Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

"PATUIH TONGGA" MENGGUNCANG RANAH MINANG. ALAM MENGAMUK, RAKYAT MENANGIS, PEMERINTAH JANGAN TUTUP MATA!

Sunday, October 11, 2026 | October 11, 2026 WIB Last Updated 2026-10-11T02:36:59Z

"PATUIH TONGGA" MENGGUNCANG RANAH MINANG. ALAM MENGAMUK, RAKYAT MENANGIS, PEMERINTAH JANGAN TUTUP MATA!

Oleh: Firman Sikumbang



Ada kalanya langit Ranah Minang tidak sekadar mendung. Ia menghitam, bergemuruh, lalu melepaskan suara yang menggetarkan dada. Orang Minangkabau menyebutnya patuih tongga, petir besar yang menggelegar, seolah-olah alam sedang menyampaikan pesan yang tak lagi sanggup di ucapkan dengan kata-kata.

Namun, di tengah suara petir yang membelah langit itu, muncul sebuah pertanyaan yang jauh lebih menggetarkan hati, ketika alam sudah memberikan begitu banyak tanda, ketika tanah mulai kehilangan daya tahannya, ketika sungai meluap dan rumah-rumah rakyat terancam, apakah para pemegang kekuasaan benar-benar mendengar jeritan masyarakatnya?

Jangan sampai kita lebih takut mendengar suara petir dari pada mendengar tangisan rakyat sendiri.

Bencana yang datang ke Ranah Minang bukan sekadar persoalan hujan deras, banjir, longsor, atau kerusakan lingkungan. Di balik setiap musibah, ada kehidupan yang mendadak berubah. Ada seorang ayah yang kebingungan memikirkan tempat berteduh bagi anak dan istrinya. Ada seorang ibu yang hanya bisa memeluk anak-anaknya sambil berharap hari esok masih menyediakan harapan. Ada anak-anak yang belum mengerti mengapa rumah tempat mereka tumbuh dan bermain tiba-tiba tak lagi aman untuk di tinggali.

Bagi mereka, bencana bukanlah angka dalam laporan. Bukan pula sekadar grafik yang di paparkan dalam rapat. Bencana adalah kehilangan, ketakutan, air mata, dan perjuangan untuk kembali menjalani kehidupan. Di sinilah sesungguhnya kepemimpinan diuji.

Pemerintah tidak cukup hanya hadir ketika kamera menyala, memberikan pernyataan ketika perhatian publik tertuju, atau menyampaikan janji ketika penderitaan rakyat menjadi pembicaraan. Rakyat membutuhkan tindakan nyata, kebijakan yang berpihak, pengawasan yang tegas, dan keberanian untuk memperbaiki apa yang selama ini mungkin di biarkan.

Kita tentu tidak boleh serta-merta menyalahkan pemerintah atas setiap bencana alam. Sebab, alam memiliki kehendak dan kekuatannya sendiri. Namun, pemerintah memiliki tanggung jawab untuk memastikan tata kelola lingkungan berjalan dengan baik, pembangunan tidak mengabaikan daya dukung alam, daerah rawan bencana di awasi secara serius, serta masyarakat memperoleh perlindungan yang layak.

Jika hutan terus kehilangan tutupannya, jika daerah aliran sungai tidak dijaga, jika pembangunan mengabaikan keseimbangan lingkungan, dan jika peringatan dini tidak di ikuti kesiap siagaan yang memadai, maka pertanyaan tentang tanggung jawab tidak boleh di anggap sebagai serangan politik. Itu adalah suara kepedulian masyarakat yang menginginkan keselamatan bersama.

Jangan sampai setelah bencana berlalu, kita hanya sibuk menghitung kerugian, sementara akar persoalannya kembali di lupakan. Jangan sampai ketika air surut, perhatian ikut surut. Jangan sampai ketika rumah warga mulai di bersihkan, komitmen untuk memperbaiki lingkungan justru menghilang dari meja kebijakan.

Rakyat tidak membutuhkan pemerintah yang hanya pandai menjelaskan mengapa bencana terjadi. Rakyat membutuhkan pemerintah yang sungguh-sungguh bekerja agar risiko bencana dapat di kurangi dan penderitaan serupa tidak terus berulang.

Ranah Minang adalah tanah yang di besarkan oleh adat dan di kuatkan oleh agama. Kita mengenal falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. Falsafah ini bukan sekadar rangkaian kata yang indah di ucapkan. Ia mengandung tanggung jawab moral agar manusia menjaga hubungan dengan sesama, menghormati alam, serta tidak menjadikan kekuasaan sebagai alat untuk melupakan amanah.

Niniak mamak memiliki tanggung jawab menjaga anak kemenakan. Alim ulama mengingatkan umat agar tidak kehilangan pegangan. Cadiak pandai menyumbangkan pemikiran untuk kemaslahatan. Bundo Kanduang menjaga kehidupan keluarga dan martabat generasi. Sementara itu, pemerintah memegang amanah untuk mengatur, melindungi, dan memastikan kepentingan masyarakat tidak di kalahkan oleh kepentingan segelintir orang.

Semua memiliki peran. Tidak seorang pun boleh merasa cukup hanya dengan menunjuk kesalahan pihak lain.

