Ada Cinta di Balik Sapaan Ayah. "AKBP Rusirwan, Polisi yang Tetap Mengabdi Setelah Purna Bakti"
Kedekatan itu tumbuh dari sikap, ketulusan, dan cara seseorang memperlakukan orang lain dalam kehidupan sehari-hari. Gambaran itulah yang melekat pada sosok AKBP Rusirwan, SH, mantan Waka Polres Kota Payakumbuh, yang hingga kini di kenal luas melalui sapaan akrab “Ayah”. Panggilan tersebut bukan sekadar sebutan untuk menghormati seorang mantan perwira polisi, melainkan juga mencerminkan keakraban yang terbangun dalam pergaulan sosial. Di tengah masyarakat, Rusirwan di kenal sebagai sosok bersahaja, mudah bergaul, dan mampu menempatkan diri tanpa membangun jarak dengan orang-orang di sekitarnya. Ia tidak hanya di kenal melalui jabatan yang pernah diembannya, tetapi juga melalui hubungan kemanusiaan yang tetap terpelihara ketika perjalanan kedinasannya telah berakhir.
Dalam kehidupan sosial, ada orang yang di hormati karena kedudukannya, tetapi ada pula yang di sayangi karena kehadirannya. Rusirwan menjadi sosok yang menarik untuk di kenang karena panggilan “Ayah” menghadirkan gambaran tentang hubungan yang lebih dekat dari pada sekadar relasi formal antara seorang pejabat dan masyarakat.
Perjalanan seorang anggota Polri tentu memiliki dinamika, tanggung jawab, dan tantangan tersendiri. Di balik seragam yang di kenakan, terdapat kewajiban untuk menjaga keamanan, menegakkan hukum, serta memberikan pelayanan kepada masyarakat. Jabatan Waka Polres Payakumbuh yang pernah diemban Rusirwan merupakan bagian dari perjalanan pengabdiannya di institusi kepolisian. Namun, perjalanan seorang manusia tidak berhenti pada jabatan terakhir yang pernah di dudukinya. Ketika masa kedinasan berakhir, yang tersisa bukan hanya catatan perjalanan karier, melainkan juga kesempatan untuk melihat sejauh mana pengalaman dan kemampuan yang di miliki masih dapat memberikan manfaat bagi orang banyak.
Bagi Rusirwan, masa purna bakti tidak harus di maknai sebagai akhir dari aktivitas sosial. Justru, fase kehidupan tersebut membuka ruang baru untuk meneruskan pengabdian dengan cara yang berbeda. Ia tidak lagi menjalankan tugas melalui struktur komando kepolisian, tetapi tetap memiliki kesempatan untuk berkontribusi di tengah masyarakat.
Pilihan untuk tetap aktif dalam kegiatan kemasyarakatan memperlihatkan bahwa pengalaman panjang dalam suatu profesi dapat menjadi bekal berharga ketika seseorang bersedia membagikannya kepada lingkungan sekitar. Sebab, pengabdian sejatinya tidak semata-mata di tentukan oleh tempat seseorang bekerja, melainkan juga oleh kesediaannya untuk terus mengambil bagian dalam persoalan yang di hadapi masyarakat.
Kini, Rusirwan mengemban amanah sebagai Ketua Lembaga Anti Narkotika (LAN) Kota Payakumbuh. Tanggung jawab tersebut membawanya ke ruang pengabdian yang berhubungan langsung dengan upaya melindungi masyarakat, khususnya generasi muda, dari ancaman penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika.
Diketahui persoalan narkotika bukan perkara sederhana yang dapat di selesaikan hanya dengan penindakan hukum. Di balik persoalan tersebut, terdapat tantangan keluarga, lingkungan pergaulan, pendidikan, dan kondisi sosial yang membutuhkan perhatian bersama. Karena itu, upaya pencegahan perlu di bangun melalui edukasi yang berkelanjutan, komunikasi yang terbuka, serta keterlibatan berbagai unsur masyarakat. Orang tua perlu hadir dalam kehidupan anak-anaknya, sekolah harus menjadi lingkungan yang memberikan pemahaman dan perlindungan, sementara tokoh adat, tokoh agama, pemerintah, dan organisasi kemasyarakatan dapat mengambil peran sesuai tanggung jawab masing-masing.
