Jejak Ketulusan YP Sefdi Roentoe, S Pd. "Guru yang Dirindukan, Pengabdian yang Tak Berkesudahan"
Bagi Sefdi Roentoe, menjadi guru bukan sekadar menjalankan kewajiban profesi. Lebih dari itu, menjadi guru adalah tentang ketulusan, kasih sayang, kesabaran, dan kesediaan memberikan perhatian kepada anak-anak yang di percayakan kepadanya. Ia memahami bahwa mendidik bukan hanya membuat murid pintar membaca, menulis, dan berhitung, tetapi juga membangun kedekatan batin agar anak-anak merasa nyaman, bersemangat, dan bahagia ketika datang ke sekolah.
Kedekatan itu tumbuh secara alami dalam kesehariannya sebagai guru, terutama ketika mengajar mata pelajaran olahraga. Di lapangan sekolah, di antara suara riang anak-anak, langkah-langkah kecil yang berlarian, dan semangat mengikuti setiap gerakan, Sefdi Roentoe membangun hubungan yang tidak sekedar terbatas pada guru dan peserta didik. Ia hadir sebagai sosok yang membuat murid-murid merasa di perhatikan, di bimbing, dan di hargai.
Bagi anak-anak itu, pelajaran olahraga bukan hanya tentang berlari, melompat, atau melakukan berbagai gerakan fisik. Ada kegembiraan tersendiri ketika mereka dapat belajar bersama guru yang mereka sayangi. Kehadiran Sefdi Roentoe yang akrab di sapa guru Edi ini seolah memberikan warna berbeda dalam keseharian mereka di sekolah. Karena itulah, ketika suatu hari ia tidak datang, suasana sekolah terasa tidak seperti biasanya. Murid-murid merindukan sosok yang selama ini menemani mereka belajar dan bermain di lapangan.
Betapa kuatnya ikatan batin itu tergambar dari sebuah ucapan sederhana yang menjadi kenangan tersendiri dalam perjalanan pengabdiannya. "Bapak, kami bimbing ke sekolah. Yang penting Bapak melihat kami saat berolahraga," ujar salah seorang murid ketika itu.
Kalimat sederhana tersebut menyimpan makna yang begitu dalam. Anak-anak itu tidak meminta sesuatu yang mewah. Mereka hanya ingin guru yang mereka sayangi hadir, melihat mereka berolahraga, membimbing mereka, dan menjadi bagian dari kegembiraan mereka di sekolah. Bagi mereka, kehadiran sang guru jauh lebih berarti dari pada sekadar berlangsungnya sebuah pelajaran.
Tidak jarang, ketika Sefdi Roentoe tidak datang ke sekolah, murid-muridnya merasa kehilangan. Bahkan, ada pula yang mendatangi kediamannya hanya untuk bertemu, sekadar menyapa, dan melepas kerinduan. Pemandangan seperti itu menjadi gambaran bahwa hubungan yang terjalin bukanlah hubungan formal yang berakhir ketika jam pelajaran selesai. Ada ikatan emosional yang tumbuh dari perhatian, ketulusan, dan kebersamaan selama bertahun-tahun.
Namun, salah satu kenangan paling mengharukan dalam perjalanan pengabdiannya terjadi pada tahun 2005. Setelah kurang lebih 17 tahun mengajar di SD Negeri 13 Taratak Tangah, Nagari Sungai Nanam, Kecamatan Lembah Gumanti Kabupaten Solok, Sefdi Roentoe mendapat tugas baru di SD Negeri 17 Salimpat, Nagari Salimpat, Kecamatan Lembah Gumanti, Kabupaten Solok, Provinsi Sumatera Barat.
Perpindahan tugas itu merupakan bagian dari perjalanan kedinasan seorang guru. Bagi Sefdi Roenteo mungkin itu adalah langkah untuk melanjutkan pengabdian di tempat yang baru. Akan tetapi, bagi murid-murid yang selama ini dekat dengannya, perpisahan tersebut ternyata bukan perkara mudah untuk di terima.
