Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

"LAN SUMBAR PEDULI." RIBUAN KORBAN BANJIR DAN LONGSOR TAPAN MENANTI ULURAN TANGAN

Thursday, October 15, 2026 | October 15, 2026 WIB Last Updated 2026-10-15T14:09:38Z

"LAN SUMBAR PEDULI." RIBUAN KORBAN BANJIR DAN LONGSOR TAPAN MENANTI ULURAN TANGAN


PADANG, PIONIR — Di saat air bah datang tanpa permisi, merendam rumah-rumah warga, melumpuhkan aktivitas masyarakat, dan menyeret harapan banyak keluarga ke dalam derasnya arus sungai, ada satu hal yang tidak boleh ikut hanyut, kepedulian terhadap sesama.

Bencana banjir dan tanah longsor yang melanda Kecamatan Ranah Ampek Hulu (Rahul) Tapan, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, pada 9–10 Oktober 2026, menyisakan duka mendalam bagi masyarakat yang terdampak. Hujan deras yang mengguyur kawasan tersebut mengakibatkan ribuan warga merasakan langsung dampak bencana. Rumah-rumah terendam, fasilitas umum ikut terdampak, akses jalan terganggu, bahkan sejumlah rumah warga di laporkan hanyut terbawa derasnya arus Sungai Tapan.

Berdasarkan informasi yang di himpun personil LAN Kabupaten Pesisir Selatan sebanyak 4.240 jiwa dari sembilan nagari terdampak banjir. Tidak hanya pemukiman penduduk, sebanyak 12 unit sekolah, tujuh unit kantor, dan empat unit masjid juga di laporkan terendam. Sementara itu, kerusakan bahu jalan nasional yang menghubungkan Tapan, Sumatera Barat, dengan Sungai Penuh, Jambi, serta terisolasinya Nagari Sungai Gambir Sako akibat longsor, semakin menambah berat beban masyarakat yang sedang menghadapi musibah.

Di balik angka-angka tersebut, ada kehidupan yang mendadak berubah. Ada keluarga yang harus membersihkan rumah dari lumpur, ada orang tua yang mencemaskan masa depan anak-anaknya, dan ada warga yang harus berjuang memulihkan kehidupan dengan segala keterbatasan yang mereka miliki.

Bagi mereka, bencana bukan sekadar peristiwa alam yang di beritakan dan kemudian di lupakan. Bencana adalah kenyataan pahit yang harus di hadapi setiap hari, bahkan setelah air mulai surut dan perhatian publik perlahan beralih kepada persoalan lain.

Melihat kondisi tersebut, Lembaga Anti Narkotika (LAN) Provinsi Sumatera Barat menggerakkan aksi kemanusiaan melalui program LAN Sumbar Peduli. Di bawah kepemimpinan Firman Sikumbang, SE, LAN Sumbar mengajak seluruh pengurus, anggota, dan masyarakat luas untuk bersama-sama membantu meringankan beban saudara-saudara yang terdampak bencana di Tapan.

Gerakan ini bukan semata-mata tentang seberapa besar bantuan yang dapat di kumpulkan, melainkan tentang seberapa besar kepedulian yang mampu di tumbuhkan di tengah masyarakat. Sebab, bagi seseorang yang sedang kehilangan tempat tinggal, bantuan sederhana pun bisa menjadi penguat semangat untuk kembali menata kehidupan.

Melalui gerakan tersebut, LAN Sumbar mengumpulkan bantuan berupa pakaian layak pakai dan kebutuhan pokok atau sembako. Bantuan ini di harapkan dapat menjangkau warga yang membutuhkan, terutama keluarga yang mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari setelah bencana melanda.

Rencananya, tim LAN Sumbar akan bertolak menuju lokasi bencana pada Sabtu, 17 Oktober 2026, pukul 07.00 WIB. Seluruh peserta yang akan ikut ke lokasi di minta mengisi daftar keberangkatan untuk memudahkan koordinasi dan persiapan armada. Titik kumpul ditetapkan di Kantor LKAAM Sumatera Barat.

Bagi Firman Sikumbang, aksi kemanusiaan seperti ini merupakan wujud nyata bahwa organisasi kemasyarakatan tidak boleh hanya hadir ketika keadaan sedang baik-baik saja. Organisasi harus mampu berdiri bersama masyarakat, terutama ketika warga sedang menghadapi kesulitan dan membutuhkan uluran tangan.

