Di Balik Kepergian Robert, Tumbuh Harapan Menyelamatkan Anak Kemanakan dari Bahaya Narkotika
Di tengah suasana berkabung, sebuah pemandangan menarik perhatian Ketua Lembaga Anti Narkotika (LAN) Provinsi Sumatera Barat, Firman Sikumbang. Ketika ia memaparkan bahaya penyalahgunaan narkotika kepada keluarga dan masyarakat yang berkumpul di rumah duka, satu per satu pemuda yang semula berada dalam kerumunan terlihat meninggalkan lokasi. Firman menduga mereka merasa takut mendengar penjelasannya, meskipun alasan sebenarnya mereka pergi belum dapat di pastikan.
Kedatangan Firman Sikumbang ke rumah duka tersebut sesungguhnya hanya untuk melayat dan menyampaikan belasungkawa kepada keluarga Robert, yang merupakan rekanan salah seorang anggota LAN. Namun, kehadirannya justru menjadi momentum bagi pihak keluarga bersama niniak mamak setempat untuk meminta bantuan memberikan pemahaman tentang bahaya penyalahgunaan narkotika kepada generasi muda di lingkungan tersebut.
Kisah pilu itu bermula ketika Robert mengalami diare dan di bawa keluarganya untuk menjalani pemeriksaan di RSUP Dr. M. Djamil Padang. Setelah menjalani pemeriksaan, keluarga mendapat informasi bahwa Robert dapat menjalani rawat jalan. Ia kemudian di bawa pulang ke rumah. Setibanya di rumah, Robert masih sempat bercengkerama dengan keluarga dan tetangga. Tidak terlihat tanda-tanda mencolok yang membuat keluarga menyangka kondisinya akan memburuk dalam waktu singkat.
Namun, beberapa jam kemudian, keadaan Robert berubah. Ia mengalami muntah berat dan kesulitan bernapas. Melihat kondisi tersebut, keluarga kembali membawanya untuk mendapatkan pertolongan medis di RS Hermina Khatib Sulaiman, Kota Padang.
Berdasarkan informasi yang di sampaikan keluarga, hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan adanya komplikasi yang berkaitan dengan gangguan ginjal dan hati.
Sekitar pukul 13.00 WIB, Robert akhirnya mengembuskan napas terakhir dan berpulang ke hadapan Sang Khalik. Kepergiannya menyisakan duka yang mendalam bagi keluarga yang masih berharap ia dapat kembali pulih.
Menurut keterangan keluarga, Robert memiliki riwayat penggunaan narkotika selama perjalanan hidupnya. Namun, dalam tiga tahun terakhir, ia di sebut tidak lagi mengonsumsi zat terlarang tersebut. Riwayat itu menjadi bagian dari perjalanan hidup Robert yang kini di kenang keluarga, sekaligus pengingat tentang pentingnya menjaga kesehatan, mencegah penyalahgunaan narkotika, dan memperoleh penanganan medis yang tepat.
Di tengah kesedihan tersebut, keluarga Robert menyampaikan pesan kepada adik-adiknya agar menjauhi narkotika. Mereka tidak ingin pengalaman pahit itu kembali terulang. Kekhawatiran keluarga semakin besar setelah Andi (34) dan Rio (34), berdasarkan informasi dari keluarga dan rekanan, di duga masih aktif menggunakan narkotika.
Pihak keluarga pun meminta agar keduanya di berikan edukasi mengenai bahaya penyalahgunaan narkotika. Harapan mereka sederhana, Andi dan Rio dapat memahami risiko yang di hadapi, bersedia menerima pendampingan, serta memiliki keberanian untuk mencari pertolongan apabila di perlukan.
Permintaan itu di sampaikan kepada Firman Sikumbang saat berada di rumah duka. Bagi keluarga, kehadiran Ketua LAN Sumbar bukan sekadar kunjungan seorang tokoh organisasi, melainkan kesempatan untuk menyampaikan kegelisahan yang selama ini mereka rasakan. Mereka berharap ada pendekatan yang mampu menyentuh hati kedua pemuda tersebut, membuka kesadaran, dan mendorong mereka untuk menjalani kehidupan yang lebih baik.
Firman kemudian menyampaikan edukasi mengenai dampak penyalahgunaan narkotika terhadap kesehatan, kehidupan sosial, keharmonisan keluarga, serta masa depan seseorang. Saat penjelasan berlangsung, ia melihat satu per satu pemuda yang berada di sekitar lokasi meninggalkan kerumunan.
