Nurlaini, SE, M.Si, Camat Koto XI Tarusan. "Ada Cinta Seorang Ibu yang Risau Akan Masa Depan Generasi Muda"
PIONIR, PESISIR SELATAN — Tidak semua pengabdian bisa di ukur dari berapa banyak kebijakan yang di buat, berapa panjang jalan yang di bangun, atau berapa banyak program pemerintahan yang berhasil di laksanakan. Ada pengabdian yang ukurannya jauh lebih dalam, yakni seberapa besar kepedulian seorang pemimpin terhadap keselamatan masyarakatnya, terutama ketika masa depan generasi muda sedang menghadapi ancaman yang tidak boleh di pandang sebelah mata.
Itulah sisi lain yang ingin di tunjukkan Nurlaini, SE, M.Si, Camat Koto XI Tarusan, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Di balik tanggung jawabnya sebagai pemimpin pemerintahan di tingkat kecamatan, tersimpan kegelisahan seorang ibu yang tidak ingin anak-anak di daerahnya kehilangan masa depan akibat ancaman peredaran gelap narkotika.
Bagi Nurlaini, menjadi camat bukan sekadar menjalankan tugas administratif, menandatangani surat, menghadiri rapat, atau memastikan roda pemerintahan berjalan sebagaimana mestinya. Namun, Ada tanggung jawab kemanusiaan yang jauh lebih besar, yaitu memastikan masyarakat yang di pimpinnya memiliki lingkungan yang aman, keluarga yang terlindungi, serta generasi muda yang dapat tumbuh dan meraih cita-cita tanpa di bayangi ancaman narkotika.
Sebab, di balik setiap anak yang tumbuh di sebuah nagari, ada orang tua yang menggantungkan harapan. Ada seorang ibu yang bangun pagi, menyiapkan kebutuhan keluarga, mendoakan anaknya sebelum berangkat sekolah, dan berharap suatu hari nanti anak itu pulang membawa kabar baik. Ada seorang ayah yang bekerja keras, mengorbankan tenaga dan waktu, demi memastikan anak-anaknya mendapatkan kehidupan yang lebih baik dari pada kehidupan yang pernah di jalaninya.
Betapa besar harapan yang di titipkan orang tua kepada anak-anak mereka. Namun, semua harapan itu dapat menghadapi ancaman ketika lingkungan tidak lagi memberikan perlindungan yang memadai terhadap bahaya narkotika. Di sinilah kegelisahan seorang Nurlaini menemukan maknanya.
Ia memahami bahwa persoalan narkotika bukan sekadar persoalan hukum yang menjadi urusan aparat penegak hukum. Lebih dari itu, persoalan ini menyangkut masa depan manusia, ketenteraman keluarga, dan keberlangsungan kehidupan sosial masyarakat. Ketika ancaman peredaran gelap narkotika memasuki lingkungan kehidupan masyarakat, yang di pertaruhkan bukan hanya keselamatan seseorang, tetapi juga harapan orang-orang yang mencintainya.
Seorang anak yang kehilangan arah bukan hanya menjadi persoalan bagi dirinya sendiri. Ada orang tua yang ikut menanggung kesedihan, ada keluarga yang berjuang mencari jalan keluar, dan ada lingkungan yang turut merasakan dampaknya. Karena itu, pencegahan harus di lakukan sebelum persoalan menjadi semakin sulit di tangani.
Bagi seorang ibu, tidak ada kesedihan yang lebih dalam dari pada melihat anak yang di cintainya kehilangan kesempatan untuk meraih masa depan. Dan bagi seorang pemimpin yang memiliki kepedulian, tidak seharusnya ada generasi muda yang di biarkan menghadapi ancaman ini sendirian.
Kesadaran itulah yang membuat Nurlaini tidak ingin tinggal diam. Ia membangun kolaborasi dengan Lembaga Anti Narkotika (LAN) Provinsi Sumatera Barat, LAN Kabupaten Pesisir Selatan, serta Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) Koto XI Tarusan untuk meningkatkan edukasi kepada masyarakat mengenai bahaya narkotika.
Langkah ini memperlihatkan bahwa persoalan besar tidak mungkin di selesaikan oleh satu pihak saja. Pemerintah kecamatan memiliki peran dalam menggerakkan masyarakat, LAN hadir dengan komitmen terhadap edukasi dan pencegahan, sementara Forkopimcam menjadi bagian penting dalam membangun koordinasi sesuai peran masing-masing.
Ketika seluruh unsur itu duduk bersama dengan tujuan yang sama, sesungguhnya yang sedang di bangun bukan hanya sebuah kerja sama kelembagaan. Lebih dari itu, sedang di tumbuhkan kesadaran bahwa keselamatan generasi muda merupakan tanggung jawab bersama.