Kesedihan yang menyertai kepindahannya begitu membekas. Dalam peristiwa tersebut, lima orang murid di laporkan pingsan ketika Sefdi Roenteo pindah tugas ke SD Negeri 17 Salimpat. Peristiwa itu menjadi kenangan yang menggambarkan betapa dalamnya kedekatan emosional yang telah terbangun antara sang guru dan anak-anak didiknya.
Bayangkan, kepindahan seorang guru yang semestinya menjadi bagian dari perjalanan kedinasan justru menyisakan kenangan emosional yang begitu kuat bagi murid-muridnya. Mereka yang selama ini terbiasa melihat wajahnya, mendengar arahannya, dan mengikuti pelajaran olahraga bersamanya, harus menerima kenyataan bahwa sosok yang mereka rindukan itu tidak lagi mengajar di sekolah yang sama.
Peristiwa tersebut memperlihatkan bahwa hubungan Sefdi Roenteo dengan murid-muridnya bukan sekadar hubungan administratif antara tenaga pendidik dan peserta didik. Ada kedekatan yang tumbuh melalui kebersamaan, ada rasa sayang yang berkembang dari perhatian, dan ada kenangan yang begitu membekas sehingga perpisahan menjadi pengalaman emosional bagi anak-anak tersebut.
Sebab, bagi seorang anak, guru terkadang bukan hanya orang yang mengajarkan ilmu pengetahuan. Guru juga dapat menjadi sosok yang membuat mereka merasa nyaman, percaya diri, dan bersemangat menjalani hari-hari di sekolah. Ketika sosok yang selama ini dekat harus pergi, rasa kehilangan bisa menjadi sesuatu yang sulit mereka ungkapkan dengan kata-kata.
Perjalanan pengabdian Sefdi Roentoe di dunia pendidikan di mulai pada tahun 1988. Ia mengawali tugasnya di SD Negeri 13 Taratak Tangah, Nagari Sungai Nanam, Kecamatan Lembah Gumanti, Kabupaten Solok. Selama kurang lebih 17 tahun, dari 1988 hingga 2005, ia mendampingi anak-anak di sekolah tersebut untuk mengenal ilmu pengetahuan, belajar tentang kedisiplinan, membangun kepercayaan diri, serta memahami nilai-nilai kehidupan.
Menjadi guru sekolah dasar bukanlah pekerjaan ringan. Pada usia ketika anak-anak masih membentuk karakter dan mengenal dunia di sekitarnya, seorang pendidik di tuntut memiliki kesabaran, ketelatenan, dan kemampuan memahami beragam karakter peserta didik. Ada anak yang mudah memahami pelajaran, ada yang membutuhkan bimbingan berulang kali, ada yang aktif dan penuh semangat, serta ada pula yang memerlukan perhatian lebih agar berani menunjukkan kemampuannya.
Di tengah keberagaman itu, seorang guru tidak cukup hanya menguasai materi pelajaran. Ia juga perlu memahami perasaan anak-anak, mengetahui bagaimana mendekati mereka, serta menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Kedekatan Sefdi Roenteo dengan murid-muridnya, terutama melalui pelajaran olahraga, menjadi salah satu gambaran bagaimana hubungan yang hangat dapat tumbuh dalam proses pendidikan.
Setelah pindah tugas pada 2005, Sefdi Roentro melanjutkan pengabdiannya di SD Negeri 17 Salimpat, Nagari Salimpat, Kecamatan Lembah Gumanti, Kabupaten Solok. Di sekolah tersebut, ia kembali menjalani rutinitas sebagai seorang pendidik, membimbing anak-anak dan menjalankan tanggung jawabnya hingga memasuki masa purna bakti pada April 2025.
Jika di hitung sejak pertama kali mengajar pada 1988 hingga purna bakti pada April 2025, Sefdi telah melewati perjalanan panjang selama sekitar 37 tahun di dunia pendidikan. Tiga puluh tujuh tahun bukanlah waktu yang sebentar. Ada ribuan hari yang di lalui dengan rutinitas mengajar, ada anak-anak yang datang silih berganti, ada perubahan zaman yang di saksikan, dan ada generasi demi generasi yang tumbuh dengan membawa kenangan tentang guru mereka.
