagi menjalankan tanggung jawab moral yang melekat pada gelar tersebut. Gelarnya masih ada, tetapi perannya tidak lagi terasa.

Saat ini yang terlihat lebih menonjol adalah aktivitas seremonial, pertemuan-pertemuan formal, kegiatan yang bersifat euforia, bahkan tidak sedikit yang lebih sering terlihat menghabiskan waktu di kafe-kafe live music dan tempat hiburan dibandingkan melakukan pembinaan terhadap anak kemenakan. Padahal generasi muda Minangkabau saat ini sedang menghadapi berbagai tantangan besar, mulai dari penyalahgunaan narkotika, pergaulan bebas, kenakalan remaja, hingga lunturnya pemahaman terhadap adat dan budaya.

Dalam situasi seperti ini, seharusnya Bundo Kanduang tampil di garis depan sebagai benteng pertahanan moral. Mereka harus menjadi pelita yang menerangi jalan generasi muda, bukan justru larut dalam kehidupan yang menjauhkan mereka dari tugas dan tanggung jawab adat.

Lebih memprihatinkan lagi, banyak organisasi Bundo Kanduang yang saat ini lebih sibuk mengurus kegiatan seremonial dari pada menjalankan program pembinaan keluarga dan masyarakat. Acara demi acara digelar dengan meriah, tetapi hasilnya tidak banyak dirasakan oleh masyarakat. Sementara persoalan sosial terus berkembang tanpa ada upaya nyata yang mampu menyentuh akar permasalahan.

Padahal dalam adat Minangkabau, Bundo Kanduang memiliki posisi yang sangat strategis. Mereka adalah madrasah pertama bagi anak-anak. Mereka adalah penjaga nilai Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. Mereka adalah benteng yang menjaga agar marwah keluarga tidak tercoreng. Jika peran ini melemah, maka yang akan menerima dampaknya adalah seluruh sendi kehidupan masyarakat Minangkabau.

Karena itu, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa saat ini yang lebih banyak terlihat bukan lagi Bundo Kanduang Limpapeh Rumah Nan Gadang, melainkan Bundo Kanduang Kapunduang. Sebuah istilah yang menggambarkan kondisi ketika gelar masih dipertahankan, tetapi fungsi dan tanggung jawab yang menyertainya mulai di tinggalkan.

Tulisan ini bukan untuk menyalahkan atau merendahkan kaum perempuan Minangkabau. Sebaliknya, ini adalah bentuk keprihatinan sekaligus ajakan untuk mengembalikan marwah Bundo Kanduang ke tempat yang semestinya. Sebab Minangkabau tidak akan kuat tanpa perempuan yang kuat. Rumah Gadang tidak akan kokoh tanpa limpapeh yang kokoh.

Sudah saatnya Bundo Kanduang kembali menjadi panutan, kembali hadir di tengah keluarga dan masyarakat sebagai pendidik, pengayom, dan penjaga nilai-nilai luhur adat Minangkabau. Sebab masa depan adat Minangkabau tidak hanya ditentukan oleh para penghulu dan pemangku adat, tetapi juga oleh perempuan-perempuan hebat yang mampu menjalankan amanah sebagai Limpapeh Rumah Nan Gadang.

Jika tidak, maka gelar yang begitu mulia itu akan tinggal menjadi simbol tanpa makna. Dan masyarakat akan terus menyebutnya dengan nada sindiran yang menyakitkan, Bundo Kanduang Kapunduang. Sebuah sebutan yang lahir ketika kehormatan adat tidak lagi di iringi oleh tanggung jawab dan keteladanan.

×
Berita Terbaru Update