Nurlaini menyadari, ancaman narkotika tidak cukup di hadapi dengan imbauan sesaat. Masyarakat harus mendapatkan pemahaman yang benar, keluarga perlu di perkuat, dan generasi muda harus di bekali pengetahuan agar mampu mengenali serta menghindari berbagai risiko penyalahgunaan narkotika.
Pencegahan harus di mulai dari lingkungan terdekat. Dari rumah, ketika orang tua membangun komunikasi dengan anak-anaknya. Dari sekolah, ketika guru tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kehidupan. Dari lingkungan masyarakat, ketika kepedulian tumbuh dan setiap orang bersedia mengambil bagian dalam menjaga keselamatan generasi penerus.
Pemerintah kecamatan juga memiliki peran strategis untuk mempertemukan berbagai unsur tersebut agar bergerak dalam satu tujuan. Sebab, upaya pencegahan akan lebih kuat apabila tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi berlanjut menjadi kesadaran dan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Bagi Nurlaini, kepedulian terhadap persoalan ini juga merupakan bentuk tanggung jawab moral kepada masyarakat Koto XI Tarusan. Ia tidak ingin ancaman narkotika dianggap sebagai persoalan yang jauh dari kehidupan warga, seolah-olah hanya terjadi di tempat lain atau hanya menimpa keluarga tertentu.
Tidak ada keluarga yang boleh merasa terlalu jauh dari ancaman untuk berhenti peduli. Tidak ada orang tua yang seharusnya menganggap edukasi bahaya narkotika tidak penting bagi anak-anaknya. Dan tidak ada masyarakat yang boleh merasa bahwa melindungi generasi muda merupakan tugas orang lain semata. Sebab, menjaga anak-anak hari ini berarti ikut menjaga kehidupan masyarakat pada masa depan.
Ketika Pemerintah, LAN, dan Masyarakat Menyatukan Kepedulian
Kolaborasi yang di bangun Camat Koto XI Tarusan bersama LAN Sumbar, LAN Kabupaten Pesisir Selatan, dan Forkopimcam merupakan bagian dari upaya memperluas pemahaman masyarakat tentang bahaya narkotika melalui edukasi dan pendekatan yang melibatkan berbagai unsur.
Bagi LAN Sumbar, dukungan pemerintah kecamatan memiliki arti penting dalam memperkuat gerakan Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN). Pemerintah merupakan salah satu unsur yang memiliki kedekatan dengan kehidupan masyarakat, sehingga kolaborasi dengan lembaga sosial dapat membantu memperluas jangkauan edukasi dan membangun kepedulian di tengah warga.
Ketua LAN Kabupaten Pesisir Selatan, Marwan Anas, SE, M.Si, menyampaikan apresiasi atas kepedulian Camat Koto XI Tarusan yang merangkul LAN dalam upaya meningkatkan edukasi bahaya narkotika kepada masyarakat.
Apresiasi tersebut bukan semata-mata tentang terjalinnya kerja sama antar lembaga. Lebih dari itu, keterlibatan seorang camat menunjukkan bahwa persoalan narkotika mendapat perhatian sebagai persoalan bersama yang membutuhkan keseriusan, kepedulian, dan langkah pencegahan yang berkelanjutan.
Di tengah kehidupan masyarakat, masih ada orang tua yang mungkin belum memahami sepenuhnya bagaimana mengawasi pergaulan anak. Ada generasi muda yang membutuhkan informasi yang benar agar tidak mudah terpengaruh. Ada pula keluarga yang membutuhkan dukungan ketika menghadapi persoalan terkait penyalahgunaan narkotika.
Mereka semua membutuhkan lingkungan yang tidak mudah menghakimi, tetapi bersedia memberikan pemahaman dan membuka jalan menuju pertolongan yang tepat.
Karena itu, edukasi harus di sampaikan dengan bahasa yang mudah di pahami, pendekatan yang manusiawi, dan semangat melindungi. Masyarakat perlu memahami bahaya narkotika tanpa menumbuhkan ketakutan yang berlebihan, sekaligus mengetahui bahwa pencegahan, pendampingan, dan penanganan yang tepat merupakan bagian penting dari upaya menyelamatkan kehidupan.
Inilah semangat yang perlu terus di bangun di Koto XI Tarusan, tidak menunggu persoalan membesar untuk mulai peduli, tidak menunggu sebuah keluarga mengalami kesulitan untuk membicarakan bahaya narkotika, dan tidak menunggu generasi muda kehilangan arah untuk menyadari pentingnya perlindungan sejak dini.
