Prof. Dr. H. Fauzi Bahar, M.Si, Datuak Sati Pimpin Diksarmil Menwa Maharuyung Angkatan ke-49.
"60 Mahasiswa Sumbar Digembleng Jadi Generasi Berkarakter"
Kecerdasan tanpa karakter dapat kehilangan arah, sementara keberanian tanpa tanggung jawab berpotensi menimbulkan persoalan. Karena itu, pembentukan karakter generasi muda menjadi bagian penting dalam mempersiapkan calon pemimpin masa depan. Semangat inilah yang mewarnai pembukaan Pendidikan dan Latihan Dasar Militer (Diksarmil) Resimen Mahasiswa (Menwa) Maharuyung Sumatera Barat Angkatan ke-49 Tahun 2026, yang berlangsung di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Bung Hatta, Ladang Padi, Kelurahan Indarung, Kecamatan Lubuk Kilangan, Kota Padang, Minggu, 18 Oktober 2026.
Sebanyak 60 mahasiswa terpilih dari berbagai perguruan tinggi di Sumatera Barat mengikuti pendidikan yang berlangsung selama sepuluh hari tersebut. Mereka akan menjalani proses pembinaan yang menitik beratkan pada pembentukan mental, kedisiplinan, ketahanan fisik, wawasan kebangsaan, kepemimpinan, serta kemampuan bekerja sama dalam sebuah tim. Bagi para peserta, Diksarmil bukan sekadar kegiatan untuk mendapatkan pengalaman baru, melainkan kesempatan untuk mengenali kemampuan diri, mengendalikan ego, menghormati aturan, serta memahami bahwa setiap tanggung jawab harus dijalankan dengan kesungguhan.
Upacara pembukaan di mulai pukul 09.30 WIB dan di pimpin langsung oleh Letkol (Purn) Prof. Dr. H. Fauzi Bahar, M.Si, Datuak Sati, selaku Ketua Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) Sumatera Barat, sekaligus Ketua Umum Menwa Sumatera Barat.
Pembukaan berlangsung khidmat dan di hadiri sekitar 120 undangan dari unsur TNI-Polri, pemerintah daerah, perguruan tinggi, instansi terkait, serta tokoh adat. Kehadiran berbagai unsur tersebut memperlihatkan bahwa pembinaan generasi muda membutuhkan perhatian dan dukungan bersama, terutama dalam menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks.
Di bawah kepemimpinan Prof. DR. H. Fauzi Bahar Datuak Sati, M.Si pelaksanaan Diksarmil Menwa Maharuyung Angkatan ke-49 di harapkan menjadi bagian dari upaya berkelanjutan untuk menyiapkan mahasiswa yang tidak hanya unggul dalam bidang akademik, tetapi juga memiliki karakter kuat dan mampu menjalankan peran sosialnya secara bertanggung jawab. Pengalaman Fauzi Bahar sebagai purnawirawan perwira TNI, Wali Kota, Padang dua periode, tokoh adat, dan pemimpin organisasi memberikan latar tersendiri dalam mendorong pembinaan generasi muda yang mengutamakan disiplin, keteguhan prinsip, serta semangat pengabdian.
Bagi Fauzi Bahar, pendidikan dasar Menwa harus memiliki makna lebih luas dari pada sekadar pelatihan fisik dan pengenalan kedisiplinan. Pendidikan ini harus mampu membentuk pola pikir, sikap, dan perilaku mahasiswa agar lebih siap menghadapi tantangan kehidupan. Mahasiswa merupakan kelompok masyarakat terdidik yang kelak akan mengambil bagian dalam berbagai bidang, baik sebagai akademisi, profesional, aparatur negara, pengusaha, pemimpin masyarakat, maupun penggerak pembangunan di daerah masing-masing. Apa pun profesi yang mereka pilih, karakter dan integritas tetap menjadi landasan utama dalam menggunakan ilmu pengetahuan untuk kepentingan masyarakat.
Dalam pandangannya, kedisiplinan merupakan fondasi penting yang harus di tanamkan sejak dini. Disiplin bukan semata-mata kepatuhan terhadap jadwal atau instruksi, melainkan kesanggupan seseorang mengatur dirinya sendiri, menghargai waktu, menepati janji, dan menyelesaikan tanggung jawab tanpa harus terus-menerus di ingatkan. Keberhasilan, menurut prinsip pendidikan karakter yang hendak di bangun melalui Diksarmil, tidak selalu lahir dari langkah besar, tetapi sering kali tumbuh melalui kebiasaan sederhana yang di lakukan secara konsisten. Bagi mahasiswa, nilai tersebut dapat di terapkan dalam kegiatan akademik, organisasi, kehidupan keluarga, hingga pengabdian kepada masyarakat.