Kepedulian, menurut semangat gerakan ini, tidak harus menunggu seseorang memiliki kelebihan harta. Siapa pun dapat mengambil bagian sesuai kemampuan, baik melalui sumbangan sembako, pakaian layak pakai yang masih bagus, maupun dukungan tenaga untuk membantu menyalurkan bantuan.

Sebab, tidak semua orang mampu memberikan bantuan dalam jumlah besar. Namun, ketika banyak orang menyisihkan sedikit yang mereka miliki, bantuan itu dapat terkumpul menjadi kekuatan yang berarti bagi mereka yang sedang tertimpa musibah.

Bayangkan seorang ibu yang berusaha mengembalikan kehidupan keluarganya setelah rumahnya di terjang banjir. Bayangkan seorang ayah yang harus kembali mencari nafkah di tengah kondisi lingkungan yang belum sepenuhnya pulih. Bayangkan pula anak-anak yang membutuhkan pakaian bersih, makanan, dan tempat tinggal yang aman untuk kembali menjalani hari-hari mereka.

Di tengah keadaan seperti itulah kepedulian sesama menemukan maknanya yang paling dalam.

Bantuan yang di salurkan mungkin tidak dapat menghapus seluruh kesedihan mereka. Sembako mungkin tidak bisa menggantikan rumah yang rusak, dan pakaian layak pakai tidak akan mengembalikan seluruh harta benda yang hilang. Namun, bantuan itu dapat menyampaikan sebuah pesan penting kepada para korban, mereka tidak sendirian menghadapi musibah ini.

Ada saudara sebangsa yang masih mengingat mereka. Ada tangan-tangan yang bersedia membantu. Ada hati yang tergerak untuk berbagi, meskipun tidak memiliki hubungan keluarga dengan mereka yang terdampak.

Inilah nilai kemanusiaan yang ingin di hidupkan melalui LAN Sumbar Peduli. ketika saudara kita berduka, jangan biarkan mereka menanggung kesedihan seorang diri.

Firman Sikumbang mengajak seluruh elemen masyarakat Sumatera Barat untuk membuka hati dan mengambil bagian dalam gerakan solidaritas tersebut. Menurut semangat yang dibangun LAN Sumbar, kepedulian tidak cukup hanya di sampaikan melalui kata-kata simpati, tetapi perlu diwujudkan dalam tindakan nyata yang manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat.

Ajakan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa musibah dapat menimpa siapa saja, tanpa memandang kedudukan, pekerjaan, ataupun keadaan ekonomi. Hari ini mungkin saudara kita di Tapan yang membutuhkan bantuan. Tidak seorang pun mengetahui bagaimana keadaan esok hari.

Karena itu, ketika kesempatan untuk membantu masih terbuka, jangan menunggu sampai penderitaan orang lain menjadi semakin berat.

LAN Sumbar berharap gerakan ini dapat mengetuk hati lebih banyak orang untuk menyisihkan sebagian rezekinya, mengumpulkan kebutuhan pokok, atau memberikan pakaian layak pakai bagi warga terdampak. Semakin banyak pihak yang terlibat, semakin besar pula harapan agar bantuan dapat menjangkau masyarakat yang membutuhkan.

Pada akhirnya, ukuran kepedulian bukanlah seberapa sering kita mengatakan bahwa kita mencintai sesama, melainkan seberapa jauh kita bersedia hadir ketika sesama sedang mengalami kesulitan.

Di Tapan, masih ada keluarga yang berjuang bangkit setelah bencana. Masih ada rumah yang harus di bersihkan, kebutuhan hidup yang harus di penuhi, dan kehidupan yang harus di bangun kembali.

Mereka mungkin tidak meminta banyak. Barangkali yang mereka butuhkan hari ini hanyalah makanan untuk keluarga, pakaian bersih untuk anak-anak, dan keyakinan bahwa masih ada orang-orang yang peduli terhadap nasib mereka.

"Jangan biarkan banjir membawa rumah mereka, lalu longsor meruntuhkan harapan mereka. Mari hadir, berbagi, dan membantu saudara-saudara kita di Tapan. Sebab, ketika tangan kita terulur untuk menolong orang lain, sesungguhnya kita sedang menjaga nilai kemanusiaan yang menjadi kekuatan Ranahminang yang kita cintai ini," tukas Firman (*)

×
Berita Terbaru Update