Sebagai Ketua LAN Kota Payakumbuh, Rusirwan memiliki ruang untuk mendorong tumbuhnya kepedulian tersebut melalui kegiatan sosialisasi, edukasi, dan penguatan peran masyarakat. Pengalaman yang di perolehnya selama bertugas di kepolisian dapat menjadi modal dalam membangun komunikasi dan memahami pentingnya kerja sama. Namun, tantangan sesungguhnya bukan sekadar menyampaikan bahaya narkotika dalam sebuah pertemuan, melainkan bagaimana menumbuhkan kesadaran agar masyarakat mau terlibat menjaga lingkungan dan melindungi generasi penerus. Di sinilah pengabdian sosial membutuhkan ketekunan, sebab perubahan perilaku dan kesadaran tidak selalu tumbuh dalam waktu singkat.
Bagi masyarakat Minangkabau, tanggung jawab menjaga generasi muda memiliki hubungan erat dengan falsafah adat dan ajaran agama. Anak kemenakan bukan hanya menjadi tanggung jawab orang tua, tetapi juga menjadi bagian dari tanggung jawab sosial kaum dan nagari.
Nilai adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah mengingatkan masyarakat bahwa kehidupan bersama perlu di bangun dengan menjunjung nilai adat dan agama. Niniak mamak memiliki tanggung jawab moral terhadap anak kemenakan, Bundo Kanduang berperan dalam menjaga ketahanan keluarga, sedangkan alim ulama memberikan tuntunan keagamaan. Seluruh unsur tersebut dapat berjalan beriringan dalam membangun lingkungan yang melindungi generasi muda dari pengaruh negatif.
Namun, nilai-nilai luhur itu tidak cukup hanya di ucapkan dalam pertemuan adat atau menjadi bagian dari pidato seremonial. Nilai tersebut perlu hadir dalam tindakan nyata, mulai dari perhatian terhadap pergaulan anak, keberanian memberikan nasihat, keterbukaan dalam keluarga, hingga kesediaan mencari pertolongan ketika seseorang menghadapi persoalan penyalahgunaan narkotika.
Masyarakat juga perlu memahami bahwa pencegahan harus berjalan seiring dengan pendekatan yang manusiawi kepada orang yang membutuhkan bantuan. Menghakimi tanpa memahami persoalan tidak selalu menyelesaikan masalah. Sebaliknya, kepedulian yang di sertai penanganan tepat dapat membuka jalan menuju pemulihan dan mencegah persoalan menjadi semakin berat.
Dalam konteks ini, keberadaan LAN dapat menjadi salah satu jembatan untuk membangun komunikasi, memperluas edukasi, dan menggerakkan kepedulian masyarakat. Amanah yang kini di jalankan Rusirwan pun memiliki makna lebih luas dari pada sekedar jabatan organisasi, karena di dalamnya terdapat tanggung jawab untuk ikut menjaga masa depan generasi penerus bangsa.
Hal menarik dari perjalanan Rusirwan adalah bahwa pengabdian setelah purna bakti menuntut semangat yang tidak jauh berbeda dari ketika seseorang masih aktif menjalankan tugas profesinya. Jika dahulu tanggung jawab di jalankan melalui institusi dengan aturan dan kewenangan yang jelas, kini pengabdian di lingkungan organisasi kemasyarakatan membutuhkan kemampuan merangkul, membangun kepercayaan, dan mengajak orang lain bergerak bersama. Tidak ada keberhasilan yang dapat dicapai hanya dengan mengandalkan nama seorang ketua. Sebuah organisasi akan memiliki arti ketika programnya berjalan, pengurusnya bekerja, dan kehadirannya benar-benar di rasakan oleh masyarakat.
Karena itu, amanah sebagai Ketua LAN Kota Payakumbuh perlu di wujudkan melalui kegiatan yang terarah, kerja sama dengan berbagai pihak, serta upaya berkelanjutan untuk memperkuat pencegahan narkotika. Tantangan yang di hadapi memang tidak ringan. Perubahan sosial berlangsung cepat, pergaulan generasi muda semakin beragam, dan ancaman narkotika membutuhkan perhatian yang konsisten. Akan tetapi, upaya kecil yang di lakukan secara bersama-sama tetap memiliki arti. Satu keluarga yang semakin peduli, satu lingkungan yang semakin waspada, dan satu generasi muda yang memperoleh pemahaman yang benar merupakan bagian dari ikhtiar melindungi masa depan. Dalam kerja seperti inilah pengalaman, kedewasaan, dan kemampuan membangun komunikasi dapat menemukan ruang pengabdian yang baru.