"Menwa Maharuyung bukan sekadar pendidikan untuk membentuk mahasiswa yang disiplin dan tangguh secara fisik, tetapi lebih dari itu, bagaimana kita membentuk generasi muda yang memiliki karakter, integritas, jiwa kepemimpinan, serta semangat pengabdian kepada bangsa dan negara. Kita ingin melahirkan mahasiswa yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki tanggung jawab moral, menghormati aturan, mampu bekerja sama, dan berani mengambil sikap yang benar, ujar Fauzi Bahar
Menurutnya, pembentukan karakter harus berjalan seiring dengan penanaman jiwa kepemimpinan. Seorang pemimpin tidak cukup hanya pandai berbicara atau mampu memberikan perintah kepada orang lain. Kepemimpinan sejati terlihat dari kemampuan memberikan teladan, mendengarkan pendapat, mengambil keputusan secara bijaksana, serta bersedia mempertanggung jawabkan setiap tindakan. Kewenangan bukanlah kesempatan untuk merasa lebih tinggi dari pada orang lain, melainkan amanah yang menuntut kejujuran dan kesediaan melayani.
“Saya selalu menekankan bahwa seorang pemimpin bukan hanya orang yang mampu memberikan perintah, tetapi orang yang mampu memberikan teladan. Kepemimpinan itu adalah amanah, bukan kesempatan untuk merasa lebih hebat dari pada orang lain. Karena itu, melalui pendidikan ini, saya berharap 60 mahasiswa yang mengikuti Diksarmil Menwa Maharuyung Angkatan ke-49 dapat menjadi generasi yang kuat mentalnya, teguh prinsipnya, santun perilakunya, serta memiliki kepedulian terhadap masyarakat,” katanya.
Pesan tersebut menjadi penting karena mahasiswa akan berhadapan dengan berbagai lingkungan dan tanggung jawab setelah menyelesaikan pendidikan. Mereka tidak hanya dituntut mampu mengembangkan diri, tetapi juga harus sanggup membangun hubungan sosial yang sehat, menghargai perbedaan, dan mengambil keputusan yang tidak merugikan orang lain. Fauzi Bahar berharap nilai-nilai kepemimpinan yang di pelajari selama Diksarmil dapat di terapkan ketika para peserta kembali ke kampus dan terlibat dalam berbagai kegiatan organisasi maupun kemasyarakatan.
Lebih jauh, pendidikan Menwa juga menjadi kesempatan bagi para peserta untuk memahami arti kebersamaan. Dalam sebuah kelompok, setiap orang mempunyai kemampuan, latar belakang, dan karakter yang berbeda. Perbedaan tidak seharusnya menjadi penghalang untuk bekerja sama, tetapi justru dapat menjadi kekuatan apabila di kelola dengan sikap saling menghormati. Keberhasilan bersama tidak dapat di bangun hanya dengan mengandalkan kemampuan individu. Dibutuhkan komunikasi, kepercayaan, kesediaan membantu, dan kemampuan menempatkan kepentingan bersama di atas keinginan pribadi.
Bagi Fauzi Bahar, mahasiswa harus memahami bahwa kekuatan sebuah organisasi tidak hanya di tentukan oleh pemimpinnya, tetapi juga oleh kesediaan setiap anggota menjalankan tanggung jawab. Organisasi yang sehat tumbuh dari rasa saling percaya, keterbukaan, dan komitmen terhadap tujuan bersama. Karena itu, Diksarmil di harapkan menjadi ruang pembelajaran bagi mahasiswa untuk mengenali pentingnya kerja sama, mengendalikan ego, serta menghargai kontribusi setiap orang.
Di tengah perubahan zaman yang berlangsung begitu cepat, pembinaan karakter generasi muda juga semakin relevan. Kemajuan teknologi informasi memberikan kesempatan luas bagi mahasiswa untuk mengembangkan pengetahuan dan kreativitas. Namun, perkembangan tersebut sekaligus menuntut kemampuan berpikir kritis, menyaring informasi, menjaga etika, dan mengendalikan diri. Generasi muda harus mampu memanfaatkan teknologi untuk kegiatan produktif tanpa kehilangan kepekaan sosial dan tanggung jawab sebagai warga negara.
