Kisah Susi di Simpang Haru Menggetarkan Hati, Ketua LAN Sumbar Turun Langsung Mengajak Lepas dari Sabu
Hadirnya Firman Sikumbang dirumah tersebut bukan sekadar kunjungan untuk menindak lanjuti laporan warga, melainkan sebuah upaya mengetuk pintu hati seorang perempuan muda berusia 25 tahun yang tengah menghadapi persoalan rumit dalam kehidupannya. Di balik senyum yang sesekali mengembang, tawa yang muncul di tengah percakapan, dan air mata yang tiba-tiba jatuh, terselip harapan agar perempuan bernama Susi itu (nama samaran) bersedia menerima pertolongan dan menapaki jalan pemulihan.
Langkah Firman menuju rumah Susi bermula dari sebuah laporan yang di terimanya melalui anggota LAN Kota Padang (Dodi). Informasi itu berawal dari Haru Micky Satria, Dubalang Kota yang bertugas di Kelurahan Simpang Haru, menurut laporan yang diterima, Susi di duga memecahkan kaca dapur MBG (Mekanan Gizi Gratis) setelah permintaannya untuk mendapatkan uang untuk membeli rokok kepada seorang pegawai di dapur MBG tersebut tidak di penuhi.
Peristiwa tersebut menjadi perhatian karena menyangkut ketertiban lingkungan sekaligus kondisi Susi yang membutuhkan perhatian lebih lanjut.
Bagi Firman Sikumbang, laporan itu tidak cukup hanya di catat dan di bicarakan. Ia merasa perlu melihat langsung keadaan di lapangan, mendengarkan pihak-pihak terkait, dan mencari jalan keluar yang tidak berhenti pada persoalan keributan semata.
Sebelum mendatangi rumah Susi, Firman Sikumbang terlebih dahulu menyambangi Kantor Lurah Simpang Haru, yang berada di bekas Kantor Camat Kecamatan Padang Timur Kota Padang, berseberangan dengan Kantor PMI Provinsi Sumatera Barat. Di sana, ia berkoordinasi dengan Lurah Simpang Haru, Bayu Indra Zainal, S.AP, serta Kasi Trantibum dan Penanggulangan Bencana, Marjohan Yustin, S.AP. Setelah berkoordinasi, Firman bersama Dubalang Kota dan Kasi Trantibum bergerak menuju kediaman Susi yang berada di depan Rumah Sakit Siti Hawa, Kota Padang. Kedatangan mereka di sambut oleh Yanti, 54 tahun, ibu Susi, dan Mirna, 52 tahun, bibinya. Dari rumah itulah, sebuah percakapan tentang kepedulian, keluarga, dan harapan untuk berubah dimulai.
Susi kemudian keluar dari kamarnya. Ia menyambut kedatangan tamu dengan senyum. Sesekali ia ikut berbicara, meskipun tidak semua perkataannya mudah di pahami. Ketika Firman mulai menjelaskan bahaya penggunaan narkotika, suasana pertemuan terasa semakin emosional. Ada saat Susi tertawa, tetapi pada kesempatan lain ia juga menangis. Tidak mudah memahami apa yang sedang berkecamuk dalam dirinya. Namun, Firman tetap berusaha membuka ruang komunikasi, berbicara dengan tenang, dan mengajak Susi melihat kemungkinan untuk mendapatkan pertolongan.
Menurut keterangan keluarga, Susi pernah menjalani perawatan di Rumah Sakit Jiwa Prof. HB Saanin Padang. Kondisi yang di alaminya sekarang memerlukan perhatian serius. Tidak tepat rasanya menyimpulkan penyebab perubahan perilakunya hanya berdasarkan apa yang terlihat dalam kunjungan tersebut. Yang jelas, situasi ini membutuhkan kerja sama keluarga, lingkungan, dan tenaga profesional agar Susi mendapatkan penanganan sesuai kebutuhannya.
Dalam percakapan itu, Firman juga menggali persoalan penggunaan narkotika yang di hadapi Susi. Berdasarkan pengakuannya kepada Firman Sikumbang, Susi menggunakan sabu dan melakukannya seorang diri di dalam kamar. Ia kemudian mengambil sebuah tas khusus yang menurut keterangannya di gunakan untuk menyimpan perlengkapan terkait kebiasaan tersebut. Di dalam tas itu terdapat sejumlah alat yang di sebut berkaitan dengan penggunaan sabu, termasuk alat isap. Pemandangan itu mempertegas pentingnya tindak lanjut yang terarah, bukan sekadar nasihat sesaat yang berakhir ketika para tamu meninggalkan rumah.