Namun, kepada pemerintah, izinkan rakyat bertanya dengan suara yang jujur: sudahkah keselamatan masyarakat di tempatkan di atas segala kepentingan? Sudahkah pengelolaan lingkungan di awasi dengan sungguh-sungguh? Sudahkah masyarakat kecil di dengar sebelum keputusan pembangunan di tetapkan? Dan ketika musibah datang, apakah bantuan benar-benar sampai kepada mereka yang paling membutuhkan?

Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin terasa pahit. Tetapi bukankah kritik yang lahir dari kepedulian jauh lebih berharga dari pada pujian yang membuat kita terlena?

Jangan memusuhi suara rakyat yang mengingatkan. Jangan menganggap kritik sebagai kebencian. Sebab, orang yang masih mau mengingatkan sesungguhnya masih menyimpan harapan. Yang patut di khawatirkan justru ketika masyarakat memilih diam karena merasa suaranya tidak lagi berarti.

Patuih tongga mungkin hanya berlangsung sesaat. Suaranya menggelegar, membuat orang terkejut, kemudian menghilang di telan waktu. Tetapi penderitaan masyarakat akibat bencana bisa berlangsung berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Rumah yang rusak membutuhkan waktu untuk di bangun kembali. Mata pencaharian yang hilang memerlukan perjuangan untuk di pulihkan. Luka batin keluarga yang kehilangan orang tercinta tidak bisa di sembuhkan hanya dengan sebuah pidato.

Karena itu, jangan biarkan perhatian kepada korban berhenti ketika pemberitaan selesai. Jangan biarkan pembangunan kembali sekadar menjadi proyek, sementara manusia yang terdampak hanya menjadi pelengkap laporan. Setiap anggaran yang di keluarkan harus dapat di pertanggung jawabkan. Setiap kebijakan harus berpijak pada kebutuhan masyarakat. Setiap janji harus memiliki ukuran keberhasilan yang dapat di lihat dan di rasakan rakyat.

Kepada para pemimpin di Ranah Minang, ingatlah bahwa jabatan memiliki batas waktu, tetapi akibat dari setiap keputusan bisa di rasakan oleh generasi yang jauh melampaui masa jabatan itu sendiri.

Hari ini mungkin kita masih bisa duduk nyaman di ruangan berpendingin udara, membicarakan angka, program, dan target pembangunan. Namun, di luar sana, ada rakyat yang setiap kali hujan turun kembali di hantui kecemasan. Ada keluarga yang berharap sungainya tidak meluap. Ada masyarakat yang memandang langit dengan perasaan waswas, seolah-olah setiap gemuruh membawa kemungkinan kehilangan yang baru.

Cobalah sesekali melihat bencana dari mata mereka. Rasakan kegelisahan seorang ibu yang memikirkan keselamatan anaknya. Dengarkan keluh kesah seorang ayah yang tak tahu harus memulai kehidupan dari mana. Berdirilah di tengah masyarakat tanpa sekat protokoler, tanpa panggung, tanpa kamera, lalu dengarkan apa yang sebenarnya mereka butuhkan.

Sebab, kepemimpinan yang baik tidak di ukur dari seberapa sering seorang pejabat tampil di hadapan publik, melainkan dari seberapa besar rakyat merasa terlindungi ketika menghadapi masa-masa paling sulit.

Pada akhirnya, patuih tongga mengajarkan kita bahwa ada suara yang tidak bisa di abaikan. Namun, jangan menunggu alam menggelegar lebih keras untuk menyadarkan manusia. Jangan menunggu lebih banyak rumah rusak untuk memperbaiki tata kelola lingkungan. Jangan menunggu lebih banyak air mata jatuh untuk menyadari bahwa keselamatan rakyat adalah amanah yang tidak boleh di tawar.

Jika petir besar saja mampu membuat manusia terdiam dan menengadah ke langit, mengapa jeritan rakyat yang kehilangan tempat tinggal, rasa aman, dan harapan terkadang belum cukup menggugah hati para pemegang kekuasaan?

Ini bukan ajakan untuk memusuhi pemerintah. Ini adalah ajakan untuk kembali kepada hakikat pemerintahan, melayani, melindungi, dan menyejahterakan rakyat.

Sebab, sejarah tidak hanya mencatat siapa yang pernah memegang jabatan. Sejarah juga akan mengingat siapa yang hadir ketika rakyat menderita, siapa yang berani memperbaiki keadaan, dan siapa yang memilih berpaling ketika amanah sedang di pertaruhkan.

Biarlah patuih tongga menjadi peringatan bagi kita semua. Bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk membangunkan kesadaran. Bukan untuk mencari kambing hitam, melainkan untuk menemukan jalan keluar. Dan bukan untuk memperbesar pertentangan, melainkan untuk menyatukan langkah menjaga Ranah Minang.

Sebab, ketika langit menggelegar, yang di butuhkan rakyat bukan sekadar penjelasan tentang suara petir. Mereka membutuhkan kepastian bahwa masih ada tangan yang bekerja, hati yang peduli, dan pemimpin yang sungguh-sungguh berdiri bersama mereka.


×
Berita Terbaru Update