Semangat bela negara yang menjadi bagian dari pembinaan Menwa juga perlu di maknai secara luas. Bela negara tidak hanya berkaitan dengan kesiapan menghadapi ancaman secara fisik, tetapi juga mencakup kepatuhan terhadap hukum, penghormatan terhadap konstitusi, pemeliharaan persatuan, kepedulian terhadap sesama, serta kesediaan memberikan kontribusi sesuai kemampuan masing-masing. Mahasiswa dapat menunjukkan kecintaan kepada Tanah Air melalui prestasi akademik, penelitian, inovasi, kegiatan sosial, dan pengabdian kepada masyarakat.
Dalam konteks Sumatera Barat, pembentukan karakter tersebut mempunyai hubungan erat dengan nilai-nilai adat dan budaya Minangkabau. Filosofi adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah menjadi salah satu landasan kehidupan masyarakat Minangkabau yang mengajarkan pentingnya keselarasan adat dan agama. Nilai-nilai tersebut mengingatkan generasi muda agar tidak hanya mengejar keberhasilan pribadi, tetapi juga menjaga martabat, menghormati sesama, serta menjalankan tanggung jawab sesuai amanah yang di berikan.
Sebagai tokoh adat yang menyandang gelar Datuak Sati, Fauzi Bahar berada dalam lingkungan kepemimpinan yang mengenal pentingnya keteladanan dan tanggung jawab sosial. Dalam kehidupan adat, penghormatan bukan semata-mata di tentukan oleh gelar atau kedudukan, melainkan juga oleh perilaku dan manfaat yang di berikan kepada masyarakat. Prinsip tersebut memiliki relevansi dengan pembentukan karakter mahasiswa. Kehormatan harus dijaga melalui tindakan, kepercayaan harus di buktikan melalui tanggung jawab, dan kepemimpinan harus di jalankan dengan kesediaan memberikan manfaat kepada orang banyak.
“Sebagai orang Minangkabau, kita memiliki nilai-nilai adat dan agama yang harus terus kita jaga. Anak muda harus memahami bahwa kecerdasan tanpa akhlak akan kehilangan arah, sementara keberanian tanpa tanggung jawab bisa membawa persoalan. Saya ingin para peserta menjadikan kedisiplinan sebagai kebiasaan, kejujuran sebagai prinsip, dan pengabdian sebagai bagian dari kehidupan mereka. Jangan hanya bangga mengenakan seragam Menwa, tetapi buktikan kebanggaan itu melalui perilaku, prestasi, dan kontribusi nyata bagi masyarakat,” ungkapnya
Nilai-nilai adat dan agama itu juga dapat menjadi landasan untuk membangun generasi muda yang santun tanpa kehilangan ketegasan, berani tanpa bersikap sombong, serta memiliki kemampuan memimpin tanpa merendahkan orang lain. Dalam kehidupan bermasyarakat, mahasiswa di harapkan mampu menjadi jembatan yang mempertemukan pengetahuan modern dengan kearifan lokal, sehingga kemajuan yang di capai tidak membuat mereka tercerabut dari akar budaya dan nilai moral yang di wariskan para pendahulu.
Pembinaan karakter tersebut turut berkaitan dengan upaya melindungi generasi muda dari ancaman penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika. Kehadiran perwakilan Badan Narkotika Nasional Provinsi Sumatera Barat dalam pembukaan Diksarmil menjadi pengingat bahwa masa depan mahasiswa perlu dijaga melalui edukasi yang benar, lingkungan pergaulan yang sehat, serta kegiatan positif yang membuka ruang pengembangan potensi diri. Mahasiswa harus memiliki keberanian untuk menolak pengaruh negatif dan kepedulian untuk mendukung teman sebaya agar tidak terjerumus dalam penyalahgunaan narkotika.
Pencegahan narkotika membutuhkan kerja bersama antara keluarga, perguruan tinggi, masyarakat, dan lembaga berwenang. Dalam hal ini, semangat kedisiplinan dan pengendalian diri yang di bangun melalui pendidikan Menwa dapat menjadi bagian dari penguatan karakter generasi muda. Mereka di harapkan tidak hanya memahami risiko penyalahgunaan narkotika, tetapi juga mampu membangun pergaulan yang sehat dan berkontribusi dalam menciptakan lingkungan yang aman serta produktif.
Pembukaan Diksarmil Menwa Maharuyung Angkatan ke-49 turut di hadiri Dandivhanratlan Sathantai Kodaeral II Letkol Marinir Afrizon Taufik, Pabandyaops Kodam TIB Mayor Inf. Parman, serta AKBP Hendra Syamsi, SH, dari Dit Intelkam Polda Sumatera Barat yang mewakili Kapolda Sumatera Barat. Hadir pula perwakilan BNN Provinsi Sumatera Barat, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat, Pemerintah Kota Padang, Satuan Polisi Pamong Praja, dan Dinas Pemadam Kebakaran Kota Padang.