Firman memahami bahwa mengajak seseorang keluar dari persoalan penggunaan narkotika bukan pekerjaan yang dapat di selesaikan dalam satu kunjungan. Dibutuhkan kesabaran, komunikasi yang berkelanjutan, keterlibatan keluarga, serta akses terhadap layanan rehabilitasi yang tepat. Seseorang yang sedang menghadapi masalah tidak semestinya langsung dicap buruk atau kehilangan kesempatan untuk memperbaiki hidupnya. Ketegasan dalam menjaga ketertiban harus berjalan bersama kepedulian terhadap manusia yang sedang membutuhkan pertolongan.
Dalam pertemuan tersebut, Firman Sikumbang berupaya meyakinkan Susi bahwa masih ada jalan untuk memperbaiki keadaan. Ia mengajak perempuan muda itu agar tidak terus menghadapi persoalannya seorang diri dan bersedia menerima pendampingan.
Setelah melalui percakapan, Susi akhirnya menyatakan kesediaannya untuk menjalani rehabilitasi. Bagi Firman, kesediaan itu merupakan awal yang patut di syukuri, meskipun masih harus di tindak lanjuti melalui asesmen profesional, proses rujukan, dan pendampingan keluarga. Sebab, harapan baru akan berarti apabila benar-benar di ikuti langkah nyata.
Ada satu momen sederhana yang turut mewarnai pertemuan tersebut. Menjelang akhir kunjungan, Susi meminta selembar uang berwarna merah kepada Firman Sikumbang. Firman mengambil uang dari sakunya dan memberikannya. Susi tampak senang setelah menerimanya. Tidak ada yang dapat menyimpulkan seluruh isi hati seseorang dari sebuah senyuman, tetapi momen itu memperlihatkan sisi sederhana dari perjumpaan manusia, di tengah persoalan yang berat, komunikasi tetap dapat di bangun melalui pendekatan yang tenang dan penuh penghormatan.
Kisah Susi menjadi pengingat bahwa persoalan narkotika tidak cukup di hadapi dengan kecaman. Masyarakat berhak merasa aman dan ketertiban tetap harus di jaga, tetapi mereka yang mengalami persoalan penggunaan narkotika juga membutuhkan kesempatan untuk mendapatkan pertolongan. Terlebih ketika terdapat informasi mengenai riwayat perawatan kesehatan jiwa, penanganannya perlu di lakukan secara hati-hati, tanpa stigma, dan dengan melibatkan tenaga profesional.
Bagi LAN Sumatera Barat, upaya merangkul masyarakat merupakan bagian dari ikhtiar pencegahan dan penanganan persoalan narkotika. Namun, perjuangan tidak berhenti pada kunjungan, percakapan, atau pernyataan bersedia menjalani rehabilitasi. Perlu ada tindak lanjut agar Susi benar-benar memperoleh layanan yang sesuai, sementara keluarganya mendapatkan dukungan untuk mendampingi proses tersebut.
Hari itu, Firman Sikumbang datang bukan dengan janji bahwa semua persoalan akan selesai seketika. Ia datang untuk membuka pintu komunikasi dan mengajak Susi mengambil satu langkah menuju pertolongan. Perjalanan berikutnya mungkin membutuhkan waktu, kesabaran, dan dukungan banyak pihak. Tetapi setidaknya, di tengah tawa dan tangis yang mengiringi pertemuan itu, sebuah kesediaan telah terucap, Susi bersedia jalani rehabilitasi.
Ketika seseorang terjerat persoalan narkotika, yang di butuhkan bukan hanya orang yang berani menegur, tetapi juga mereka yang bersedia bertahan untuk merangkul dan mendampingi.
"Menyelamatkan seseorang bukan berarti membenarkan perilakunya. Menjaga ketertiban bukan berarti menutup pintu kemanusiaan. Dan memberi kesempatan untuk pulih adalah bagian dari perjuangan agar tidak ada lagi kehidupan yang kehilangan arah tanpa pernah di tawari jalan pulang" tukas Firman Sikumbang mengakhiri (*)