Sapaan “Ayah” yang melekat pada Rusirwan juga membawa pesan tersendiri tentang hubungan antara aparat dan masyarakat. Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat tidak hanya membutuhkan sosok yang mampu menjalankan tugas formal, tetapi juga seseorang yang dapat diajak berkomunikasi dengan baik dan memperlakukan sesama secara manusiawi.
Hubungan yang sehat tidak di bangun melalui jarak, melainkan melalui rasa saling menghormati. Tentu, panggilan akrab tersebut bukan satu-satunya ukuran keberhasilan seorang polisi, tetapi menjadi bagian dari cerita tentang kedekatan yang dapat tumbuh di luar hubungan kedinasan.
Ketika seseorang telah meninggalkan jabatan, masyarakat mungkin tidak lagi melihatnya dalam seragam yang dahulu dikenakan. Namun, kesan yang terbentuk melalui pergaulan dan interaksi sehari-hari dapat tetap hidup. Ada kalanya seseorang di kenang karena keputusan besar yang pernah di ambilnya, tetapi ada pula yang di kenang karena hal-hal sederhana, kesediaan menyapa, cara berbicara yang santun, sikap yang tidak membeda-bedakan orang, dan kemauan untuk tetap berbaur dengan lingkungan.
Dalam kehidupan bermasyarakat, hal-hal sederhana seperti itu memiliki arti karena kepercayaan tidak tumbuh dalam sehari. Ia di bangun melalui pertemuan, di pelihara melalui komunikasi, dan diuji melalui konsistensi perilaku.
Panggilan “Ayah” pada akhirnya menjadi gambaran tentang sisi manusiawi Rusirwan yang di kenal masyarakat, sekaligus pengingat bahwa hubungan baik sering kali meninggalkan kesan lebih panjang dari pada jabatan formal.
Pada akhirnya, perjalanan AKBP Rusirwan, SH, mantan Waka Polres Payakumbuh yang kini mengemban amanah sebagai Ketua LAN Kota Payakumbuh, menghadirkan pelajaran bahwa purna bakti bukan berarti berhenti memberikan manfaat. Memang, ada masa ketika seseorang harus melepaskan seragam, meninggalkan ruang kerja, dan mengakhiri tanggung jawab kedinasan. Namun, kehidupan masih menyediakan banyak kesempatan untuk berbuat sesuatu yang berguna bagi sesama. Pengalaman yang telah di kumpulkan selama bertahun-tahun dapat menjadi bekal untuk membantu masyarakat, selama di sertai kerendahan hati dan kemauan untuk terus belajar.
Bagi Rusirwan, pengabdian kini mengambil bentuk yang berbeda, yakni melalui keterlibatan dalam upaya pencegahan narkotika dan penguatan kepedulian sosial. Tentu, amanah tersebut tidak cukup di jalankan dengan reputasi masa lalu. Ia membutuhkan kerja nyata, kebersamaan, dan komitmen yang dapat di rasakan manfaatnya oleh masyarakat. Sebab, keteladanan bukan hanya tentang apa yang pernah di lakukan seseorang, tetapi juga tentang apa yang terus di upayakannya hari ini.
Seragam mungkin telah di lepas, pangkat mungkin tinggal menjadi bagian dari perjalanan karier, dan jabatan kedinasan mungkin telah berakhir. Namun, selama masih ada kemauan untuk peduli, mendengar, merangkul, dan bekerja demi kepentingan bersama, ruang pengabdian akan selalu terbuka. Sebab, seseorang mungkin tidak lagi di panggil dengan pangkatnya, tetapi akan tetap di kenang melalui kebaikan yang di tinggalkannya. Dan ketika masyarakat memanggil Rusirwan dengan sebutan “Ayah”, panggilan itu menjadi pengingat bahwa penghormatan yang paling bermakna bukanlah yang lahir dari seragam dan jabatan, melainkan yang tumbuh dari hubungan antar manusia.(Firman Sikumbang)