Sebab, di Balik Setiap Generasi, Ada Ibu yang Menaruh Harapan
Ada satu hal yang kerap luput ketika masyarakat membicarakan ancaman narkotika. di balik persoalan yang muncul, terdapat kehidupan manusia dan keluarga yang memiliki harapan.
Bayangkan seorang ibu yang setiap malam berdoa agar anaknya tumbuh menjadi orang yang baik. Bayangkan seorang ayah yang bekerja keras dengan harapan suatu hari anaknya mampu berdiri di atas kaki sendiri. Bayangkan pula anak-anak yang hari ini duduk di bangku sekolah, menyimpan cita-cita menjadi guru, dokter, polisi, tentara, pemimpin, atau menjadi apa pun yang mereka impikan.
Mereka adalah bagian dari masa depan Koto XI Tarusan. Mereka adalah harapan keluarga dan aset berharga bagi bangsa. Masa depan itu harus dijaga bersama.
Nurlaini, melalui perannya sebagai Camat Koto XI Tarusan, mengambil bagian dalam upaya membangun kepedulian tersebut. Ia tidak harus menjadi seorang ibu bagi setiap anak secara biologis untuk memahami bahwa setiap generasi muda layak mendapatkan perlindungan dan kesempatan untuk tumbuh dengan baik.
Sebab, makna keibuan tidak selalu berhenti pada hubungan darah. Dalam kehidupan bermasyarakat, kepedulian seorang ibu juga dapat hadir melalui perhatian terhadap anak-anak di lingkungannya, kegelisahan melihat ancaman yang dapat merusak masa depan mereka, serta kemauan untuk mengajak banyak pihak bergerak melakukan pencegahan.
Tentu, satu orang tidak mungkin menyelesaikan persoalan sebesar peredaran gelap narkotika sendirian. Namun, satu orang yang bersedia memulai dapat menggerakkan banyak orang untuk mengambil bagian. Satu langkah kolaborasi dapat membuka ruang edukasi yang lebih luas. Dan satu kepedulian yang di pelihara bersama dapat menjadi kekuatan untuk membangun lingkungan yang lebih aman bagi generasi muda.
Itulah mengapa kepedulian seorang pemimpin memiliki arti penting. Ketika kewenangan di gunakan untuk mempertemukan pihak-pihak yang memiliki tujuan baik, maka jabatan tidak sekadar menjadi amanah administratif, tetapi juga menjadi sarana untuk menghadirkan manfaat bagi masyarakat.
Pada akhirnya, yang ingin di selamatkan bukan sekadar nama baik sebuah daerah, melainkan masa depan anak-anak yang kelak akan meneruskan kehidupan di nagari ini. Yang ingin dijaga bukan hanya ketertiban hari ini, melainkan juga harapan para orang tua agar anak-anak mereka dapat tumbuh, belajar, bekerja, dan menjalani kehidupan dengan baik.
Nurlaini mungkin hanya satu di antara banyak camat yang mengemban tanggung jawab pemerintahan. Namun, melalui kepeduliannya terhadap edukasi bahaya narkotika dan kolaborasi bersama LAN Sumbar, LAN Kabupaten Pesisir Selatan, serta Forkopimcam, ia menunjukkan bahwa tugas seorang pemimpin dapat menjangkau persoalan yang jauh lebih dekat dengan kehidupan manusia.
Sebab, keberhasilan seorang pemimpin tidak hanya terasa ketika masyarakat melihat pembangunan yang berdiri megah. Keberhasilan juga hadir ketika masyarakat merasa di perhatikan, ketika orang tua menyadari bahwa mereka tidak sendirian dalam melindungi anak-anaknya, dan ketika generasi muda mendapatkan pengetahuan serta dukungan untuk memilih jalan kehidupan yang lebih baik.
Nurlaini, SE, M.Si, bukan hanya seorang Camat Koto XI Tarusan. Ia juga seorang ibu di tengah masyarakatnya, yang kepeduliannya mengingatkan kita bahwa menjaga generasi muda bukan pekerjaan yang bisa di tunda.
Sebab, ketika seorang anak kehilangan masa depan, yang berduka bukan hanya dirinya. Ada air mata orang tua, ada harapan keluarga yang ikut terguncang, dan ada masa depan masyarakat yang turut di pertaruhkan.
Dan ketika seorang pemimpin memilih untuk peduli sebelum semuanya terlambat, di sanalah pengabdian menemukan maknanya yang paling dalam, bukan sekadar memimpin masyarakat, tetapi ikut menjaga harapan mereka agar tetap hidup. (Firman Sikumbang)