“Ketika saya menjelaskan bahaya dan dampak penyalahgunaan narkotika, satu per satu pemuda yang berada di kerumunan meninggalkan tempat. Sepertinya mereka ketakutan mendengar penjelasan tersebut,” kata Firman Sikumbang.
Meski demikian, Firman tidak ingin terburu-buru menyimpulkan alasan para pemuda tersebut meninggalkan lokasi. Baginya, kejadian itu menjadi pengingat bahwa edukasi bahaya narkotika harus di lakukan dengan pendekatan yang tepat, penuh kepedulian, dan tidak menghakimi.
Menurutnya, tujuan edukasi bukan untuk membuat seseorang merasa terpojok atau takut menghadapi masyarakat. Sebaliknya, edukasi harus membangun kesadaran agar setiap orang memahami risiko penyalahgunaan narkotika, berani menjauhinya, dan bersedia mencari pertolongan jika menghadapi persoalan penggunaan zat tersebut.
Upaya pencegahan, kata Firman, tidak cukup di lakukan melalui peringatan sesaat. Keluarga perlu membuka ruang komunikasi, niniak mamak harus hadir membimbing anak kemenakan, dan masyarakat perlu membangun kepedulian terhadap lingkungan. Mereka yang membutuhkan bantuan juga perlu di arahkan kepada tenaga kesehatan atau layanan rehabilitasi yang sesuai.
Dalam kehidupan masyarakat Minangkabau, peran niniak mamak memiliki arti penting dalam menjaga anak kemenakan. Persoalan yang di hadapi seorang anggota kaum tidak semestinya di biarkan menjadi beban dirinya sendiri. Ketika ada anak kemanakan yang menghadapi masalah penyalahgunaan narkotika, keluarga besar perlu hadir untuk mengingatkan, mendampingi, dan membantu mencarikan jalan keluar.
Falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah bukan sekadar ungkapan yang di wariskan turun-temurun, melainkan pedoman dalam menjaga kehidupan masyarakat berdasarkan nilai adat dan agama. Menyelamatkan anak kemanakan dari penyalahgunaan narkotika merupakan bagian dari tanggung jawab bersama untuk menjaga masa depan kaum dan nagari.
Kekhawatiran keluarga Robert mengenai dugaan tingginya peredaran narkotika di lingkungan tersebut juga perlu mendapat perhatian serius. Informasi yang berkembang di tengah keluarga dan masyarakat hendaknya di tindak lanjuti oleh pihak terkait melalui langkah yang tepat, berdasarkan fakta yang dapat diverifikasi dan sesuai dengan ketentuan hukum.
Di rumah duka itu, keluarga Robert tidak hanya meratapi kepergian orang yang mereka cintai. Mereka juga berusaha memastikan bahwa anggota keluarga lainnya tidak mengalami persoalan serupa. Di tengah kesedihan, mereka masih menyimpan harapan agar Andi, Rio, dan generasi muda lainnya mendapatkan kesempatan untuk memperbaiki kehidupan.
Kisah ini menjadi pengingat bahwa penyalahgunaan narkotika bukan hanya persoalan individu. Dampaknya dapat di rasakan oleh orang tua, saudara, keluarga besar, dan lingkungan tempat seseorang tumbuh. Karena itu, pencegahan harus di mulai dari rumah, di perkuat oleh peran niniak mamak, serta di dukung oleh masyarakat, pemerintah, dan lembaga yang memiliki kepedulian terhadap keselamatan generasi muda.
Kepergian Robert memang tidak dapat di ubah. Namun, pesan yang tumbuh dari duka keluarganya masih dapat menjadi titik awal perubahan. Jangan sampai rasa takut membuat seseorang menjauh dari edukasi dan pertolongan. Jangan pula menunggu musibah datang untuk menyadari pentingnya menjaga anak kemenakan.
Ketika sebuah keluarga meminta bantuan, ketika niniak mamak menyuarakan kekhawatiran, dan ketika masyarakat bersedia membuka mata, di situlah upaya menyelamatkan generasi muda dapat dimulai.
Di balik kepergian Robert, tersimpan harapan agar tidak ada lagi keluarga yang harus merasakan kehilangan akibat persoalan yang berkaitan dengan penyalahgunaan narkotika. Duka ini hendaknya tidak berhenti sebagai cerita tentang perpisahan, tetapi menjadi panggilan bagi keluarga, niniak mamak, dan seluruh masyarakat Ranah Minang untuk memperkuat kepedulian, merangkul mereka yang membutuhkan pertolongan, serta bersama-sama menjaga masa depan generasi penerus minang. (*)