Namun, ada satu hal yang menarik dari perjalanan hidup Sefdi Roentoe. Purna bakti ternyata bukan akhir dari pengabdiannya kepada masyarakat. Setelah menuntaskan tugasnya sebagai guru, ia justru melanjutkan langkah pengabdian melalui Lembaga Anti Narkotika (LAN), dengan mengemban amanah sebagai Ketua LAN Kabupaten Solok sekaligus menjadi bagian dari Tim Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN) LAN Provinsi Sumatera Barat.
Jika dahulu ia berdiri di hadapan murid-murid untuk mengajarkan ilmu pengetahuan dan membentuk karakter generasi muda, kini ia melanjutkan perjuangan di tengah masyarakat untuk membantu melindungi generasi yang sama dari ancaman penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika.
Medan pengabdiannya memang telah berubah. Dahulu, tempatnya mengabdi adalah ruang kelas dan lapangan olahraga. Kini, pengabdiannya berlanjut melalui kegiatan sosial kemasyarakatan, edukasi, dan upaya pencegahan narkotika yang membutuhkan kepedulian banyak pihak.
Namun, pada hakikatnya, tujuan yang di perjuangkan tetap memiliki benang merah yang kuat, menyelamatkan masa depan generasi muda.
Seorang guru berjuang agar anak-anak memperoleh pendidikan yang baik, tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter, dan memiliki masa depan yang cerah. Sementara itu, seorang pegiat pencegahan narkotika berjuang agar generasi muda tidak terjerumus dalam penyalahgunaan narkotika yang dapat merusak masa depan mereka, keluarga, dan lingkungan sosialnya.
Di sinilah pengalaman panjang Sefdi Roentoe sebagai pendidik menjadi bekal yang berharga. Selama puluhan tahun berhadapan dengan anak-anak dan memahami dunia pendidikan, ia tentu telah mengenal betapa pentingnya membangun komunikasi, memberikan keteladanan, serta menanamkan kesadaran sejak dini. Nilai-nilai tersebut merupakan bagian penting dalam upaya pencegahan penyalahgunaan narkotika, yang tidak cukup hanya mengandalkan penindakan, tetapi juga membutuhkan pendidikan, perhatian keluarga, dan keterlibatan masyarakat.
Sebagai Ketua LAN Kabupaten Solok, Sefdi Roentoe memiliki ruang pengabdian untuk ikut mendorong tumbuhnya kesadaran masyarakat tentang pentingnya melindungi generasi muda. Sementara melalui keterlibatannya sebagai Tim P4GN LAN Sumbar, ia turut menjadi bagian dari gerakan yang mengedepankan pencegahan dan kepedulian terhadap masa depan anak bangsa.
Perjuangan itu tentu tidak sederhana. Pencegahan penyalahgunaan narkotika membutuhkan kerja bersama, mulai dari keluarga, sekolah, tokoh masyarakat, niniak mamak, alim ulama, pemerintah, hingga berbagai organisasi sosial. Karena itu, keterlibatan orang-orang yang memiliki pengalaman panjang dalam mendidik generasi muda menjadi salah satu kekuatan dalam membangun kesadaran bersama.
Sefdi Roentoe seolah membuktikan bahwa pengabdian tidak harus berhenti ketika seseorang memasuki masa pensiun. Selama masih memiliki kemampuan, kepedulian, dan kemauan untuk berbuat, selalu ada ruang untuk memberikan manfaat bagi orang lain.
Bagi dirinya, masa purna bakti bukan berarti berhenti bergerak. Justru, fase kehidupan itu menjadi kesempatan untuk melanjutkan pengabdian melalui jalur yang berbeda. Jika dahulu ia membantu anak-anak memahami pelajaran di sekolah, kini ia ikut mengambil bagian dalam perjuangan yang lebih luas, yakni menjaga generasi muda agar tetap memiliki masa depan yang baik.