Dari kalangan akademisi dan tokoh adat, hadir Rektor UIN Padang Prof. Dr. Martin Kustati, M.Pd, perwakilan UIN Bukittinggi Hariah Susanti, serta Ketua LKAAM Kota Sawahlunto Dahler Datuak Panghulu Sati. Kapolsek Lubuk Kilangan AKP Dedi Arma, SH, MH, dan Danramil 04 Luki/Lubeg Mayor Arm. Febri Musdar juga turut hadir mendukung kegiatan tersebut. Rangkaian acara berlangsung tertib dan lancar, dengan pengamanan oleh personel Polsek Lubuk Kilangan bersama personel gabungan.
Kehadiran berbagai unsur tersebut memperlihatkan bahwa pembinaan generasi muda membutuhkan dukungan lintas sektor. Perguruan tinggi berperan membangun intelektualitas dan kemampuan berpikir kritis, sementara keluarga dan masyarakat memberikan fondasi moral serta lingkungan sosial bagi pertumbuhan karakter. Aparat dan lembaga terkait memiliki peran sesuai tugas masing-masing dalam mendukung keamanan, ketertiban, dan pembinaan wawasan kebangsaan. Apabila seluruh unsur tersebut dapat berjalan beriringan, mahasiswa akan memperoleh lingkungan yang lebih mendukung untuk tumbuh menjadi generasi yang berpengetahuan, bertanggung jawab, dan mampu memberikan kontribusi positif.
Rangkaian pembukaan Diksarmil berlangsung melalui upacara resmi, penyampaian sambutan dan pengarahan, serta penyerahan simbolis tanda dimulainya pendidikan. Doa bersama dipanjatkan untuk memohon keselamatan dan kelancaran seluruh peserta serta panitia selama kegiatan berlangsung. Acara kemudian ditutup dengan sesi foto bersama sekitar pukul 10.35 WIB.
Namun, bagi Fauzi Bahar, keberhasilan pendidikan tersebut pada akhirnya tidak semata-mata di ukur dari jumlah peserta yang mampu mengikuti seluruh rangkaian kegiatan hingga selesai. Ukuran yang lebih penting adalah sejauh mana nilai-nilai yang di pelajari dapat di terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan harus mampu melahirkan perubahan perilaku, memperkuat tanggung jawab, dan menumbuhkan kesadaran bahwa setiap individu mempunyai peran dalam membangun lingkungan yang lebih baik.
Sebanyak 60 mahasiswa yang mengikuti Diksarmil Menwa Maharuyung Angkatan ke-49 membawa harapan dari kampus dan lingkungan masing-masing. Mereka diharapkan kembali dengan pemahaman yang lebih matang mengenai arti tanggung jawab, persatuan, kedisiplinan, dan pengabdian. Mereka juga diharapkan mampu menjadi penggerak kegiatan positif, memberikan contoh dalam kehidupan organisasi, serta berkontribusi bagi masyarakat sesuai kemampuan dan bidang keilmuan masing-masing.
“Saya berharap, setelah menyelesaikan pendidikan ini, mereka tidak hanya menjadi mahasiswa yang tangguh, tetapi juga menjadi pribadi yang bermanfaat bagi keluarga, kampus, nagari, bangsa, dan negara. Sebab, kehormatan seorang pemimpin tidak di ukur dari tingginya jabatan, melainkan dari seberapa besar manfaat yang dapat diberikan kepada orang banyak,” tuturnya.
Pada akhirnya, bangsa yang kuat tidak hanya dibangun oleh orang-orang yang memiliki kecerdasan tinggi, tetapi juga oleh manusia yang mampu menggunakan kecerdasannya dengan bijaksana, menjaga integritas ketika menghadapi godaan, dan tetap memegang tanggung jawab ketika memperoleh kepercayaan. Melalui Diksarmil Menwa Maharuyung Angkatan ke-49 Tahun 2026, harapan tersebut dititipkan kepada generasi muda Sumatera Barat.
Di bawah kepemimpinan Letkol (Purn) Prof. Dr. H. Fauzi Bahar, M.Si., Datuak Sati, pendidikan ini di harapkan menjadi bagian dari proses panjang pembentukan mahasiswa yang tidak hanya siap memimpin, tetapi juga siap melayani, tidak hanya berani bertindak, tetapi juga mampu mempertimbangkan akibat tindakannya, serta tidak hanya bangga menjadi bagian dari bangsa Indonesia, tetapi juga bersedia membuktikan kecintaannya melalui pengabdian nyata kepada masyarakat, bangsa, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia, tukasnya (Firman Sikumbang)