Anak-anak yang dahulu berlarian di lapangan sekolah, mengikuti arahan saat pelajaran olahraga, dan memanggilnya dengan sebutan Bapak, kini sebagian mungkin telah tumbuh dewasa. Mereka telah menjalani kehidupan masing-masing, bekerja, membangun keluarga, dan menapaki masa depan. Namun, kenangan tentang seorang guru yang pernah membuat mereka merasa senang datang ke sekolah akan selalu memiliki tempat tersendiri dalam ingatan.
Bisa jadi, ketika mengenang masa sekolah, yang terlintas bukanlah seluruh materi pelajaran yang pernah di berikan. Mereka mungkin justru mengingat sapaan sang guru, bagaimana ia membimbing saat berolahraga, bagaimana suasana sekolah terasa menyenangkan ketika ia hadir, atau bagaimana mereka pernah datang ke rumahnya hanya untuk bertemu.
Kenangan-kenangan kecil itulah yang sering kali bertahan lebih lama dari pada sekadar catatan di buku pelajaran.
Purna bakti pada April 2025 memang menandai berakhirnya masa tugas formal Sefdi Roenteo sebagai guru. Namun, purna bakti tidak menghapus kenangan dan ikatan batin yang telah tumbuh selama puluhan tahun. Begitu pula ketika ia melanjutkan pengabdian melalui LAN, perjalanan hidupnya memperlihatkan bahwa semangat untuk berbuat baik kepada masyarakat dapat terus tumbuh dalam berbagai bentuk.
Ada kebanggaan tersendiri bagi seorang guru ketika menyadari bahwa dirinya di rindukan oleh murid-murid yang pernah di bimbingnya. Kerinduan itu tidak dapat di minta, apalagi di paksakan. Ia tumbuh dari pengalaman, perhatian, dan ketulusan yang di rasakan secara langsung oleh anak-anak.
Demikian pula dalam perjuangan sosial, kepercayaan masyarakat tidak di bangun hanya melalui jabatan. Kepercayaan tumbuh ketika seseorang bersedia hadir, mendengarkan, bekerja bersama, dan memberikan kontribusi nyata bagi kepentingan orang banyak.
Kisah YP Sefdi Roentoe menjadi pengingat bahwa pengabdian tidak selalu harus di mulai dari sesuatu yang besar. Terkadang, semuanya bermula dari kesediaan untuk hadir, membimbing, dan memberikan perhatian kepada orang lain. Dari lapangan olahraga yang sederhana, ia membangun kedekatan dengan murid-muridnya. Setelah purna bakti, ia melanjutkan kepedulian itu melalui gerakan pencegahan narkotika bersama LAN.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan seseorang tidak hanya terletak pada berapa lama ia menduduki sebuah jabatan atau menjalankan sebuah profesi. Ada ukuran lain yang jauh lebih bermakna, yakni seberapa besar manfaat yang dapat di berikan dan seberapa dalam keteladanan yang di tinggalkan.
YP Sefdi Roentoe, S.Pd, telah melewati sekitar 37 tahun perjalanan sebagai pendidik, mulai dari SD Negeri 13 Taratak Tangah hingga SD Negeri 17 Salimpat, Kecamatan Lembah Gumanti, Kabupaten Solok. Kini, setelah purna bakti, ia melanjutkan pengabdian sebagai Ketua LAN Kabupaten Solok dan Tim P4GN LAN Provinsi Sumatera Barat.
Dua bidang pengabdian yang berbeda, tetapi memiliki tujuan yang sejalan, membangun manusia dan menjaga masa depan generasi muda.
Sebab, seorang guru sejati tidak pernah benar-benar pensiun dari pengabdian. Ia mungkin berhenti mengajar di ruang kelas, tetapi semangat mendidiknya tetap hidup. Dahulu ia berjuang agar murid-muridnya tumbuh menjadi manusia berilmu dan berkarakter. Kini, ia melanjutkan perjuangan agar generasi muda terlindungi dari ancaman narkotika. Sekolah mungkin telah menjadi bagian dari masa lalunya, tetapi pengabdian kepada masyarakat tetap menjadi bagian dari perjalanan hidupnya. (Firman Sikumbang)
